Opini
Opini: Islam dan Kasih Sayang
Kasih sayang merupakan salah satu nikmat yang besar dari Allah SWT untuk umat manusia.
SRIPOKU.COM -- Bulan Februari biasanya identik dengan sebutan bulan kasih sayang, karena tanggal 14 Februari kerap diperingati sebagai Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang, oleh sebagian orang.
Kasih sayang atau cinta sejatinya adalah fitrah manusia.
Setiap insan yang ada di dunia ini tentu ingin sekali memilikinya.
Rasa cinta ini yang membuat manusia merasa bahagia dan tentram.
Akan tetapi rasa cinta ini terkadang hanya ditampilkan hanya untuk manusia saja.
Padahal, cinta sejati tentunya hanya milik Allah SWT.
Cinta terhadap lawan jenis atau cinta terhadap sesama manusia, tentunya tidak dilarang, karena Allah SWT pun memberikan kebahagiaan dan bentuk kasih sayang-Nya melalui rasa tersebut, asalkan tidak bertentangan dengan aturan yang telah ditetapkan Allah SWT.
Bagaimana sebenarnya Islam memandang konsep kasih sayang? Mari kita kupas dalam tulisan ini.
===
Konsep kasih sayang dalam Islam
Kasih sayang merupakan salah satu nikmat yang besar dari Allah SWT untuk umat manusia.
Sebab, dengan kasih sayang dalam kehidupan ini akan tercipta kepedulian, rasa empati, dan kedamaian.
Rasa kasih sayang juga akan mendorong manusia untuk saling menolong, sehingga tercipta kerukunan dalam hidup bermasyarakat.
Tanpa adanya rasa kasih sayang, mungkin saja manusia dapat menjadi makhluk yang sangat individualis, egois, dan tidak perduli dengan kepentingan orang lain yang ada di sekitarnya.
Sesungguhnya banyak sekali ayat Al-Qur’an yang membahas tentang kasih sayang.
Bahkan salah satu kalimat toyyibah yang selalu diucapkan oleh umat Islam ketika mengawali semua aktivitasnya melambangkan cinta atau kasih sayang dari Allah SWT, yaitu Bismillahirrohmaanirrohiim (Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).
Kalimat toyyibah ini menggambarkan bahwa kasih sayang Allah SWT menjadi nafas dalam setiap langkah kehidupan kita.
Dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Turmudzi, “Barang siapa tidak menyayangi manusia, Allah tidak akan menyayanginya”.
Dari hadis tersebut, yang disebutkan adalah ‘manusia’ bukan hanya saudara muslim.
Oleh sebab itu, pada dasarnya dapat dipahami bahwa Islam mengajarkan kita untuk menyayangi semua manusia di bumi.
Tidak hanya pada hadits tersebut, dalam hadits lain juga diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sekali-kali tidaklah kalian beriman sebelum kalian mengasihi”.
Kemudian mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, semua kami pengasih”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kembali, “Kasih sayang itu tidak terbatas pada kasih sayang salah seorang di antara kalian kepada sahabatnya (mukmin), tetapi bersifat umum (untuk seluruh umat manusia” (H.R. Ath Thabra).
Hadits Rasulullah SAW. ini semakin menegaskan bahwa kosep kasih sayang dalam Islam bersifat universal, berlaku untuk semua umat manusia di muka bumi, bukan hanya sesama muslim.
===
Keutamaan menyayangi sesama manusia
Manusia merupakan makhluk yang unik, karena memiliki dua karakter sekaligus, yaitu sebagai makhluk individual dan sosial.
Sebagai makhluk individual, manusia memiliki privacy untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.
Sementara sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri, karena selalu membutuhkan manusia lainnya untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya.
Sebagai makhluk sosial, manusia juga harus menjaga keharmonisan dengan sesama tanpa melihat perbedaan yang ada, baik suku bangsa, warna kulit, bentuk fidsik tubuh dan sebagainya.
Dalam rangka mewujudkan keharmonisan hidup tersebut, manusia harus saling menyayangi.
Menyayangi sesama manusia menjadi hal dasar yang wajib dimiliki oleh setiap manusia di bumi.
Rasa saling menyayangi terhadap sesama manusia juga menjadi hal yang sangat penting dalam ajaran Islam.
Dalam konsep Islam, ada istilah hablumminallah (hubungan dengan Allah) dan hablumminannaas (hubungan dengan sesama manusia).
Kelanggengan hablumminannas harus didasari oleh kasih sayang yang tulus tanpa kepentingan.
Kasih sayang yang tulus ini harus disandarkan kepada Allah SWT.
Apa saja keutamaan saling menyayangi dalam Islam?
Salah satunya adalah hadits Rasulullah SAW yang berbunyi “man laa yarham, laa yurham” (Barang siapa yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi) (HR. al-Bukhori).
Dalam hadits Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dinyatakan : “Sayangilah yang ada di bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh yang ada di langit”.
Hadits ini dikuatkan lagi oleh hadits Riwayat Abu Daud: “Orang-orang yang saling berkasih sayang akan disayang oleh Zat yang Maha Penyayang. Maka sayangilah penduduk bumi maka Allah yang berada di atas langit akan menyanyangi kalian." (HR. Abu Dawud).
Hadits-hadits nabi di atas semakin menjelaskan bahwa saling menyayangi memiliki keutamaan dalam Islam.
Kasih sayang ibarat perekat dalam menjalin hubungan sosial, sehingga tercipta keharmonisan dan kedamaian dalam hidup bermasyarakat.
Islam mengajarkan kepada manusia untuk saling menyayangi, baik kepada sesama manusia maupun kepada sesama muslim.
Khusus kepada sesama muslim dan orang-orang yang beriman, Islam memberikan perumpamaan yang lebih berkesan agar kita semakin sadar akan signifikansinya.
"Perumpamaan sesama kaum mukminin dalam menjaga hubungan, kasih sayang dan kebersamaan seperti satu tubuh, jika satu anggota merasakan sakit, maka akan membuat seluruh tubuhnya terjaga dan merasakan demam." (HR. Muslim).
Begitu kuat persaudaraan yang diikat dengan keimanan.
===
Kasih sayang sebagai aspek keimanan
Islam adalah agama yang mengajarkan kepada umatnya agar selalu menebarkan kasih sayang di muka bumi kepada seluruh makhluk Allah SWT.
Dalam surat At-Taubah ayat 128, Allah SWT berfirman: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.
Sabda Rasulullah Muhammad SAW: “Kasih sayang itu tidak terbatas pada kasih sayang salah seorang di antara kalian kepada sahabatnya (mukmin), tetapi bersifat umum (untuk seluruh umat manusia.” (HR. Ath-Thabrani).
Sebaliknya, Rasulullah menegaskan bahwa orang-orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang di hatinya termasuk orang-orang yang celaka.
Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadisnya: “Rasa kasih sayang tidaklah dicabut, melainkan hanya dari orang-orang yang celaka.” (HR. Ibn Hibban).
Sebagai agama rahmatan lil ‘alamin atau rahmat bagi seluruh alam, Islam juga mengajarkan bahwa kasih sayang tidak hanya berlaku antar manusia, melainkan juga pada hewan, tumbuhan dan lingkungan yang ada di sekitarnya.
Diceritakan dalam suatu riwayat bahwa Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq RA berpesan kepada pasukan Usamah bin Zaid ketika memimpin suatu peperangan: “Janganlah kalian bunuh perempuan, orang tua, dan anak-anak kecil. Jangan pula kalian kebiri pohon-pohon kurma, dan janganlah kalian tebang pepohonan yang berbuah. Jika kalian menjumpai orang-orang yang tidak berdaya, biarkanlah mereka, jangan kalian ganggu”.
Nasihat ini, yang diberikan dalam keadaan perang, sungguh mencerminkan makna kasih sayang yang diajarkan oleh agama Islam.
Apalagi di saat damai seperti sekarang ini, menebarkan kasih sayang merupakan perilaku yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Kasih sayang tidak hanya untuk manusia, melainkan juga untuk lingkungan di sekitarnya.
Dengan demikian, rasa kasih sayang merupakan buah dari keimanan dalam diri seseorang.
Iman yang bersifat abstrak sesungguhnya menjadi energi sentral yang mampu menggerakkan perilaku manusia.
Keimanan juga menjadi landasan semua aktivitas manusia dalam kehidupannya.
Untuk itu, manusia yang beriman kepada Allah SWT. sejatinya akan memiliki rasa kasih sayang yang berlimpah dalam hatinya, sehingga dapat menyayangi sesamanya dan seluruh makhluk yang ada di bumi ini. Wallahu a’lam bisshowab. (*)
===
Simak berita Sripoku.com lainnya di Google News
Yuk gabung di Grup Whatsapp resmi Sriwijaya Post buat dapat update info seputar Sumatera Selatan dan Palembang lebih cepat ! (Klik di sini)
| Memahami Mewujudkan Kodifikasi dan Univikasi Hukum Pidana. |
|
|---|
| Keberhasilan bukan Kecepatan, Melainkan Konsistensi dalam Berproses, Sebuah Renungan di Awal 2026 |
|
|---|
| OPINI: Stres, Kopi, Begadang: Tiga Kebiasaan Kecil yang Diam-diam Merusak Jantungmu |
|
|---|
| OPINI: Diskon Listrik Masih Dinanti Masyarakat Sumsel |
|
|---|
| Langkah Menuju Keadilan Pajak untuk Pedagang Online dan Offline |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Dr-Fitri-Oviyanti-MAg-Dosen-Fakultas-Ilmu-Tarbiyah-dan-Keguruan-UIN-Raden-Fatah-Palembang.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.