Prakiraan Cuaca BMKG Sumsel
BMKG: Puncak Musim Kemarau di Sumsel Bergeser ke September, Prediksi Lebih Kering dan Panjang
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Sumsel akan berlangsung 10–50 hari lebih lama, dengan puncak musim bergeser dari Agustus ke September.
Ringkasan Berita:
- BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Sumsel akan berlangsung 10–50 hari lebih lama dan lebih kering, dengan puncak musim bergeser dari Agustus ke September akibat pengaruh gelombang Kelvin.
- Kemarau panjang dipicu penguatan fenomena ENSO moderat dan IOD positif, setelah sebelumnya Pemkot mengoptimalkan cadangan air waduk lewat modifikasi cuaca pada pertengahan Mei.
- Pemerintah dan masyarakat diimbau siaga menghadapi dampak kekeringan pada sektor pertanian.
Baca juga: BMKG Sumsel: Waspada Kemarau Lebih Kering, Luruskan Istilah "El Nino Godzilla"
SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan memprediksi wilayah Sumsel mulai memasuki musim kemarau secara bertahap sejak akhir Mei hingga awal Juni 2026. Berdasarkan dinamika atmosfer terbaru, musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung lebih kering dan memiliki durasi yang lebih panjang dari biasanya.
Kepala BMKG Sumsel, Dr. Wandayantolis, menjelaskan bahwa pergeseran iklim ini dipengaruhi oleh fenomena global dan regional yang menguat.
Durasi kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang 1 hingga 5 dasarian, atau sekitar 10 hingga 50 hari lebih lama dibandingkan kondisi normal.
"Untuk wilayah Palembang dan sekitarnya, musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada awal Juni 2026. Sementara puncak musim kemarau bergeser ke bulan September 2026."
"Sebelumnya kami sempat memprediksi puncak kemarau jatuh pada Agustus, namun adanya gangguan atmosfer jangka pendek seperti gelombang Kelvin membuat puncaknya mundur ke September," ujar Wandayantolis, Rabu (3/6/2026).
Sebelum memasuki periode kering ini, sebagian besar wilayah Sumsel sebenarnya masih sempat mengalami curah hujan yang cukup di atas 50 mm.
Momentum tersebut telah dimanfaatkan pemerintah untuk melakukan Program Modifikasi Cuaca (PMC) pada pertengahan Mei lalu guna mengoptimalkan penyimpanan air di waduk, sungai, kolam retensi, serta membasahi lahan gambut.
Namun ke depan, curah hujan dipastikan menurun drastis.
Secara klimatologis, fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO) saat ini berada pada fase aktif intensitas lemah dan diprediksi meningkat ke fase moderat pada periode Juni hingga Agustus 2026.
Kondisi ini diperparah dengan Indian Ocean Dipole (IOD) yang terpantau berada pada fase positif dan terus menguat hingga pertengahan tahun.
Waspada Kekeringan dan Karhutla
Menyikapi prediksi kemarau yang lebih ekstrem ini, BMKG mengingatkan pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan pada sejumlah sektor krusial, seperti pertanian, energi, dan lingkungan.
Pada sektor pertanian, penurunan pasokan air pada lahan tadah hujan berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman dan mengancam cadangan pangan.
| BMKG Sumsel: Waspada Kemarau Lebih Kering, Luruskan Istilah "El Nino Godzilla" |
|
|---|
| BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 di Sumsel Datang Lebih Awal, Waspada Karhutla |
|
|---|
| Jelang Ramadan Sumsel Masih Bakal Diguyur Hujan, Waspadai Gelombang Tinggi Laut |
|
|---|
| BMKG Rilis Peringatan Dini: Sumsel Waspada Hujan Sedang dan Angin Kencang Hingga 19 Januari 2026 |
|
|---|
| BMKG Ingatkan Waspada Hujan Tiga Hari Berturut-turut di Sumsel Hingga Besok Lusa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Ilustrasi-Sawah-Kering.jpg)