Cerita Petani Sumsel, Bertaruh Nasib di Air Rawa Demi Beras Indonesia

Bertaruh nasib di kepungan rawa Sumsel demi 4 juta ton gabah. Intip strategi Bulog memutus mata rantai tengkulak & menjaga meja makan kita!

Tayang:
Penulis: Ekoadiasaputro.BE | Editor: tarso romli
NotebookLM.google.com
Info Grafis 

Ringkasan Berita:
  • Sumsel targetkan 4 juta ton GKG pada 2026 dan naik ke peringkat 5 lumbung pangan nasional di tengah tantangan cuaca ekstrem kemarau basah.
  • Petani rawa lebak hadapi ancaman gagal panen akibat cuaca, tingginya biaya logistik, serta jeratan harga di bawah standar oleh tengkulak.
  • Bulog pangkas rantai "mafia pangan" lewat Inpres No 4/2026 dengan beli langsung gabah petani demi jaga stabilitas harga produsen-konsumen.

 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Matahari tepat berada di ubun-ubun ketika Sudarsono (56), perlahan mengayuh perahu kayu kecilnya membelah hamparan air rawa lebak di Desa Awal Terusan, Kecamatan Sirah Pulau (SP) Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan (Sumsel).

Di atas perahu yang bergoyang pelan setiap kali arus air bergerak, tumpukan bibit padi berwarna hijau segar tetap tersusun rapi. Sawah seluas satu hektare yang digarap Sudarsono bukanlah hamparan tanah kering ramah, melainkan rawa sedalam dada orang dewasa yang mengepung kawasan tersebut hampir sepanjang tahun.

Bagi Sudarsono dan puluhan petani lebak di sana, bertaruh nasib di kepungan air adalah ikhtiar tahunan yang menuntut kesabaran berlipat ganda. Mereka wajib menunggu momen pas saat air mulai menyusut di awal musim kemarau demi menanam padi satu per satu dari atas perahu. 

Langkah yang salah dalam memperhitungkan pasang surut air akan membuat modal lima juta rupiah yang diputarnya lenyap seketika akibat tanaman membusuk atau hanyut terbawa arus rawa.

"Dak mudah, salah memperhitungkan tinggi air, padi yang kito tanam bisa busuk (membusuk)," ungkap Sudarsono sembari menunjuk ke arah hamparan sawah yang menyerupai danau itu, Sabtu (16/5/2026).

 Sudarsono menceritakan bagaimana perjuangan dan kegigihan para petani rawa lebak agar tetap bisa produktif di tengah kondisi alam yang menantang ini.

"Hampir sepanjang tahun areanya selalu digenangi air cukup dalam. Harus sabar nunggu air surut baru bisa nanam," kata Sudarsono.

Penggunaan perahu kecil menjadi sarana transportasi wajib dan sangat vital bagi mereka. Tanpa perahu, para petani akan kesulitan mendistribusikan bibit ke tengah sawah karena kedalaman air yang menyulitkan ruang gerak jika harus berjalan kaki sembari memikul beban.

"Kalau dak pakai perahu, tidak bisa membawa bibit padi banyak-banyak ke tengah, karena airnya masih dalam."

"Jadi perahu ini untuk bawa bibit padi, lalu kami dorong pelan-pelan sambil nanam satu per satu di dalam air," tambahnya.

Tampak dari kejauhan Sudarsono (56), menanam padi hamparan air rawa lebak Desa Awal Terusan, Kecamatan Sirah Pulau (SP) Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan (Sumsel), Sabtu (16/5/2026).
Tampak dari kejauhan Sudarsono (56), menanam padi hamparan air rawa lebak Desa Awal Terusan, Kecamatan Sirah Pulau (SP) Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan (Sumsel), Sabtu (16/5/2026). (Tribunsumsel.com)

Meski membutuhkan tenaga serta modal kesabaran yang berlipat ganda, Sudarsono dan para petani lainnya mengaku tetap bertahan demi memenuhi kebutuhan pangan dan menyambung hidup keluarga. 

Menurutnya dengan bentangan lahan rawa kurang lebih 50 hektare membuat waktu tanam para petani tidak bisa dilakukan serentak.

"Karena kondisi permukaan tanah yang berbeda-beda, maka ada beberapa petani mulai menanam di bulan Maret lalu. Sedangkan saya baru bisa tanam dibulan Mei karena nunggu airnya semakin surut."

"Bahkan untuk pemilik tanah di pangkal depan (dekat jalan raya) kemungkinan baru bisa ditanam bulan Juni mendatang. Posisinya sekarang air masih sangat dalam," ungkapnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved