Pemilu 2024

Terjebak Dukungan Pilpres, PPP Catat Sejarah tak Lolos Senayan

PPP harus menelan pil pahit tidak mencapai perolehan ambang batas parlemen sehingga gagal lolos ke Senayan.

Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Abdul Hafiz
KOLASE/SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Lambang Partai Persatuan Pembangunan; Pengamat Politik Kemas Khoirul Mukhlis 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - KPU (Komisi PemilihanUmum) telah merampungkan rekapitulasi perolehan suara Pemilu tingkat nasional dengan menempatkan hanya 8 parpol lolos menuju Senayan. Yang cukup mengejutkan, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) harus menelan pil pahit tidak mencapai perolehan ambang batas parlemen. Partai berlambang Kabah ini hanya memperoleh 3,87 persen saja.


Menurut pengamat politik Kemas Khoirul Mukhlis, hal ini sangat disayangkan mengingat PPP merupakan partai tua dan memiliki basis massa fanatik. Dalam Sejarah kepemiluan di Indonesia, baru kali ini pula PPP gagal masuk parlemen.

“Hal ini diakibatkan beberapa faktor, di antaranya dukungan Pilpres yang tak sesuai circle PPP sebagai partai berbasiskan tradisional dan mengusung semangat keislaman. Memang ini kesalahan di awal, sejak bagaimana Sandiaga Uno bergabung untuk membesarkan PPP.

Padahal target sebenarnya, Sandi berharap memperoleh kesempatan maju sebagai Calon Wakil Presiden,” ungkap Kemas Khoirul Mukhlis kepada Sripoku.com, Kamis (21/3/2-24).

gedung dpr ri senayan
Gedung DPR RI di Senayan Jakarta.

Baca juga: Deklarasi HD-JM Paling Lambat Pertengahan April, Joncik: Jangan Layu Sebelum Berkembang  


Ditambahkan, dalam perjalanan dinamika politik yang ada Sandiaga Uno kalah bersaing dengan tokoh lainnya. Nah, di sini PPP seakan terjebak dengan dukungan Pilpres.

Banyak kader di bawah yang hanya memberikan dukungan seadanya saja atau terpaksa karena menjalankan instruksi saja. Begitu juga dengan grassroot PPP sangat banyak menolak Capres pilihan PPP tersebut.

Selanjutnya faktor kedua, menurut mantan Ketua KPU Palembang ini menurunnya perolehan suara PPP juga tak terlepas dari adanya konflik internal yang mendera PPP di akhir 2022 lalu.

Suharso Manoarfa diberhentikan melalui Mukernas PPP September 2022 silam, tampuk pimpinan dipegang Muhammad Mardiono yang menjabat pelaksana tugas (Plt) ketua umum sampai sekarang.

Konsolidasi yang belum tuntas ini sebenarnya sangat bahaya bagi partai manapun untuk mengikuti Pemilu.

“Sehingga di beberapa tempat, PPP kesulitan menempatkan kader potensial sebagai calon legislatif. Kesannya malah di dapil tertentu caleg yang ada hanya memenuhi kuota yang disiapkan KPU saja. Hal ini tentu berdampak dengan tidak maksimalnya mesin partai berjalan,” ujar Mukhlis.


Faktor terakhir, PPP juga belum berhasil menampilkan diri sebagai partai kekinian. Dinamika dan pola kampanye saat ini sudah jauh berubah, masyarakat cenderung memanfaatkan media sosial bukan hanya sebagai hiburan

namun juga guna mencari referensi dalam banyak hal. PPP walau sudah banyak upaya mengikuti perkembangan kekinian namun masih gagal membranding diri sebagai partainya kalangan milenial dan Gen Z yang saat ini mendominasi.

Sebanyak delapan partai politik lolos ke DPR RI berdasarkan hasil Pileg 2024. Mereka adalah PDI-P, Golkar, Gerindra, PKB, Nasdem, PKS, Demokrat, dan PAN.

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, partai politik yang gagal meraup sedikitnya 4 persen suara sah nasional tidak dapat mengonversi suaranya menjadi kursi di Senayan.

Adapun jumlah suara sah nasional Pileg DPR RI 2024 mencapai 151.796.630. Namun begitu, di atas kertas, boleh jadi masih ada peluang untuk partai politik yang sempat terbelah dualisme kepengurusan itu untuk membalikkan keadaan.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved