Berita OKU

HUT ke-49 PT, Semen Baturaja Luncurkan Buku Sang Tiga Gajah, Rangkum Semua Perjalanan dari Awal

Direktur Utama SMBR Suherman Yahya menyebutkan, buku sejarah ini menandakan usia SMBR telah masuk setengah abad.

Penulis: Leni Juwita | Editor: Ahmad Sadam Husen
Dok. PT Semen Baturaja
Soft launching buku Sejarah SMBR, (dari paling kiri) Renold Rinaldi (moderator sekaligus penulis buku), Iwa Kartiwa (karyawan NIK 001 smbr/karyawan pertama), Suherman Yahya (Dirut SMBR), Iwan Bastari (karyawan NIK 002) serta Maruf Muttaqin (penerbit buku). 

SRIPOKU.COM, BATURAJA -- Sudah hampir lima dekade PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) selaku anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) telah hadir untuk negeri.

Berbagai tantangan dan dinamika yang telah dilalui, namun SMBR terus maju dan bertranformasi menjadi lebih kuat dengan bergabungnya SMBR ke dalam bagian ekosistem SIG.

Kisah perjalanan sejarah PT semen Baturaja pun dituangkan dalam buku berjudul “Sang Tiga Gajah’ yang ditulis oleh Renold Rinaldi dan diluncurkan pada ulang tahun PT SMBR ke-49.

Acara Bedah Buku Sejarah SMBR ini sebelumnya telah sukses soft launching pada  28 Oktober 2023 yang lalu di Jakarta.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber yang terlibat langsung dalam peristiwa-peristiwa di awal mula terbentuknya perjalanan SMBR, diantaranya Iwa Kartiwa selaku Karyawan SMBR dengan nomor identitas karyawan (NIK) 001 dan Iwan Bestari dengan NIK 002.

Iwa Kartiwa mengisahkan perjalanan saat SMBR pernah mengalami fase sulit di tengah kondisi pembangunan pabrik.

Sejak awal didirikan November 1974, menurutnya masalah sudah menghampiri, mulai dari proses birokrasi yang berbelit-belit serta keadaan saat itu di mana kurs rupiah tengah ter-devaluasi cukup hebat lantaran kebijakan KNOP 15 yang dijalankan pemerintah Orde Baru.

“Fenomena Yendaka mengakibatkan proses pembangunan pabrik Semen Baturaja tersendat, sebab pada tahap konstruksi dibutuhkan bahan baku impor."

"Devaluasi membuat rencana pembangunan pabrik itu lebih mahal dan berisiko macet,” urai Iwa Kartiwa.

Selanjutnya karyawan ber-NIK 002, Iwan Bestari menambahkan, sejak awal perencanaannya, PTSB (yang sekarang ini dinamakan SMBR) didesain untuk pembangunan pabrik di 3 kawasan, yakni Baturaja, Palembang dan Panjang (Lampung).

Hanya saja, untuk pembangunan pabrik di kawasan Baturaja memang membutuhkan perhatian berbeda dibanding dua pabrik lainnya di Palembang dan Panjang.

“Karena di Baturaja para perintis itu harus membabat alas, maklum kawasan itu masih berupa hutan belukar dengan berbagai binatang buas di dalamnya,” kenang Iwan.

Kisah perjalanan SMBR dirangkum dalam satu buku yang memuat 364 halaman ini, dengan penulis dan tim penyusun telah mewawancarai lebih dari 30 narasumber, baik dari jajaran direksi lintas generasi, mantan karyawan, komisaris, stakeholder dan lapisan masyarakat.

Tokoh-tokoh beken yang diwawancarai antara lain tokoh nasional Azwar Anas, mantan direktur dan pendiri SMBR, mantan Anggota DPR/RI Marzuki Alie, Pamudji Rahardjo selaku Direktur Utama yang berhasil membawa SMBR melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga Daconi Khotob yang membawa perusahaan di masa transisi ke SIG.

Direktur Utama SMBR Suherman Yahya menyebutkan, buku sejarah ini menandakan usia SMBR telah masuk setengah abad.

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved