Opini

Urgensi Teosofi Pendidikan

Teosofi pendidikan mendorong integrasi nilai-nilai spiritual dan moral seperti cinta kasih, kejujuran, kerja sama, dan belas kasih dalam kurikulum

Istimewa
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Raden Fatah Palembang, Dr. Muhamad Fauzi, M.Ag. 

Oleh: Dr. Muhamad Fauzi, M.Ag.
 (Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Raden Fatah Palembang)

 

SRIPOKU.COM - Di tengah krisis spiritual dan moral sekarang ini, seperti pelacuran dan pelecehan seksual, perjudian dan penipuan (kecurangan), pornografi dan pornoaksi, narkoba dan miras, kejahatan dengan kekerasan dan pembunuhan-penculikan, termasuk praktik-praktik menyimpang dalam beragama, dan masih banyak lagi fenomena krisis spiritual dan moral yang muncul dalam kehidupan kita saat ini.

Fenomena-fenomena seperti yang disebutkan itu tentu dapat menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan ini. Oleh karena itu, perlu kiranya ada ikhtiar serius dari semua pihak untuk mengatasi dan mencari solusi agar fenomena-fenomena perilaku negatif tersebut dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan dari muka bumi ini.

Dalam konteks ini, gagasan tentang teosofi pendidikan kiranya dapat menjadi ikhtiar alternatif untuk berkontribusi mengisi ruang-ruang hampa spiritual-moral generasi dengan membangun pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menyentuh hati dan jiwa serta perilaku generasi sehingga diharapkan dapat menjadi solusi bagi persoalan mendasar kehidupan individu, masyarakat, agama, dan bangsa.

Pendidikan teosofis mengkritik sistem pendidikan modern yang terlalu menekankan pada aspek formal, berupa nilai angka, ijazah, sertifikat, dan keterampilan kerja, tetapi kurang memperhatikan kedalaman spiritual dan moral peserta didik.

Dalam praktik pendidikan saat ini, peserta didik banyak didorong untuk bersaing, menghafal, dan mengejar prestasi akademik-eksternal, kurang diberi ruang untuk bertumbuh secara bathiniah. Padahal dalam perspektif teosofi pendidikan, setiap manusia memiliki divine spark atau percikan ilahi yang perlu dibangkitkan.

Oleh karena itu, pendidikan tidak hanya bertujuan mengembangkan kecerdasan intelektual, tetapi juga memperkaya aspek spiritual dan moral-etik peserta didik.

Konsep Teosofi Pendidikan

Istilah teosofi berasal dari bahasa Yunani: theos (Tuhan) dan sophia (kebijaksanaan), yang secara harfiah berarti "kebijaksanaan tentang Tuhan" atau "kebijaksanaan ilahi" (Campbell, 1980).

Gerakan teosofi modern dipelopori oleh Helena Petrovna Blavatsky pada akhir abad ke-19 melalui The Theosophical Society. Tujuan utama gerakan ini adalah untuk mencari kebenaran universal, menyatukan agama-agama besar dunia, dan mengeksplorasi potensi spiritual manusia.

Teosofi memandang bahwa realitas sejati lebih dari sekadar material dan empiris, tetapi ia mencakup dimensi spiritual dan metafisik. Teosofi merupakan suatu sistem pemikiran filsafat yang berakar pada pencarian kebijaksanaan ilahi (divine wisdom).

Dalam pandangan ini, manusia bukan hanya makhluk fisik, tetapi juga entitas spiritual yang sedang berkembang melalui proses kehidupan menuju kesempurnaan spiritual.

Teosofi adalah suatu aliran filsafat spiritual yang memadukan unsur-unsur mistisisme Timur dan Barat, terutama ajaran Hindu, Buddha, Gnostik, yang dipopulerkan oleh Helena Petrovna Blavatsky dan Theosophical Society pada akhir abad ke-19, termasuk sufisme dalam Islam yang dipelopori tokoh sufi awal yaitu Hasan al Basri (w. 110 H/728 M). 

Teosofi pendidikan memberikan pendekatan mendalam terhadap perkembangan peserta didik secara holistik, yakni jasmani, intelektual, emosional, dan spiritual. Teosofi pendidikan tidak hanya bertujuan untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan kesadaran spiritual peserta didik.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved