Opini

Ageing Population: Apakah Indonesia Siap?

Indonesia saat ini berada dalam masa bonus demografi, dengan proporsi penduduk usia produktif lebih tinggi daripada penduduk usia non produktif.

Editor: tarso romli
handout
Maria Ulfa, Statistisi Ahli Madya BPS Kabupaten Ogan Ilir 

Peningkatan jumlah lansia bisa menjadi keuntungan dalam konteks bonus demografi. Ageing population yang dialami Indonesia menyimpan potensi untuk menjadi bonus demografi kedua.

Bonus demografi kedua dideskripsikan sebagai suatu situasi dimana proporsi penduduk yang berusia tua semakin banyak, namun masih produktif dan masih memberikan sumbangan bagi perekonomian negara (Heryanah, 2015).

Pada masa bonus demografi pertama, peran utama pembangunan dilakukan oleh penduduk usia produktif. Sementara itu, pada masa bonus demografi kedua, peran tersebut diambil alih oleh penduduk usia non produktif, yaitu lansia.

 Agar hal tersebut dapat tercapai, penting bagi lansia untuk tetap berada dalam kondisi yang memungkinkan mereka terus berkontribusi bagi perekonomian negara.

Tantangan utama saat ini adalah bagaimana mempertahankan kualitas hidup lansia, mengingat bertambahnya usia umumnya disertai dengan penurunan kemampuan fisik dan penurunan status kesehatan yang memengaruhi kapasitas kerja mereka.

Selain itu, penuaan penduduk juga meningkatkan prevalensi penyakit degeneratif atau penyakit yang disebabkan oleh faktor usia, misal penyakit jantung, diabetes melitus, stroke, rematik, osteoporosis dan cedera.

Hal ini berkontribusi pada rendahnya Healthy Life Expectancy (HALE). HALE menunjukkan jumlah tahun yang diharapkan dapat dijalani dalam keadaan sehat.

Merujuk data WHO, HALE Indonesia tahun 2021 hanya sebesar 60,7 tahun, sedangkan AHH pada tahun yang sama telah mencapai 73,54 tahun dan angka ini terus mengalami peningkatan. Kesenjangan ini perlu diatasi agar bertambahnya usia dapat dijalani lansia dengan kualitas hidup sehat.

Selain masalah kesehatan, tantangan lain yang dihadapi lansia adalah kemandirian finansial. Dengan meningkatnya persentase penduduk lansia, angka beban ketergantungan penduduk non produktif terhadap kelompok usia produktif juga semakin meningkat.

Lansia umumnya sudah tidak produktif dan seringkali tidak memiliki kemandirian secara finansial. Secara umum, rasio ketergantungan ini meningkat sejalan dengan pertumbuhan jumlah lansia di Indonesia.

Berdasarkan hasil proyeksi penduduk, rasio ketergantungan lansia terus meningkat dari 15,16 persen pada tahun 2020 menjadi 17,08 persen pada tahun 2023. Ini berarti bahwa setiap 100 penduduk usia produktif harus menanggung 17 orang lansia. Atau dengan kata lain satu orang lansia ditanggung oleh enam penduduk produktif.

Tingginya rasio ketergantungan lansia tersebut dapat diperparah oleh ketidaksiapan kondisi finansial lansia, diantaranya nilai kompensasi jaminan hari tua dan pensiun yang seringkali tidak mencukupi kebutuhan hidup yang layak.

Masih banyak lansia yang tidak mempersiapkan keuangan mereka secara baik untuk kehidupan di masa tua, sehingga dalam banyak kasus orang tua (lansia) harus bergantung secara ekonomi pada anak-anak atau anggota keluarga yang lebih muda.

Beberapa Hal yang Bisa Dilakukan

Dengan meningkatnya kebutuhan perawatan kesehatan dan dukungan finansial yang lebih tinggi bagi lansia, negara perlu memperkuat dan memperluas kebijakan terkait program perlindungan jaminan kesehatan, serta pengembangan program perawatan jangka panjang (Long-Term Care/LTC).

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved