Breaking News

Mata Lokal Desa

Mengenal Lorong Mari Plaju Palembang Peraih Rekor MURI 2021, Dulu Kumuh Kini Jadi Kampung Hias

Lorong Mari yang dulu nyaris tak dikenal dan identik dengan kawasan kumuh, kini menjelma menjadi Kampung Hias yang bersih

|
Penulis: Angga | Editor: Odi Aria
Sripoku.com/Angga Azka
LORONG MARI PALEMBANG- Kampung Hias di Lorong Mari dahulu dikenal sebagai kampung yang kumuh, terletak di jalan Kapten Abdullah, Lorong Mari Kelurahan, RT.02/RW.01, Talang Bubuk, Kecamatan Plaju, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Kini Lorong Mari menjelma menjadi Kampung Hias yang bersih, asri, penuh warna, dan sarat kreativitas. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG– Siapa sangka, Lorong Mari yang dulu nyaris tak dikenal dan identik dengan kawasan kumuh, kini menjelma menjadi Kampung Hias yang bersih, asri, penuh warna, dan sarat kreativitas.

Berlokasi di Jalan Kapten Abdullah, RT.02/RW.01, Kelurahan Talang Bubuk, Kecamatan Plaju, Kota Palembang, kampung ini menjadi inspirasi perubahan berbasis komunitas.

Saat memasuki kampung ini, pengunjung akan disambut oleh beragam ornamen warna-warni, mural di dinding rumah panggung, dan kreasi seni dari barang-barang bekas seperti drum, ban, dan jerigen yang disulap menjadi pot bunga, meja, hingga tempat duduk.

“Dulu tidak semua warga mau mengecat rumahnya. Ada yang asal-asalan. Tapi berkat keteladanan anak-anak muda dan semangat gotong royong, semuanya berubah,” ujar Chairul Bahri, atau yang akrab disapa Elonk, inisiator Kampung Hias Lorong Mari, Minggu (4/5/2025).

Warisan Nama Gede Mari

Nama "Lorong Mari" sendiri diambil dari nama tokoh pertama yang tinggal di kampung ini, yakni Gede Mari atau Nenek Mari, warga asal Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Untuk mengenang sosok tersebut, warga menjadikan nama “Mari” sebagai merek produk lokal, seperti minyak urut, hand sanitizer, dan minyak pco.

Dari CSR ke Rekor MURI

Perubahan Lorong Mari tidak terlepas dari dukungan CSR PT Pertamina RU III Plaju yang turut mendorong transformasi kawasan.

Dengan semangat kolaboratif, kampung ini kini terus tumbuh, dari Kampung 3D menjadi Kampung Warna-Warni, Kampung Hijau, Kampung Mini Pedestrian, hingga kini menuju Kampung Wisata.

Warga pun aktif dalam kegiatan produktif. Mayoritas ibu-ibu di kampung ini dulunya bekerja sebagai pemanggang kemplang, salah satu makanan khas Palembang.

Pada 2021, sekitar 200 ibu-ibu Lorong Mari berpartisipasi dalam pemecahan Rekor MURI untuk pembuatan logo K3 terbesar dari susunan kemplang, yang diselenggarakan oleh Pertamina.

“Waktu itu semua warga ikut serta dan perekonomian kami ikut meningkat,” tambah Elonk.

Berkat kreativitas dan komitmen warga, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 2021 telah menetapkan Lorong Mari sebagai Desa Wisata ke-300.

Elonk berharap ke depan, pemerintah kota Palembang dan pelaku pariwisata bisa lebih aktif mendorong Lorong Mori menjadi destinasi unggulan.

“Kalau makin dikenal, otomatis usaha kemplang bakar yang jadi mata pencaharian utama ibu-ibu di sini juga akan ikut berkembang,” ujarnya.

 

Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved