Ramadan 2026
Kultum 8 Ramadan 1447 H Menag Nasaruddin Umar: Menghindari Skandal Spiritual
Mendengarkan cerita itu maka Nabi mengatakan sang ahli ibadah itu penghuni neraka dan perempuan yang karena ketulusannya.
SRIPOKU.COM - Dalam lintasan sejarah dunia Islam, skandal spiritual menyebabkan jatuhnya sejumlah makhluk dari langit kebahagiaan ke bumi penderitaan.
Malaikat jatuh karena mereka membangkan (aba) dan takbut (istikbar). Malaikat turun ke Baitul Ma’mur dari ‘Arasy karena mempertanyakan kebijakan Tuhan (over kritis) dan menepuk dada sebagai ahli ibadah (al-‘alin), dan manusia jatuh kebumi karena tidak kuat menahan nafsu.
Dalam sebuah hadis diceritakan di dalam kitab Ihya Ulum al-Din karya Imam Al-Gazali,
seorang alim dan ahli ibadah yang semata-mata mencurahkan waktu dan pikirannya untuk
mendekatkan diri kepada Allah SWT Ia banyak mengasingkan diri dari keramaian demi untuk
menghindari kemungkinan terjadinya kontaminasi dosa dari orang-orang awam.
Suatu ketika seorang pelacur mencari ulama untuk curhat dan sekaligus meminta nasihat bagaimana meninggalkan dunia hitam yang selama ini degelutinya.
Ia juga menanyakan apakah masih harapan Tuhan memaafkan dan menerima tobatnya setelah malang melintang hidupnya di tengah lumpur dosa.
Mendengarkan keinginan itu, sang ahli ibadah itu menolak harapan perempuan nakal itu dengan mengatakan, aku tidak mau menodai diriku dengan berkomunikasi orang kotorseperti itu.
Mendengarkan cerita itu maka Nabi mengatakan sang ahli ibadah itu penghuni neraka
dan perempuan yang karena ketulusannya ingin bertaubat adalah penghuni syurga. Subhanallah.
Riwayat ini mengingatkan kita, kriteria kualitas keberagamaan seseorang tidak diukur dari banyaknya ibadah mahdhah yang dilakukan tetapi ibadah sosial, seperti memperhatikan nasib fakir miskin dan anak yatim piatu.
Bahkan, celakalah bagi orang salat yang tidak membawa dampak sosial kemasyarakatan.
Aktivitas ibadah dan spiritual yang dilakukan tanpa memperdulikan lingkungan masyarakat di mana ia berada malah dikhawatirkan terjebak dengan apa yang disebut dengan ego spiritual atau kesombongan spiritual.
Ego spiritual ialah orang-orang yang terlalu mengedepankan hubungan vertikalnya dengan Tuhan tanpa mau tahu lingkungan masyarakat sekitarnya.
Bahkan ia cenderung menghindarinya karena seolah-olah dirinya sudah tidak selevel dengan mereka. Ia mengklaim dirinya sebagai orang-orang kelas atas dalam dunia spiritual.
Ia memilih-milih sahabat dan menghindari orang-orang yang justru memelukan perhatian dan kasih sayang serta bimbingan.
Jika orang-orang ini dijauhi lantas mereka semakin jauh dengan Tuhan, sementara kita dengan
asyiknya beribadah sendirian tanpa kehadiran mereka yang boleh jadi menyita waktu, tenaga,
pikiran, dan materi, maka kita termasuk kategori ego spiritual (inniyyah).
Keangkuhan dan kesombongan spiritual tak ada ubahnya dengan kesombongan duniawi yang lebih menekankan kebanggaan individu.
| Sehari Jelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Kue Rp 5 Ribu Jadi Primadona di Pasar 10 Ulu Palembang |
|
|---|
| 4 Jenis Sakit di 10 Hari Terakhir Ramadan, Pertanda Doa Diijabah dan Dosa Digugurkan oleh Allah Swt |
|
|---|
| Keutamaan Salat Tarawih Malam Ke-29: Meraih Pahala Setara Seribu Haji Mabrur |
|
|---|
| Ramadan Segera Berakhir: Momen Terakhir Memaksimalkan Ibadah dan Introspeksi Diri |
|
|---|
| Keutamaan Salat Tarawih Malam Ke-28: Mengangkat Derajat di Surga yang Tertinggi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Kultum-Nasaruddin-Umar-puasa-kedelapan-Ramadan-2026-Menghindari-Skandal-Spiritual.jpg)