Breaking News

Berita Palembang

Bulog Sebut 3 Daerah Ini Jadi Penyumbang Gabah Terbesar di Sumsel, Jamin Rantai Pangan Aman & Stabil

Perum Bulog Kantor Wilayah Sumsel Babel menjadi salah satu pihak yang berperan penting dalam menjaga rantai pangan tersebut tetap berjalan stabil.

Tayang:
Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Welly Hadinata
sripoku.com/nando
OJEK GABAH - Tukang ojek sedang mengangkut gabah padi dengan motornya di area sawah di Desa Lubuk Seberuk, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten OKI, Sumatera Selatan. 

Ringkasan Berita:
  • Bulog Sumsel Babel menjaga ketahanan pangan melalui penyerapan gabah, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi beras ke masyarakat.
  • Daerah penyumbang gabah terbesar di Sumsel berasal dari Banyuasin, OKU Timur, dan OKI.
  • Saat ini stok beras Bulog Sumsel Babel mencapai 104.839 ton dan dinilai aman untuk menghadapi potensi gejolak pangan.

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Ketahanan pangan di Sumatera Selatan tidak hanya ditentukan oleh tingginya produksi padi, tetapi juga bergantung pada rantai distribusi yang melibatkan petani, penggilingan padi, hingga penyaluran beras kepada masyarakat.

Perum Bulog Kantor Wilayah Sumsel Babel menjadi salah satu pihak yang berperan penting dalam menjaga rantai pangan tersebut tetap berjalan stabil.

Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Sumsel Babel, Ihsan, mengatakan Bulog bertugas sebagai operator pelaksana kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas pangan nasional.

“Sesuai Inpres Nomor 4 Tahun 2026, pemerintah melakukan penyerapan gabah dan beras dalam negeri untuk menjaga ketersediaan cadangan beras pemerintah. Bulog kemudian ditugaskan menyalurkan cadangan tersebut melalui program bantuan pangan dan SPHP untuk menjaga keterjangkauan pangan masyarakat,” ujar Ihsan, Senin (18/5/2026).

Menurut Ihsan, proses pengadaan hingga penyaluran beras menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan di tengah masyarakat.

Di Sumsel, penyerapan gabah dimulai langsung dari petani. Sejak 2025, Bulog diperbolehkan membeli Gabah Kering Panen (GKP) secara langsung sebelum diproses melalui pengeringan dan penggilingan hingga menjadi beras siap simpan.

“GKP tidak bisa disimpan lama, sehingga Bulog bekerja sama dengan penggilingan padi untuk proses pengeringan dan pengolahan. Setelah menjadi beras, baru disimpan di gudang sebelum disalurkan ke masyarakat sesuai ketentuan pemerintah,” katanya.

Ihsan menyebut daerah penyumbang serapan gabah terbesar di Sumsel berasal dari Banyuasin, OKU Timur, dan OKI.

Ketiga wilayah tersebut menjadi penopang utama pasokan beras di Sumsel.

Namun, menjaga rantai pangan bukan tanpa tantangan. Kondisi geografis Sumsel yang didominasi wilayah perairan dan sungai menjadi kendala dalam proses distribusi dan pengadaan.

Selain itu, keterbatasan fasilitas pascapanen seperti mesin pengering gabah juga masih menjadi persoalan.

Saat ini, kapasitas gudang Bulog Sumsel Babel mencapai 194.232 ton yang tersebar di wilayah Sumsel dan Bangka Belitung. Sementara stok beras yang tersedia mencapai 104.839 ton.

Ihsan memastikan hingga kini stok beras di wilayah kerjanya masih dalam kondisi aman. Meski demikian, Bulog tetap waspada terhadap potensi gejolak harga beras di pasaran.

“Kalau harga mulai naik, kami harus sigap dan quick response untuk menanggulangi gejolak harga,” ujarnya.

Untuk mengendalikan harga, Bulog menjalankan program penyaluran beras SPHP melalui operasi pasar, toko penyaluran SPHP, serta bekerja sama dengan TNI dan Polri.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved