Breaking News

Sopir Ditikam di Macan Lindungan

Macan Lindungan Palembang, Jalur 'Neraka' dan Dilema Nyawa atau Penjara Bagi Sopir Luar Sumsel

Lampu merah menyala di Simpang Empat Macan Lindungan dan Kertapati. Bagi warga Palembang

Tayang:
Penulis: Syahrul Hidayat | Editor: Yandi Triansyah
Sripoku.com/Syahrul Hidayat
DUA SIMPANG MENAKUTKAN : (Kiri) Simpang Macan Lindungan (Kanan) Simpang Kertapati. Dua simpang yang berada di wilayah Kota Palembang ini menjadi lokasi rawan pemalakan. Bagi para sopir truk berpelat luar Sumatera Selatan, dua titik ini bak jalur neraka. 

Ringkasan Berita:
  • Sopir berasal dari luar Sumsel mengungkapkan dua jalur yang mengerikan saat melintas di Palembang. 
  • Pertama melintas di Simpang Kertapati dan kedua di Simpang Macan Lindungan. 
  • Para sopir dilema melawan bisa berujung penjara jika berdiam saja maka nyawa bisa melayang. 
  • Para sopir meminta para aparat lebih meningkatkan keamanan supaya para sopir dengan aman melintas.

 


SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Lampu merah menyala di Simpang Empat Macan Lindungan dan Kertapati. Bagi warga Palembang, ini hanyalah tanda berhenti sejenak dalam hiruk-pikuk lalu lintas. 

Namun, bagi para sopir truk berpelat non-BG (luar Sumatera Selatan), nyala merah itu bak sinyal masuk ke "jalur neraka".

Di dua titik ini, ketenangan berubah menjadi kewaspadaan tingkat tinggi. Bayang-bayang aksi premanisme dan pemalakan menghantui setiap detik roda truk berhenti berputar.

Bukan sekadar soal lembaran rupiah yang melayang, para sopir ini terjebak dalam dilema hukum yang memilukan, bertindak tegas membela diri bisa berujung bui, namun diam pasrah bisa berarti maut atau luka.

Baca juga: 2 Preman dan Penjual Tuak di Simpang Macan Lindungan Diamankan Satpol PP Palembang

Nuryanto (27), seorang sopir truk pengangkut karet rute Lampung-Palembang-Jambi, tak bisa menyembunyikan kegelisahannya saat melintasi Palembang. 
Pria asal Way Kanan, Lampung ini menyebut kawasan Macan Lindungan sebagai lokasi "seram" bagi pendatang.

Ia berbagi kisah pahitnya. Pilihan yang dimilikinya saat dipalak sangat terbatas dan menyakitkan.

"Pernah dipalaki di Macan Lindungan dan Simpang Kertapati. Ya, saya kasih saja duitnya," ungkap Nuryanto dengan nada pasrah, Kamis (27/11/2025).

Bagi Nuryanto, merelakan uang jalan adalah opsi paling "aman" meski hati memberontak. 

Tragedi tewasnya rekan sesama sopir asal Lampung baru-baru ini menjadi bukti nyata betapa runcingnya masalah ini.

"Peristiwa ini jadi dilema bagi kami para sopir. Kami serba salah. Bertindak membela diri, kalau pemalaknya terluka, kami yang jadi tersangka. Tapi kalau kami diam dan tidak melawan, kami yang jadi korban," keluhnya getir.

Fenomena pemalakan ini ternyata memiliki pola tersendiri yang diskriminatif. 

Para pelaku kejahatan jalanan ini cenderung "tebang pilih" dalam menentukan mangsa.

Herman, seorang pengendara motor yang kerap melintas di lokasi, membenarkan realitas pahit tersebut. 

Ia melihat sendiri bagaimana truk berpelat lokal sering kali melenggang aman, sementara truk luar daerah menjadi incaran.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved