Pengelolaan Ekosistem Mangrove Harus Berkelanjutan dan Mensejahterakan Rakyat

Lokakarya dengan tema Dukungan Multipihak untuk pengelolaan ekosistem Mangrove yang berkelanjutan untuk pembangunan rendah karbon dan kesejahteraan

Penulis: Arief Basuki | Editor: adi kurniawan
Arief Basuki
Lokakarya dengan tema ' Dukungan Multipihak untuk pengelolaan ekosistem Mangrove yang berkelanjutan untuk pembangunan rendah karbon dan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Banyuasin, Sumsel' di Hotel Santika Primiere Bandara, Palembang, Senin (4/3/2024). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG --- Pengelolaan dan pemulihan ekosistem mangrove yang berkelanjutan, telah menjadi prioritas kebijakan di tingkat nasional, terkait penerapan penurunan emisi gas rumah kaca dan pembangunan rendah karbon, konservasi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati serta rehabilitasi dan pengelolaan wilayah pesisir. 

Hal ini terungkap dalam Lokakarya dengan tema ' Dukungan Multipihak untuk pengelolaan ekosistem Mangrove yang berkelanjutan untuk pembangunan rendah karbon dan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Banyuasin, Sumsel' di Hotel Santika Primiere Bandara, Palembang, Senin (4/3/2024).

Ketua Forum DAS Sumatera Selatan Sr Syafrul Yunardi mengungkapkan, tujuan lokakarya ini untuk menyampaikan progres riset dan rekomendasi dari penelitian SMART oleh CIFOR, Forum DAS Sumatera Selatan, dan Universitas Sriwijaya. 

Termasuk menyediakan wadah diskusi dan menghimpun masukan untuk pembelajaran dan rekomendasi kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove berkelanjutan di Kabupaten Banyuasin untuk mendukung berbagai kebiajakan dan strategi pembangunan rendah karbon dan kesejahteraan masyarakat di Provinsi Sumatera Selatan maupun di tingkat nasional.

Serta mendorong potensi peran aktif dan kolaborasi multipihak di Kabupaten Banyuasin untuk perlindungan dan pemulihan ekosistem.

"Dengan pembelajaran dan rekomendasi dari tingkat daerah untuk pengelolaan mangrove yang berkelanjutan dalam mendukung pembangunan rendah karbon, dan kesejahteraa masyarakat yang akan dibawa ke forum tingkat nasional, dan terbentuknya rencana untuk realisasi forum kolaborasi multipihak untuk mangrove Kabupaten Banyuasin, " katanya. 

Cifor dengan mitra dengan Universitas Sriwijaya (Unsri) serta dengan Forum DAS Sumsel melaporkan hasil restorasi kita di Desa Sungsang 4 ada Marga Sungsang dan progresnya seperti apa.

“Karena restorasi mangrove ini tidak gampang , banyak orang menanam lalu ditinggal, kalau ditinggal mati, tapi kita tetap pantau hasil restorasi kita dan bagaimana juga restorasi ini sejalan dengan peningkatan bisnis masyarakat , eco wisata , jasa blue  kabon, karena riset kita , riset partisipatif jadi bereksperimentasi  dengan masyarakat, kita juga di desa mencoba dengan kawan-kawan menggagas pokja Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Banyuasin memastikan Mangrove di Banyuasin  terjaga, terkelola dengan baik ,” terang Direktur Cifor Indonesia Prof Dr Herry Purnomo. 

Menurutnya, mangrove yang rusak harus diperbaiki dan dibutuhkan dukungan semua pihak .

“Potensinya luar biasa , untuk wisata ,ada jadi sirup, sabun cuci bisa macam-macam, itu belum optimal kadang-kadang produknya ada tapi marketingnya masih kurang , masih lokal-lokal, kemudian itu tadi ada wisata , ada blue karbon belum dipanen oleh masyarakat,” tuturnya.

Disamping untuk mencegah perubahan iklim dengan mangrove atau dengan merestorasi  mangrove, mangrove juga bisa  meningkatkan ekonomi masyarakat yang harus jalan bareng.

“Karena melestarikan mangrove kalau masyarakatnya miskin-miskin  rusak juga akhirnya, kita ingin masyarakat sejahtera, masyarakat khan ada irisannya masyarakat penangkap udang , menangkap ikan itu di mangrove, mangrove itu menjadi habitat buat tangkapan mereka,” paparnya.

Pihaknya ingin membuat Arboretum di Desa Sungsang 4 dan itu menurutnya sudah jalan untuk wisata lokal .

“Tiga bulan lalu pak Sandiaga Uno datang ke Sungsang 4, beliau berpesan bahwa kalau bisa Sungsang 4 jadi model untuk eco wisata berbasis mangrove untuk seluruh Indonesia. Ini akan digarap pelan-pelan karena kita menginginkan yang menjadi actor utamannya masyarakat , itu  harus ada capacity building dan lain-lain,” ucapnya.

Untuk luasan mangrove di Sumsel menurutnya untuk di Banyuasin 130 ribu ha dan dikabupaten OKI namun belum diketahui persis jumlah luasannya.

“Jadi ada dua saja (Mangrove) ada di Banyuasin dan OKI kalau di OKI kondisinya terdegradasi , itu yang ingin kita mengurangi itu penyebabnya banyak untuk pembuatan tambak , perkebunan sawit, yang tambang kita ingin greening  ya.. tambak oke tetapi  bisa enggak mangrove terjaga,” jelasnya.
 
Terpenting pelestrian mangrove ini selain peran pemerintah juga melibatkan pihak-pihak lain juga .

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved