Harga Karet
Update Harga Karet di Kabupaten OKU Sumsel, Selasa 28 November 2023
Di sisi lain, meskipun harga karet mengalami kenaikan sedikit, namun selama musim kemarau panjang ini produksi getah karet hancur.
Penulis: Leni Juwita | Editor: Ahmad Sadam Husen
SRIPOKU.COM, BATURAJA -- Memasuki minggu keempat bulan November 2023, harga karet di kawasan eks Transmigrasi Batumarta Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan (Sumsel) berada di angka Rp 10.300/kg.
Harga ini berlaku untuk penjualan dwi mingguan, sedangkan untuk mingguan sekitar Rp 9.000/kg dan bulanan Rp 12.000/kg.
Untuk kawasan hilir (Peninjauan dan sekitarnya) harga karet masih bertahan diangka Rp 11.500/kg.
Harga ini untuk penjualan dua mingguan, sedangkan untuk harga penjualan mingguan di kisaran Rp 10.000 dan harga jual bulanan sekitar Rp 13.000/kg.
Sedangkan untuk kawasan Ulu (Semidangaji dan sekitarnya) harga karet untuk dua mingguan mengalami kenaikan juga, dari Rp 10.000 naik menjadi Rp 11.200/kg.
Untuk harga mingguan dan bulanan sama dengan harga di Peninjauan, yaitu Rp 10.000/kg untuk mingguan dan Rp 13.000/kg untuk bulanan.
Mardani (55) salah satu petani karet mengatakan, harga karet di Peninjauan mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari biasanya yang selalu di bawah harga kawasan Ulu.
Untuk bulan-bulan sebelumnya, harga mingguan yang hanya Rp 8.000/kg mengalami kenaikan yang cukup tajam sebesar 2.000 hingga menjadi Rp 10.000.
Harga dua mingguan yang sebelumnya Rp 9.000/kg naik Rp 2.500 menjadi Rp 11.500/k,g dan harga bulanan yang sebelumnya Rp 10.000/kg naik Rp 3.000 menjadi Rp 13.000/kg.
Sedangkan di kawasan Ulu (Semidangaji sekitarnya) harga mingguan yang sebelumnya Rp 9.000/kg naik Rp 1.000 menjadi Rp 10.000/kg.
Harga dua mingguan yang sebelumnya Rp 10.000 naik Rp 1.200 menjadi Rp 11.200/kg dan harga bulanan yang sebelumnya Rp 11.000 naik Rp 2.000 menjadi Rp 13.000/kg.
Meskipun ada kenaikan sedikit untuk harga karet, namun setidaknya sejak memasuki tahun 2023 ini harga getah karet di tingkat petani lumayan stabil.
Karena menrutnya, harga cenderung bertahan di angka Rp 8000-Rp 11.000-an, sehingga petani tidak terlalu galau meskipun harga ini belum menggembirakan karena hasil getah karet sangat sedikit.
Banyak faktor yang, menurut Mardani harus dipertimbangkan.
Ia mengaku hingga saat ini masih akan bertahan di komoditas karet.
Alasannya karena karet sudah menjadi tanaman primadona sejak zaman nenek moyang karena diyakini komoditas andalan ini memang cocok ditanam di Kabupaten berjuluk Bumi Sebimbing Sekundang ini.
Di sisi lain, meskipun harga karet mengalami kenaikan sedikit, namun selama musim kemarau panjang ini produksi getah karet hancur.
Penurunan produksi getah karet diatas 50 persen dibandingkan kondisi normal,
“Biasonyo kami nimbang 6 keping (300 kg) sekarang nak dapat 3 keping susah,” keluh Ridwan.
Kekhawatiran lainya adalah bahaya kabakaran yang terus mengintai.
Memasuki musim kemaranu panjang ini petani sangat khawatir dengan api, karena sduah banyak kebun karet yang terbakar.
“Kemaren di Singapura, Kecamatan Semidangaji juga ada kebun karet petani terbakar,” kata Lita, petani karet lainnya.
Itulah sebabnya, pemilik kebun karet juga harus terus siaga untuk mengantisipasi agar kebun aman dari kebakaran.
Sebab setitik api seperti puntung rokok yang dibuang sembarangan bisa menghanguskan kebun karet.
===
Simak berita Sripoku.com lainnya di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Petani-karet-Batumarta-OKU-saat-mencetak-karet-beberapa-waktu-lalu.jpg)