Berita Palembang

Imbas BBM Non-Subsidi Naik, Mobil Mewah Ikut Antre Solar di Palembang Bikin Sopir Pick-Up 'Menjerit'

Para sopir angkutan barang dan pick-up mengeluhkan antrean pengisian Bio Solar di SPBU R.E. Martadinata, Palembang

Tayang:
Penulis: Angga | Editor: Yandi Triansyah
Sripoku.com/Angga
ANTRIAN SPBU - Suasana pengendara mengantri di SPBU R.E. Martadinata yang semakin panjang setelah naiknya BBM non Subsidi pengandra mobil bermerek ikut mengantri untuk mendapatkan Bio Solar pada Rabu (20/5/2026) 

Ringkasan Berita:
  • Para sopir angkutan barang dan pick-up mengeluhkan antrean pengisian Bio Solar di SPBU R.E. Martadinata, Palembang, yang kian mengular pada Rabu (20/5/2026). 
  • Kondisi ini diperparah oleh banyaknya mobil pribadi kelas menengah ke atas yang ikut berburu solar bersubsidi.
  • Pantauan di lokasi menunjukkan kendaraan komersial harus bersaing dengan mobil-mobil pribadi bermerek seperti Toyota Fortuner hingga Mitsubishi Pajero di jalur antrean yang sama.

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi memicu efek domino di lapangan. 

Para sopir angkutan barang dan pick-up mengeluhkan antrean pengisian Bio Solar di SPBU R.E. Martadinata, Palembang, yang kian mengular pada Rabu (20/5/2026). 

Kondisi ini diperparah oleh banyaknya mobil pribadi kelas menengah ke atas yang ikut berburu solar bersubsidi.

Pantauan di lokasi menunjukkan kendaraan komersial harus bersaing dengan mobil-mobil pribadi bermerek seperti Toyota Fortuner hingga Mitsubishi Pajero di jalur antrean yang sama.

Arif, salah seorang sopir pick-up yang sehari-hari mengangkut pasir dan material bangunan, mengaku sangat terdampak oleh situasi ini. 

Ditambah adanya pembatasan jam pengisian solar, waktu kerjanya kini habis terbuang di jalan.

"Biasanya saya bisa sampai 12 kali mengantar barang dalam sehari. Sejak ada aturan jam pengisian dan antrean makin panjang begini, sekarang cuma bisa 7 sampai 8 kali saja," keluh Arif saat dijumpai di tengah antrean SPBU, Rabu (20/5/2026).

Arif menambahkan, dirinya harus rela mengantre selama 2 hingga 3 jam demi mendapatkan Bio Solar. 

Opsi beralih ke BBM non-subsidi seperti Dexlite dinilai tidak masuk akal karena akan menguras habis upah jalannya.

Ia pun mendesak pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan dan menindak tegas mobil-mobil mewah yang masih mengonsumsi BBM bersubsidi. 

"Kalau tidak ada larangan tegas untuk mobil-mobil bermerek itu, kami sudah muak sekali harus terus-terusan ikut antre solar," cetusnya.

Meski Kuota Dibatasi
Menanggapi keluhan tersebut, Pengawas SPBU R.E. Martadinata, Ade, menyatakan bahwa hingga saat ini pihak Pertamina belum mengeluarkan regulasi baru terkait pembatasan atau penyesuaian jenis kendaraan yang boleh mengisi Bio Solar di tempatnya.

"Dari Pertamina belum ada sama sekali pemberitahuan (mengenai larangan mobil tertentu)," jelas Ade.

Meski antrean kendaraan roda empat hingga truk fuso terpantau sangat padat, Ade memastikan pasokan Bio Solar dan Pertalite dari Pertamina ke SPBU R.E. Martadinata sejauh ini masih berjalan lancar dan aman. 

Namun, ia mengakui adanya batas kuota harian yang ditetapkan untuk setiap SPBU.

"Untuk detail kuotanya kami tidak bisa bocorkan karena itu kebijakan internal pengawas dan Pertamina. Yang jelas, pasokan harian selalu habis terjual karena tingginya permintaan, dan besoknya langsung kami isi kembali," pungkas Ade.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved