Modul Ajar
CONTOH Modul Ajar Deep Learning Geografi Kelas 11 SMA, Bab 2 Keragaman Hayati
Modul Ajar Deep Learning Geografi Kelas 11 SMA Bab 1 Bab 2 Keragaman Hayati
Penulis: Rizka Pratiwi Utami | Editor: Rizka Pratiwi Utami
SRIPOKU.COM - Berikut referensi Modul Ajar Deep Learning Geografi Kelas 11 SMA Semester 1 dan 2 yang merupakan kurikulum terbaru.
Berdasarkan buku teks pelajaran Geografi Kelas 11 SMA Semester 1 dan 2 Kurikulum Merdeka terdapat 4 Bab materi yang nantinya akan di pelajari, diantaranya yaitu sebagai berikut.
Modul Ajar Deep Learning Geografi Kelas 11 SMA Bab 1 Bab 2 Keragaman Hayati
Baca juga: CONTOH Modul Ajar Deep Learning Geografi Kelas 11 SMA, Bab 1 Posisi Strategis Indonesia
MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : IPS (GEOGRAFI)
BAB 2: KERAGAMAN HAYATI
A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah : .....................................................................................
Nama Penyusun : .....................................................................................
Mata Pelajaran : IPS (Geografi)
Kelas / Fase /Semester : XI/ F / Ganjil
Alokasi Waktu : 9 JP (3 Pertemuan @ 3 JP)
Tahun Pelajaran : 20.. / 20..
B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
Peserta didik pada umumnya telah memiliki pengetahuan dasar tentang lingkungan alam dari jenjang SMP atau mata pelajaran Geografi/Biologi sebelumnya di kelas X, seperti jenis-jenis hewan dan tumbuhan umum, serta pentingnya menjaga lingkungan. Mereka mungkin juga sudah familiar dengan berita-berita mengenai isu lingkungan, seperti deforestasi atau kepunahan spesies. Keterampilan dasar seperti mengamati, mengidentifikasi, dan menyajikan informasi sederhana diharapkan sudah dimiliki. Namun, pemahaman mendalam tentang konsep keragaman hayati (tingkat gen, spesies, ekosistem), faktor-faktor yang memengaruhi persebarannya, manfaatnya, serta upaya konservasi yang lebih terstruktur, mungkin masih perlu dikembangkan. Minat terhadap isu lingkungan hidup dan konservasi dapat bervariasi, sehingga perlu distimulasi melalui fenomena nyata yang menarik dan relevan dengan kehidupan mereka.
C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
Materi "Keragaman Hayati" pada Bab 2 ini memiliki karakteristik sebagai berikut:
Jenis Pengetahuan: Materi ini mencakup pengetahuan konseptual (definisi keragaman hayati, jenis-jenisnya, persebaran), prosedural (analisis data persebaran, identifikasi ancaman), serta kontekstual/aplikatif (identifikasi manfaat, perumusan upaya konservasi).
Relevansi dengan Kehidupan Nyata: Sangat relevan karena keragaman hayati adalah bagian integral dari kehidupan manusia, menyediakan sumber daya (pangan, obat-obatan), menjaga keseimbangan ekosistem, dan memiliki nilai estetika serta budaya. Isu kehilangan keragaman hayati adalah ancaman global yang berdampak lokal.
Tingkat Kesulitan: Cukup kompleks karena melibatkan pemahaman konsep-konsep ekologi, biogeografi, klasifikasi, serta analisis hubungan sebab-akibat antar komponen lingkungan. Perlu kemampuan observasi, analisis, dan sintesis informasi.
Struktur Materi: Terstruktur mulai dari pengertian keragaman hayati (gen, spesies, ekosistem), faktor-faktor yang memengaruhi persebaran flora dan fauna (iklim, edafik, topografi, biotik), persebaran keragaman hayati di Indonesia (tipe Asiatis, Australis, Peralihan), manfaat keragaman hayati, ancaman terhadap keragaman hayati, dan upaya pelestarian/konservasi (in situ dan ex situ).
Integrasi Nilai dan Karakter: Materi ini sangat kuat mengintegrasikan nilai-nilai seperti kepedulian lingkungan, tanggung jawab (terhadap keberlanjutan sumber daya alam), cinta tanah air (melalui kekayaan hayati Indonesia), berpikir kritis (menganalisis ancaman dan solusi), serta kolaborasi (dalam upaya konservasi).
D. DIMENSI PROFIL LULUSAN PEMBELAJARAN
Berdasarkan tujuan pembelajaran, dimensi profil lulusan yang akan dicapai dalam pembelajaran ini adalah:
Penalaran Kritis: Peserta didik akan menganalisis faktor-faktor persebaran, ancaman, dan mengevaluasi efektivitas upaya konservasi keragaman hayati.
Kreativitas: Peserta didik akan merumuskan ide-ide inovatif untuk konservasi atau pemanfaatan berkelanjutan keragaman hayati.
Kolaborasi: Peserta didik akan bekerja sama dalam kelompok untuk mengumpulkan data, menganalisis isu, dan merumuskan ide-ide solusi konservasi.
Komunikasi: Peserta didik akan menyampaikan hasil analisis, ide, dan argumen tentang keragaman hayati dan konservasinya secara lisan maupun tertulis dengan jelas.
Kewargaan: Peserta didik akan mengembangkan kesadaran dan kepedulian terhadap pentingnya menjaga keragaman hayati sebagai aset nasional dan global, serta memahami peran mereka sebagai warga negara yang bertanggung jawab.
DESAIN PEMBELAJARAN
A. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP) NOMOR : 32 TAHUN 2024
Pada akhir Fase F, peserta didik mampu menganalisis konsep keragaman hayati pada berbagai tingkatan (gen, spesies, ekosistem), mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi persebarannya secara geografis, mengevaluasi manfaat dan ancaman terhadapnya, serta merumuskan strategi konservasi yang berkelanjutan di Indonesia dan global.
B. LINTAS DISIPLIN ILMU YANG RELEVAN
Biologi: Konsep klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, interaksi makhluk hidup, evolusi, genetika.
Kimia: Siklus biogeokimia, komposisi tanah dan air yang memengaruhi flora/fauna.
Sosiologi/Antropologi: Keterkaitan manusia dengan lingkungan, kearifan lokal dalam konservasi, konflik pemanfaatan sumber daya.
Pendidikan Kewarganegaraan: Peran pemerintah dan masyarakat dalam menjaga lingkungan, hukum lingkungan.
Sejarah: Perubahan lingkungan dan kepunahan spesies di masa lalu.
Matematika: Analisis data sederhana (misalnya, jumlah spesies).
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Pertemuan 1 (3 JP): Konsep & Persebaran Keragaman Hayati
2.1 Peserta didik mampu menjelaskan konsep keragaman hayati pada tingkat gen, spesies, dan ekosistem dengan benar, setelah membaca buku teks dan diskusi kelompok.
2.2 Peserta didik mampu menganalisis faktor-faktor geografis (iklim, edafik, topografi, biotik) yang memengaruhi persebaran flora dan fauna di Indonesia.
2.3 Peserta didik mampu mengidentifikasi karakteristik persebaran flora dan fauna di Indonesia (tipe Asiatis, Australis, dan Peralihan) serta menyebutkan contoh spesies di masing-masing wilayah.
Pertemuan 2 (3 JP): Manfaat & Ancaman Keragaman Hayati
2.4 Peserta didik mampu mengevaluasi berbagai manfaat keragaman hayati bagi kehidupan manusia dan lingkungan (ekonomi, ekologi, medis, estetika, budaya).
2.5 Peserta didik mampu menganalisis berbagai ancaman terhadap keragaman hayati di Indonesia (misalnya, deforestasi, perburuan ilegal, perubahan iklim, polusi, spesies invasif).
2.6 Peserta didik mampu memprediksi dampak yang terjadi apabila ancaman terhadap keragaman hayati tidak ditangani dengan baik.
Pertemuan 3 (3 JP): Upaya Konservasi & Proyek Pelestarian
2.7 Peserta didik mampu menjelaskan perbedaan dan contoh upaya konservasi in situ dan ex situ.
2.8 Peserta didik mampu mengevaluasi efektivitas berbagai upaya konservasi yang telah dilakukan pemerintah dan masyarakat.
2.9 Peserta didik mampu merancang dan mempresentasikan ide proyek inovatif untuk pelestarian keragaman hayati di lingkungan sekitar atau tingkat lokal.
D. TOPIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
"Mengapa Harimau Sumatera hanya ada di Sumatera, bukan di Jawa?"
"Apa yang terjadi jika semua hutan di Kalimantan habis?"
"Mengapa Komodo hanya ada di NTT?"
"Bagaimana cara kita melindungi hewan-hewan langka agar tidak punah?"
"Apa manfaat hutan mangrove di daerah pesisir bagi kita?"
"Apa saja jenis-jenis tanaman atau hewan unik yang ada di daerah sekitar kita?"
E. KERANGKA PEMBELAJARAN
PRAKTIK PEDAGOGIK:
Metode Pembelajaran: Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning) dan Diskusi Kelompok.
Eksplorasi Lapangan (Observasi Lingkungan Sekitar): Peserta didik dapat mengamati jenis-jenis tumbuhan atau hewan di lingkungan sekolah/sekitar rumah, atau mengunjungi taman kota/kebun raya lokal (jika memungkinkan).
Wawancara (Opsional/Simulasi): Peserta didik dapat mensimulasikan wawancara dengan penjaga kebun binatang/kebun raya, petugas konservasi, atau mencari informasi dari video wawancara yang sudah ada mengenai upaya konservasi.
Presentasi: Peserta didik akan mempresentasikan hasil proyek mereka (misalnya, desain kampanye konservasi, model ekosistem mini) di depan kelas.
MITRA PEMBELAJARAN:
Lingkungan Sekolah: Guru Biologi (untuk konsep ekosistem, klasifikasi), Guru Seni Budaya (untuk desain visual proyek).
Lingkungan Luar Sekolah: Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Taman Nasional/Hutan Konservasi (melalui informasi daring), Kebun Binatang/Kebun Raya, Komunitas Peduli Lingkungan lokal.
Masyarakat: Tokoh masyarakat yang terlibat dalam pelestarian lingkungan, petani lokal yang menerapkan pertanian berkelanjutan.
LINGKUNGAN BELAJAR:
Ruang Fisik: Ruang kelas (untuk diskusi, presentasi), perpustakaan (untuk mencari referensi), area taman sekolah/lingkungan sekitar (untuk observasi).
Ruang Virtual: Pemanfaatan platform Google Classroom untuk berbagi materi, forum diskusi daring, mengumpulkan laporan, dan memberikan umpan balik. Situs web Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), WWF Indonesia, atau lembaga konservasi lainnya sebagai sumber data dan informasi.
Budaya Belajar:
Kolaboratif: Peserta didik bekerja sama dalam kelompok untuk mengumpulkan data, menganalisis isu, dan merumuskan solusi konservasi.
Berpartisipasi Aktif: Peserta didik didorong untuk bertanya, berpendapat, dan berkontribusi aktif dalam setiap sesi pembelajaran dan diskusi.
Rasa Ingin Tahu: Guru memancing rasa ingin tahu peserta didik melalui gambar/video keindahan alam dan isu-isu lingkungan aktual.
PEMANFAATAN DIGITAL:
Perpustakaan Digital: Mengakses jurnal ilmiah, artikel berita, laporan survei tentang keragaman hayati dari sumber terpercaya (misalnya, situs KLHK, LIPI/BRIN, jurnal daring).
Forum Diskusi Daring: Menggunakan fitur diskusi di Google Classroom untuk berbagi ide, bertanya, dan memberikan masukan antar peserta didik atau kepada guru.
Penilaian Daring: Menggunakan Google Forms untuk kuesioner asesmen awal atau tes diagnostik.
Kahoot/Mentimeter: Digunakan sebagai ice-breaker, kuis interaktif, atau untuk mengumpulkan umpan balik singkat dari peserta didik secara anonim.
Google Classroom: Platform utama untuk manajemen kelas, distribusi materi, pengumpulan tugas, dan komunikasi.
Situs Web Lembaga Konservasi: Menggunakan situs resmi WWF Indonesia, BKSDA, atau taman nasional untuk mencari informasi tentang spesies terancam, upaya konservasi, atau data keragaman hayati.
F. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
Mindful Learning (Berkesadaran):
Guru memulai dengan menampilkan gambar/video pemandangan alam Indonesia yang indah dengan keragaman hayati tinggi dan gambar/video kerusakan lingkungan (misalnya, deforestasi, sampah di laut).
Guru mengajukan pertanyaan pemantik: "Apa perasaanmu saat melihat gambar-gambar ini? Mengapa hewan dan tumbuhan itu penting bagi kita? Apa yang akan terjadi jika semua keragaman itu hilang?" (Memicu kesadaran akan pentingnya keragaman hayati dan ancamannya).
Meaningful Learning (Bermakna):
Guru mengaitkan materi dengan berita terkini tentang isu lingkungan atau spesies langka yang terancam.
Guru menekankan bahwa pemahaman tentang keragaman hayati adalah dasar untuk menjadi generasi yang peduli dan mampu berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan.
Joyful Learning (Menggembirakan):
Guru dapat melakukan kuis interaktif singkat menggunakan Kahoot atau Mentimeter untuk menguji pengetahuan awal tentang hewan/tumbuhan endemik Indonesia atau istilah lingkungan sederhana.
| Contoh Modul Ajar Deep Learning Bahasa Indonesia Fase A Kelas 1 SD BAB 8 Di Sekitar Rumah Semester 2 |
|
|---|
| Contoh Modul Ajar Deep Learning Bahasa Indonesia Fase A Kelas 1 SD Bab 7 Aku Ingin Semester 2 |
|
|---|
| Contoh Modul Ajar Deep Learning Bahasa Indonesia Fase A Kelas 1 SD Bab 6 Temanku Berbeda Semester 2 |
|
|---|
| Contoh Modul Ajar Deep Learning Bahasa Indonesia Fase A Kelas 1 SD Bab 5 Teman Baru Semester 2 |
|
|---|
| Contoh Modul Ajar Deep Learning Informatika Kelas 11 SMA, Bab 6 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/CONTOH-Modul-Ajar-Deep-Learning-Geografi-Kelas-11-SMA-Bab-2-Keragaman-Hayati.jpg)