Sumsel di Bawah Ancaman Nyata Bencana Hidrometeorologi, Palembang dan Daerah Perbukit Harus Waspada 

Bencana alam di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh harus menjadi peringatan keras bagi seluruh wilayah Sumatera, termasuk Sumsel.

Tayang:
Istimewa
Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T, Tenaga Ahli Hidrologi Forensik dari Institut Teknologi Sumatera (ITERA). 
Ringkasan Berita:
  • Bencana alam di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh harus menjadi peringatan keras bagi seluruh wilayah Sumatera, termasuk Sumsel.
  • Curah hujan tinggi yang turun dalam waktu singkat sudah cukup membuat lokasi vital seperti Jalan Basuki Rahmat, Simpang Polda, Demang Lebar Daun, hingga kawasan Sekip di Palembang tergenang dengan cepat.
  • Kabupaten dengan kontur berbukit seperti Lahat, Pagaralam, Empat Lawang, dan OKU Selatan menghadapi bahaya longsor yang kian membesar setiap musim hujan.

 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Rangkaian bencana banjir bandang dan longsor parah yang menerjang Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh pekan lalu bukan sekadar kabar duka, melainkan peringatan keras bagi seluruh wilayah Sumatera, tak terkecuali Sumatera Selatan (Sumsel). Ancaman hidrometeorologi kini disebut-sebut semakin nyata dan dapat terjadi kapan saja di Palembang maupun kabupaten/kota lain di Sumsel.

Tenaga Ahli Hidrologi Forensik dari Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T., menekankan bahwa cuaca ekstrem yang memicu bencana tersebut menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem pengelolaan lingkungan di banyak daerah.

Meskipun Palembang dikenal sebagai kota dataran rendah, masalah banjir tahunan tak kunjung usai. 

Menurut Hakiem, curah hujan tinggi yang turun dalam waktu singkat sudah cukup membuat lokasi vital seperti Jalan Basuki Rahmat, Simpang Polda, Demang Lebar Daun, hingga kawasan Sekip tergenang dengan cepat.

"Banyaknya anak sungai dan kanal yang melintas di kota ini seharusnya menjadi aset, tetapi juga menuntut sistem drainase bekerja ekstra keras. Ketika curah hujan ekstrem, kemampuan drainase untuk menampung limpasan air dengan cepat seringkali terlampaui," jelas Hakiem.

Ia menambahkan, pembangunan kawasan permukiman yang masif dalam beberapa tahun terakhir telah mengurangi wilayah resapan air, membuat banjir terjadi lebih cepat dan lebih luas—sebuah skenario yang juga terjadi di provinsi tetangga.

Ancaman Longsor Kian Mendesak

Sementara Palembang berjuang melawan genangan, kabupaten dengan kontur berbukit seperti Lahat, Pagaralam, Empat Lawang, dan OKU Selatan menghadapi bahaya longsor yang kian membesar setiap musim hujan.

"Potensi longsor di wilayah ini meningkat tajam. Ruas jalan lintas antarkabupaten sangat rawan tertutup material tanah atau batu. Kondisi ini bisa melumpuhkan distribusi logistik dan layanan darurat, sehingga mitigasi di kawasan perbukitan harus menjadi prioritas utama," tegas Hakiem.

Normalisasi dan Kesadaran Bersama

Mengambil pelajaran dari bencana di Sumatera Utara dan Aceh, Hakiem meminta pemerintah daerah di Sumsel untuk segera memperkuat langkah mitigasi:

Khusus Palembang, perlu dilakukan perbaikan kanal, normalisasi drainase, dan peningkatan kapasitas pompanisasi harus menjadi prioritas mendesak. Sedangkan untuk seluruh Sumsel, pengawasan ketat terhadap pembangunan di sekitar aliran sungai dan pemantauan berkala kawasan perbukitan.

Namun, Hakiem juga mengingatkan, peran serta masyarakat adalah kunci yang tak kalah penting.

"Bencana bukanlah takdir yang datang tiba-tiba. Sedimen sungai akibat sampah yang dibuang ke selokan, penebangan liar, atau pembangunan lereng tanpa perhitungan struktur tanah, semua itu memicu bencana. Mitigasi tidak bisa dilakukan setelah bencana terjadi, harus dimulai saat cuaca masih bersahabat," tutupnya.

Mengingat cuaca ekstrem diprediksi masih berpotensi terjadi dalam beberapa minggu ke depan, Hakiem mengimbau warga Palembang dan Sumsel untuk tetap waspada, sadar lingkungan, dan bersiap siaga menghadapi potensi bencana yang mengancam keselamatan. (rel)

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved