Opini
Dari Kayuagung ke Moskow, Perjalanan Anak Sumsel Mengubah Nasib di Rusia
Dari pasar di Desa Celikah hingga jadi CEO di Rusia. Simak kisah inspiratif anak Sumsel menembus Rusia dengan tekad dan kemandirian.
Ringkasan Berita:
- Berani Bermimpi Besar: Lahir di desa kecil bukan hambatan. Mimpi ke luar negeri tetap dijaga meski akses informasi dan ekonomi awalnya sangat terbatas.
- Kerja Keras & Mandiri: Sempat bekerja di pasar demi modal kuliah. Menjalani peran ganda sebagai guru dan mahasiswa demi pendidikan yang lebih baik.
- Adaptasi adalah Kunci: Dari Jakarta ke Malaysia hingga Rusia, kemampuan beradaptasi dan belajar bahasa baru menjadi modal utama menembus pasar global.
Oleh: Ihsannudin
(Founder San Ruskindo International)
SRIPOKU.COM - Merantau adalah kata yang dulu terasa menakutkan bagi saya. Sebagai anak kampung yang lahir dan besar jauh dari hiruk-pikuk kota, saya tidak pernah benar-benar membayangkan suatu hari akan tinggal di luar negeri, menempuh pendidikan hingga jenjang magister di Rusia, lalu membangun bisnis internasional sendiri.
Saya lahir di Desa Celikah, Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan pada tahun 1990, dari keluarga sederhana. Orang tua saya adalah pedagang kecil. Saya tumbuh seperti kebanyakan anak Sumsel lainnya, dengan kehidupan yang sederhana namun penuh mimpi-mimpi kecil tentang masa depan yang lebih baik.
Awal mula mimpi besar
Meski berasal dari keluarga biasa, saya bersyukur bisa menempuh pendidikan di SMAN 1 Kayuagung, salah satu SMA favorit di daerah kami. Pada masanya, sekolah itu bahkan menjadi sekolah percontohan RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional).
Dari situlah untuk pertama kalinya muncul mimpi besar dalam diri saya: suatu hari ingin pergi ke luar negeri dan berkarier di tingkat internasional.
Namun, pada masa itu mimpi tersebut terasa sangat jauh. Teknologi dan akses informasi belum semudah sekarang. Lingkungan tempat saya tumbuh juga membuat kesempatan ke luar negeri terdengar seperti sesuatu yang mustahil.
Setelah lulus SMA pada tahun 2009, kondisi ekonomi keluarga belum memungkinkan saya langsung melanjutkan kuliah. Saya pun memilih bekerja terlebih dahulu di pasar, membantu di toko kelontong untuk mengumpulkan modal dan tetap menjaga mimpi yang sudah mulai tumbuh sejak SMA.
Kuliah sambil mengajar
Di tengah keterbatasan itu, saya memberanikan diri mengatakan kepada Ibu saya bahwa saya ingin merantau dan melanjutkan pendidikan. Dengan modal seadanya dan tekad yang besar, pada tahun 2011 saya pindah ke Palembang. Saya tinggal dan memulai kehidupan baru di kota tersebut, dibantu oleh teman SMA yang lebih dulu kuliah di sana.
Perjalanan kuliah bukanlah sesuatu yang mudah. Saya harus berjuang membiayai hidup sendiri sekaligus menyelesaikan pendidikan. Saya akhirnya diterima di Universitas PGRI Palembang dan mengambil jurusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris. Selama kuliah, saya juga sempat mengajar sebagai Guru Bahasa Inggris di SMA PGRI 2 Palembang.
Saat itu hidup saya berjalan seperti kebanyakan orang pada umumnya: pagi mengajar, siang hingga malam kuliah, lalu membagi waktu untuk mengerjakan tugas dan menyelesaikan skripsi. Ada banyak masa lelah dan tekanan, karena saya harus menjalani peran sebagai mahasiswa sekaligus guru dalam waktu bersamaan. Namun justru dari masa-masa itulah saya belajar tentang kerja keras, tanggung jawab, dan arti bertahan dalam keterbatasan.
Semua perjuangan itu akhirnya terbayar ketika saya berhasil menyelesaikan pendidikan S1 pada tahun 2015. Dari titik itulah perjalanan hidup saya perlahan mulai berubah, membuka jalan menuju mimpi-mimpi yang dulu terasa mustahil bagi seorang anak desa dari Celikah, Kayuagung.
Merambah Ibu Kota dan Dunia Startup
Setelah lulus kuliah, dalam diri saya selalu ada rasa penasaran tentang dunia luar. Saya ingin melihat kehidupan di negara lain, mempelajari budaya baru, sekaligus menguji diri sendiri: apakah saya mampu hidup jauh dari kampung halaman dan keluarga.
Pada tahun 2015, akses informasi melalui internet mulai semakin mudah. Saya pun aktif mencari berbagai peluang kerja di luar negeri melalui situs online. Namun saat itu, usaha tersebut belum membuahkan hasil. Meski begitu, keinginan untuk merantau tidak pernah hilang. Saya justru merasa harus melangkah lebih jauh lagi untuk mengejar mimpi tersebut.
Dengan tabungan seadanya, saya meminta izin kepada Ibu untuk pindah ke Jakarta. Kebetulan, ada teman kuliah yang lebih dulu tinggal di sana, sehingga saya memberanikan diri merantau ke ibu kota. Kehidupan di Jakarta menjadi fase perjuangan yang sangat berat sekaligus penuh pelajaran.
Selama hampir satu bulan, saya berkeliling Jakarta mencari pekerjaan, mengirim lamaran secara online maupun datang langsung ke berbagai perusahaan.
Saat itu saya sempat dipanggil interview untuk posisi yang berkaitan dengan pengurusan visa Australia. Saya juga mencoba melamar ke beberapa kedutaan asing di Jakarta karena keinginan saya untuk bekerja di luar negeri sangat besar. Modal utama yang saya miliki saat itu hanyalah kemampuan Bahasa Inggris yang saya pelajari selama kuliah. Namun saya sadar bahwa saya tidak bisa terlalu memilih pekerjaan, sehingga saya juga melamar berbagai posisi lain seperti admin dan customer service.
Tahun 2015–2016 merupakan masa berkembang pesatnya perusahaan startup di Indonesia. Di tengah perjuangan tersebut, saya akhirnya diterima bekerja di salah satu perusahaan e-commerce terbesar di Indonesia, yaitu Blibli. Pengalaman bekerja di sana membuka wawasan baru bagi saya tentang dunia digital, teknologi, dan budaya kerja modern.
Ambisi ke Eropa
Di sela-sela bekerja, saya sempat kembali dipanggil interview oleh salah satu kedutaan asing di Jakarta. Sejak saat itu, saya semakin aktif mencari peluang kerja ke luar negeri melalui internet. Saya mulai mencoba melamar ke berbagai perusahaan di Malaysia dan Singapura.
Perjalanan tersebut akhirnya membawa saya bekerja di Malaysia pada tahun 2018, di salah satu perusahaan startup digital yang bergerak di bidang sosial media dan teknologi informasi. Di sanalah salah satu titik balik terbesar dalam hidup saya dimulai.
Tinggal di luar Indonesia membuat saya mulai memahami kehidupan internasional secara lebih luas. Namun karena cuaca Malaysia masih sangat mirip dengan Indonesia, saya kembali merasa penasaran: bagaimana rasanya tinggal di negara dengan empat musim dan musim dingin yang sesungguhnya?
Menjemput Peluang Beasiswa ke Rusia
Dari rasa penasaran sederhana itulah saya mulai mencari berbagai peluang untuk pindah ke Eropa atau negara lain yang memiliki budaya dan lingkungan yang benar-benar berbeda. Saya kemudian aktif mencari informasi tentang beasiswa luar negeri. Hingga suatu hari, secara tidak sengaja saya menemukan video YouTube tentang beasiswa Pemerintah Rusia. Dari situlah perjalanan baru saya dimulai.
Saya mulai mempelajari peluang kuliah di Rusia, mencari informasi universitas, budaya, hingga kehidupan mahasiswa internasional di sana. Semua proses itu saya jalani sendiri melalui internet, sambil tetap bekerja dan mempersiapkan diri.
Tahun 2020 menjadi salah satu momen paling penting dalam hidup saya karena saya resmi menjadi penerima beasiswa Pemerintah Rusia. Namun, karena pandemi Covid-19 masih berlangsung saat itu, saya baru benar-benar pindah ke Rusia pada tahun 2021.
Adaptasi dan Studi Magister di Moskow
Datang dan hidup di Rusia bukanlah perkara mudah. Saya harus belajar bahasa Rusia dari nol, beradaptasi dengan budaya baru, menghadapi cuaca ekstrem, serta menjalani kehidupan yang sangat berbeda dibandingkan Indonesia. Tetapi justru dari pengalaman itulah saya merasa banyak berkembang sebagai manusia.
Saya kemudian melanjutkan pendidikan S2 Master of Business Informatics dengan spesialisasi Electronic Business and Digital Innovation di HSE University, salah satu universitas terbaik di Rusia yang dikenal sangat kuat di bidang bisnis dan teknologi.
Selama kuliah, saya tidak hanya fokus belajar di kelas. Saya juga bekerja secara online sambil mencoba memahami bagaimana masyarakat Rusia hidup, bekerja, dan membangun relasi. Dari pengalaman itu saya belajar bahwa dalam kehidupan internasional, kemampuan beradaptasi sering kali jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan akademik.
Memahami karakter dan kehidupan di Rusia
Hal inilah yang membuat saya betah tinggal di Rusia. Memang ada berbagai tantangan sejak Rusia terkena sanksi Barat. Beberapa aplikasi internasional menjadi terbatas, kartu Visa dan Mastercard asing tidak dapat digunakan secara normal, dan terkadang harus menggunakan VPN untuk mengakses layanan tertentu. Namun di sisi lain, saya melihat Rusia, khususnya Moskow, memiliki sistem transportasi yang sangat modern, tertata, dan nyaman.
Karakter masyarakat Rusia menurut saya juga cukup berbeda dengan masyarakat Indonesia. Mereka cenderung lebih terbuka dan berbicara apa adanya, sehingga terkadang terlihat dingin pada awalnya. Namun ketika sudah saling mengenal, mereka bisa menjadi pribadi yang sangat loyal dan suka membantu.
Saya percaya kemampuan berbahasa Rusia menjadi salah satu kunci terbesar yang membuat saya dapat diterima dan berkembang di sana.
Membangun bisnis tour operator internasional
Pada tahun 2023, saya berhasil menyelesaikan pendidikan master dan langsung mendapatkan Permanent Residence Rusia melalui jalur lulusan pendidikan. Setelah itu, saya mulai berpikir: apa yang bisa saya bangun dari pengalaman selama tinggal di Rusia? Jawabannya ternyata datang dari masalah yang dialami banyak orang.
Sejak Rusia memberlakukan sistem E-Visa untuk 55 negara, termasuk Indonesia, minat wisatawan Indonesia untuk berkunjung ke Rusia meningkat sangat pesat. Namun banyak wisatawan Indonesia masih mengalami kesulitan dalam mengatur perjalanan, mulai dari pemesanan hotel, pembayaran internasional, transportasi, hingga penyusunan itinerary. Dari situlah saya melihat peluang usaha.
Pada tahun yang sama, saya mendirikan tour operator resmi yang terdaftar di Rusia dan Indonesia bernama San Ruskindo International. Saat ini saya menjabat sebagai CEO sekaligus Founder perusahaan tersebut.
Alhamdulillah, sejak awal 2023 hingga sekarang perusahaan kami telah melayani lebih dari 2.000 wisatawan Indonesia yang datang ke Rusia. Fokus utama bisnis kami adalah kerja sama B2B dengan berbagai travel agent di Indonesia untuk membantu pengaturan perjalanan wisata ke Rusia, mulai dari hotel, transportasi, itinerary, hingga kebutuhan perjalanan lainnya.
Potensi anak muda Sumsel di kancah global
Menariknya, saya juga cukup sering bertemu wisatawan asal Palembang di Rusia. Bahkan sekarang semakin banyak travel agent Indonesia yang membuka open trip ke Rusia karena antusiasme masyarakat terus meningkat sejak hadirnya E-Visa.
Walaupun begitu, masyarakat asal Palembang atau Sumatera Selatan yang tinggal menetap di Rusia sebenarnya masih belum banyak. Mayoritas yang berasal dari Sumsel adalah mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di beberapa kota berbeda di Rusia, sehingga komunitasnya masih tersebar dan belum terlalu terhubung satu sama lain.
Sebagai orang Sumsel, saya percaya Palembang memiliki potensi yang luar biasa besar. Kota ini kaya budaya dan memiliki banyak anak muda kreatif yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional. Hanya saja, terkadang mereka terkendala akses informasi dan kesempatan.
Padahal menurut saya, anak daerah memiliki peluang yang sama besar selama mau belajar, berani mencoba, dan tidak takut keluar dari zona nyaman.
Pesan untuk para perantau masa depan
Karena itu, jika ada anak muda Sumsel yang ingin merantau atau mencoba hidup di luar negeri, pesan saya sederhana: jangan takut untuk memulai.
Merantau sendirian memang tidak mudah. Akan ada rasa sepi, rindu keluarga, dan berbagai tantangan baru. Tetapi dari perjalanan itulah kita menemukan pengalaman, relasi, dan pelajaran hidup yang membuat diri menjadi lebih kuat.
Perjalanan hidup saya dimulai dari desa kecil di Sumatera Selatan. Setelah lulus SMA saya sempat bekerja di pasar untuk mengumpulkan biaya melanjutkan pendidikan, kemudian merantau ke Palembang untuk kuliah sambil mengajar.
Perjalanan itu berlanjut hingga bekerja di Jakarta dan Malaysia sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan melanjutkan studi di Rusia dan membangun usaha sendiri di bidang pariwisata internasional.
Dari semua proses tersebut, saya percaya bahwa mimpi besar bisa diraih siapa saja, termasuk anak daerah, selama mau berusaha dan berani mengambil langkah pertama. (*)
| Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah "Dikhianati" Demi Seremonial Belaka |
|
|---|
| Hati-hati dengan Diskon! |
|
|---|
| Digitalisasi Perbankan: Efisiensi Operasional atau Ancaman Keamanan Siber? |
|
|---|
| IHSG Awal 2026 Merosot Tajam: Mengapa Ini Justru Momentum Emas bagi Investor Jangka Panjang? |
|
|---|
| Menyelamatkan Masa Depan Santri: Agenda Mendesak Pembenahan Sistem Pesantren |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Ihsannudin.jpg)