Berita Ekonomi
Masyarakat Keluhkan Harga Minyak Goreng Naik
Harga minyak goreng di pasaran belakangan ini terus mengalami kenaikan hingga mencapai Rp25.000 per liter dan membuat masyarakat mengeluh.
Penulis: Hartati | Editor: tarso romli
Ringkasan Berita:
- Harga minyak goreng naik padahal harga sawit lagi anjlok
- Kenaikan harga minyak goreng dikeluhkan masyarakat karena membebani biaya dapur
- Naiknya harga minyak goreng karena dampak harga plastik mahal.
Baca juga: Jelang Idul Adha, Harga Cabai dan Minyak Goreng di Pasar Induk Jakabaring Mulai Melejit
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Harga minyak goreng di pasaran belakangan ini terus mengalami kenaikan. Jika sebelumnya minyak goreng bermerek dijual sekitar Rp20.000 per liter, kini harganya menembus Rp23.000 hingga Rp25.000 per liter.
Sementara itu, untuk kemasan 2 liter, baik jenis refill maupun botol, harga jualnya kini dapat mencapai Rp50.000 per kemasan. Kenaikan tersebut telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir dan semakin membebani masyarakat.
Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok rumah tangga yang hampir setiap hari digunakan untuk memasak.
Karena itu, lonjakan harga komoditas ini cukup dirasakan oleh masyarakat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Tidak hanya minyak goreng premium, minyak goreng bersubsidi atau kemasan ekonomis seperti Minyakita juga mengalami kenaikan harga.
Jika sebelumnya dijual sekitar Rp16.000 hingga Rp17.000 per liter, kini di sejumlah pasar harganya mencapai Rp20.000 per liter.
Masyarakat pun mengeluhkan kondisi tersebut karena kenaikan harga tidak hanya terjadi pada minyak goreng.
Berbagai kebutuhan pokok lainnya juga ikut mengalami peningkatan harga, seperti bawang, ikan, ayam, daging, sayur-mayur, tahu, dan tempe.
Sejumlah faktor dinilai menjadi penyebab kenaikan harga tersebut.
Salah satunya adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berdampak pada rantai pasok dan biaya produksi.
Selain itu, kenaikan biaya operasional serta dampak dari naiknya harga bahan bakar turut mempengaruhi ongkos distribusi barang ke berbagai daerah.
Di sisi lain, industri juga menghadapi kenaikan harga bahan baku kemasan.
Harga plastik impor yang digunakan untuk kemasan pouch minyak goreng disebut mengalami peningkatan signifikan, sehingga biaya pengemasan menjadi lebih mahal.
Kondisi tersebut akhirnya ikut mendorong kenaikan harga jual minyak goreng di tingkat konsumen.
| Dolar AS Tembus Rp18.000, Pengamat Ekonomi Sumsel Ingatkan Ancaman Penurunan Daya Beli dan PHK |
|
|---|
| Bazar 1 Juta Buku Hadir di PTC Mall dengan Harga Mulai Rp 10 Ribu |
|
|---|
| Ekspor Wajib Lewat Danantara Berlaku 1 Juni, Pengusaha Sawit dan Batu Bara Mengaku Belum Paham |
|
|---|
| Harga Karet Sumsel Merangkak Naik di Saat Rupiah Melemah dan Pasar Global Bergairah |
|
|---|
| Harga Karet Menguat di Awal Pekan, Petani Sumsel Diimbau Jaga Mutu Bokar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/MinyakGoreng-Naik.jpg)