Ramadan 2026

11 Ramadan: Mengenang 'Amul Huzni', Hari Wafatnya Siti Khadijah di Pangkuan Rasulullah

11 Ramadan: Mengenang wafatnya Siti Khadijah, istri tercinta Nabi. Simak kisah haru sang Ummul Mukminin yang wafat dalam kesederhanaan mutlak.

|
Penulis: Siti Umnah | Editor: Siti Umnah
Ilustrasi/AI
ILUSTRASI - 11 Ramadan: Mengenang wafatnya Siti Khadijah, istri tercinta Nabi. Simak kisah haru sang Ummul Mukminin yang wafat dalam kesederhanaan mutlak. 

Ringkasan Berita:
  • Pada 11 Ramadan tahun ke-10 kenabian, Rasulullah SAW kehilangan sosok pendukung utama dakwahnya, Siti Khadijah binti Khuwailid, yang wafat dalam kesederhanaan setelah mengorbankan seluruh hartanya untuk Islam
  • Peristiwa ini menandai awal dari Amul Huzni (Tahun Kesedihan), meninggalkan duka mendalam bagi Nabi
  • Hingga akhir hayatnya, Rasulullah selalu mengenang Khadijah sebagai istri yang setia, penenang hati, dan pemberi keyakinan di saat semua orang menentang

SRIPOKU.COM - Tanggal 11 Ramadan tahun ke-10 kenabian menjadi catatan paling pilu dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW.

Di hari itulah, sang penyokong utama dakwah sekaligus istri tercinta, Siti Khadijah binti Khuwailid, mengembuskan napas terakhirnya.

Peristiwa ini menandai awal dari Amul Huzni atau Tahun Kesedihan bagi Baginda Nabi.

Baca juga: Momentum Ramadan Kembali pada Jiwa yang Tenang  di Tengah Kegelisahan Sosial

Detik-Detik Terakhir di 11 Ramadan

Berdasarkan catatan Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliky dalam kitab Al-Busyro fil Manaqib Sayyidati Khodijah al-Kubro, Khadijah berpulang tepat pada hari ke-11 bulan suci Ramadan.

Menjelang ajalnya, suasana haru menyelimuti kediaman Rasulullah.

Khadijah, perempuan yang dahulu merupakan bangsawan terkaya di Makkah, wafat dalam kondisi yang sangat sederhana.

Pakaian yang dikenakannya di akhir hayat memiliki 83 tambalan, sebuah bukti nyata bagaimana seluruh kekayaannya telah habis dihibahkan untuk kejayaan Islam.

Wasiat yang Menggetarkan Langit

Di sisa napasnya pada hari ke-11 Ramadan itu, Khadijah menyampaikan permohonan maaf yang menggetarkan jiwa kepada Rasulullah.

Ia merasa belum cukup berbakti meski telah menyerahkan segalanya.

Khadijah bahkan berwasiat:

"Wahai Rasulullah, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai namun tidak memperoleh jembatan, maka galilah lubang kuburku. Jadikanlah tulang-belulangku sebagai jembatan supaya engkau bisa melanjutkan dakwahmu."

Salam dari Allah dan Lima Kain Kafan

Ketulusan Khadijah di hari wafatnya dibalas langsung oleh Allah SWT.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved