Opini: Akhirnya Anas Urbaningrum Itu Bebas
Akhirnya Anas Urbaningrum resmi bebas bersyarat dari Lapas Sukamiskin, Kota Bandung, Selasa, 11 April 2023.
Oleh: Dasman Djamaluddin SH MHum
(Mantan Wartawan Sriwijaya Post, Penulis Biografi dan Sejarawan)
SRIPOKU.COM -- AKHIRNYA mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum resmi bebas bersyarat dari Lapas Sukamiskin, Kota Bandung, Selasa, 11 April 2023. Ia menjalani program cuti menjelang bebas (CMB) dengan tetap wajib lapor ke Balai Pemasyarakatan (Bapas) Bandung.
Anas Urbaningrum langsung disambut oleh ratusan sahabat Anas Urbaningrum yang sudah menunggu di halaman Lapas Sukamiskin sejak pagi. Ia dilepas oleh Kepala Lapas Sukamiskin Kunrat Kasmiri. Delapan tahun di dalam tahanan, menurut Anas, ia tetap tegar dan sehat, berkat lindungan Allah SWT, tidak kurang sesuatu apa pun. Ia tetap melontarkan senyumannya yang khas. Ia pun berjanji akan tetap berjuang untuk kepentingan bangsa.
Siapa Anas Urbaningrum?_
Nama lengkapnya Dr H Anas Urbaningrum SIP MSi Ialahir pada 15 Juli 1969 di Ngaglik, Srengat, Blitar, Jawa Timur. Usianya sekarang 53 tahun. Dikutip dari berbagai sumber, Anas Urbaningrum sebelumnya sangat aktif berorganisasi. Ia adalah kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pada Kongres HMI 1997, Anas terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) HMI.
Di masa Nurcholis Madjid atau lebih akrab dipanggil Cak Nur masih hidup, Anas Urbaningrum bersama-sama turut dipercaya oleh pemerintah untuk menjadi Tim Perumus KPU yang kemudian dikenal sebagai Tim 11. Tim ini diketuai oleh Cak Nur, hingga lembaga ini jadi dan disahkan Cak Nur sendiri yang kemudian tidak pernah terlibat lebih lanjut di KPU. Sementara Anas Urbaningrum masih terlibat di KPU, bahkan hingga ia demisioner sebagai Ketum PB HMI, ia pun masih aktif di KPU. Atas jasanya ini, ia dianugerahkan Bintang Jasa Utama dari Presiden RI, 1999.

Anas sendiri kemudian memasuki kancah politik praktis dengan bergabung ke Partai Demokrat pada tahun 2005, yang menurutnya adalah kendaraan yang tepat untuk melaksanakan gagasannya, karena Partai Demokrat memiliki ideologi nasionalis-religius. Praktis, pada tahun itu pun, ia mengundurkan diri dari KPU. Kiprah Anas Urbaningrum dalam politik praktis terbilang lancar, ia berhasil menjadi anggota DPR RI pada Pemilu 2009 dengan mencalonkan diri di kota kelahirannya Blitar, Jawa Timur.
Kemudian, ia dipercaya menjadi Ketua Fraksi Demokrat DPR RI dan berhasil mensolidkan barisan Partai Demokrat yang saat itu diterpa isu Skandal Bank Century. Pada Kongres ke-2 Partai Demokrat di Bandung pada 20-23 Mei 2010, Anas Urbaningrum terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat dan menjadikannya ketua umum parpol termuda pada saat itu.
Selain sebagai politisi, pria kelahiran Blitar, 15 Juli 1969 yang dikenal sebagai intelektual yang cakap. Ia sendiri menulis beberapa buku di antaranya: “Menuju Masyarakat Madani: Pilar dan Agenda Pembaruan (1997),” Jangan Mati Reformasi: HMI dan Ikhtiar Sejarah Menuju Indonesia Baru (1999), ” Ranjau-Ranjau Reformasi: Potret Konflik Politik Pasca Kejatuhan Soeharto (1999).”
Juga Anas menulis buku: “Pemilu Orang Biasa: Publik Bertanya Anas Menjawab (2004),” Islamo-demokrasi: Pemikiran Nurcholish Madjid (2004),” Melamar Demokrasi: Dinamika Pemilu Indonesia (2004), ” Menjemput Pemilu 2009 (2008), “Takdir Demokrasi: Politik untuk Kesejahteraan Rakyat (2009), ” Bukan Sekadar Presiden: Daya Gugah SBY sebagai Seorang Pemimpin (2009), ” Revolusi Sunyi: Mengapa Partai Demokrat dan dan SBY Menang Pemilu 2009 (2010).”
Pemikiran Anas Urbaningrum sendiri meyakini bahwa jalan terbaik bagi terbentuknya negara Indonesia yang demokratis adalah demokrasi yang berlandaskan pada nilai-nilai kebangsaan dan juga keislaman. Ia memiliki pemikiran serupa dengan Cak Nur terkait hal ini. Menurutnya proses Reformasi ini jangan sampai hanya pada tahap perubahan rezim, namun tidak melahirkan perubahan yang fundamental dalam kesejahteraan rakyat. Memang demokrasi baginya pasti akan melahirkan kegaduhan dan perbedaan pendapat, namun itu semua adalah dialektika biasa dalam alam demokrasi untuk menciptakan kedewasaan berpolitik.
Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Tampilnya Anas sebagai ketum parpol pemenang pemilu saat itu, membuatnya disegani bahkan oleh lawan-lawan politiknya. Bahkan usianya yang muda, membuatnya dianggap sebagai “rising star” dalam perpolitikan Indonesia, beberapa orang pun menjagokannya sebagai calon presiden Indonesia masa depan.
Rupanya tak disangka karier Anas tidak semulus yang diperkirakan, terkuak Skandal Wisma Atlet. Namanya diseret oleh Nazaruddin dalam kasus tersebut. Belum lagi isu perseteruannya dengan SBY, karena SBY sendiri saat Kongres Demokrat 2010 mendukung Andi Malaranggeng. Pertikaian internal ini diperparah, dengan banyaknya petinggi Demokrat yang kemudian diciduk KPK dan anjloknya elektabilitas Partai Demokrat.
Akhirnya pada tahun 2013, Anas terpaksa mengundurkan diri dan posisi ketum, dalam Kongres Luar Biasa (KLB) dan posisinya diambil alih oleh SBY. Anas Urbaningrum menyatakan, ia mengundurkan diri agar dapat lebih fokus melanjutkan proses hukumnya.
Selepas dari Partai Demokrat, Anas kemudian mendirikan Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI). Banyak kader-kader Demokrat yang merupakan loyalis Anas, seperti I Gede Pasek Suardika dan Tri Dianto yang kemudian bergabung dengan PPI.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/dasman-djamaluddin.jpg)