Breaking News

Prakiraan Cuaca BMKG Sumsel

BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 di Sumsel Datang Lebih Awal, Waspada Karhutla

BNKG Sumsel memprediksi musim kemarau tahun 2026 di Sumatera Selatan akan datang lebih awal karena dipicu berakhirnya fase La Nina lemah.

Penulis: Hartati | Editor: tarso romli
Tribun Sumsel/Nando Zein/Dokumen
PADAMKAN KARHUTLA - Petugas saat melakukan proses memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Riding, Kecamatan Pangkalan Lampam Kabupaten OKI tahun 2025. 
Ringkasan Berita:
  • Akibat berakhirnya La Nina lemah, musim kemarau 2026 di Sumsel diprediksi maju 10 hingga 20 hari dari jadwal normal, mulai pertengahan Mei 2026.
  • Sifat hujan yang berada di bawah normal membuat cuaca menjadi lebih kering, sehingga risiko kemunculan titik panas (hotspot) dan kebakaran hutan meningkat tajam.
  • Masyarakat diimbau mewaspadai krisis air bersih dan peningkatan debu yang dapat menyebabkan penyakit ISPA selama masa kemarau hingga Oktober mendatang.

 


SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Sumatera Selatan akan memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih awal dibandingkan rerata klimatologinya. Fenomena ini dipicu oleh berakhirnya fase La Nina lemah yang berdampak pada pergeseran pola cuaca.

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Sumsel, Nandang Pangaribowo, menjelaskan bahwa musim kemarau di Sumsel diperkirakan maju sekitar satu hingga dua dasarian (10–20 hari).

 Sama seperti musim hujan, kedatangan kemarau ini tidak terjadi secara serentak karena perbedaan zona musim di tiap daerah.

"Berdasarkan prediksi, wilayah Sumsel bagian utara akan mengalami kemarau lebih cepat dua dasarian (20 hari). Sementara wilayah lainnya, termasuk Palembang, maju satu dasarian (10 hari)," ujar Nandang, Sabtu (7/3/2026).

BMKG juga memperingatkan bahwa sifat hujan selama musim kemarau kali ini dikategorikan Bawah Normal. Artinya, curah hujan akan jauh lebih sedikit dibandingkan kondisi normal, sehingga musim kemarau tahun ini diperkirakan akan lebih kering daripada tahun 2025.

"Kondisi kering ini meningkatkan risiko munculnya titik panas (hotspot) yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan selama musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026," tegasnya.

Selain ancaman karhutla, masyarakat diminta bijak dalam penggunaan air bersih serta mewaspadai polusi debu yang berpotensi memicu penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

 
Rincian Wilayah Awal Musim Kemarau 2026 di Sumatera Selatan:
1. Kemarau Maju 2 Dasarian (Mulai 10 Mei – 10 Juni)

Kabupaten Musi Banyuasin (Muba)
Kabupaten Musi Rawas
Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara)
Sebagian kecil wilayah Kabupaten Banyuasin

2. Kemarau Maju 1 Dasarian (Mulai 20 Mei – 20 Juni)

Kota Palembang
Kabupaten Ogan Ilir (OI) & Ogan Komering Ilir (OKI)
Kabupaten Muara Enim & Kota Prabumulih
Kabupaten OKU & OKU Selatan
Kabupaten PALI, Lahat, dan Empat Lawang
Sebagian besar wilayah Kabupaten Banyuasin

Simak berita menarik lainnya di sripoku.com dengan mengklik Google News.

Baca juga: 20 Menit Mencekam di Air Sugihan OKI, Puting Beliung Robohkan Pasar hingga Rumah Warga

Baca juga: Bandit Masuk Kampung, Mahasiswi di Palembang Ini Dijambret, Modus Tanya Orang Lalu HP Kena Rampas

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved