Opini: Aura Ramadhan di Bulan Syaban
Bekal kebersihan jiwa, ketulusan batin dan kekokohan iman merupakan modal paling utama dalam perjalanan menuju Allah Swt.
Oleh: John Supariyanto
SRIPOKU.COM -- AURA Ramadhan sebenarnya sudah mulai terasa sejak di bulan Rajab dan lebih menghangat lagi di bulan Sya’ban. Paling tidak hal ini bisa dilihat dari berbagai persiapan yang dilakukan oleh para pengurus masjid, mushalla, kantor-kantor dan lembaga-lembaga pendidikan dan lain-lain. Ya, semua mulai berbenah.
Mereka sudah mulai menyusun agenda Ramadhan dengan menghubungi para ustadz dan kiyai untuk mengisi majelis kajian, menyusun petugas shalat tarawih, menyiapkan fasilitas di rumah-rumah ibadah dan lain sebagainya. Hal ini tidak lain karena semangat menyambut bulan suci Ramadhan semakin semarak dan semoga juga merupakan indikasi semangat beribadah dan peningkatan kualitas diri di hadapan Tuhan yang semakin membaik.
Tebar pesona Ramadhan di bulan Rajab mulai terasa ketika mulai dituturkan doa yang begitu populer “Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadhan”. Do’a ini mengingatkan sekaligus menyadarkan bahwa bulan mulia tersebut segera hadir tidak lama lagi.
Meskipun doa tersebut bersumber dari hadits yang dianggap dha’if (lemah) kualitasnya oleh para ulama’, namun pesan yang terdapat di dalamnya cukup menggambarkan kerinduan mendalam seorang beriman untuk dipertemukan kembali dengan Ramadhan.
Kerinduan itu tentu sangat beralasan, mengingat kebaikan dan keutamaan bulan suci ini yang luar biasa dan tidak terdapat pada bulan-bulan lainnya. Siapapun yang mengucapkan atau mendengar do’a ini tergambar dalam benaknya suasana Ramadhan dan semarak aktifitas ibadah yang ada di dalamnya.
Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:
Lebih dari itu, ada pula informasi dari kitab-kitab riwayat yang menyatakan bahwa “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku (Rasul Saw.) dan Ramadhan adalah bulan umatku”. Ungkapan ini juga sangat populer dan seringkali disampaikan dalam khutbah ataupun ceramah para asatidz di majelis-majelis ilmu pada bulan Rajab dan Sya’ban.
Memang secara keilmuan hadits ini tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadits yang mu’tabarah alias hadits maudhu’ (palsu), namun dalam konteks tebar aura ungkapan ini semakin menguatkan hubungan Rajab dan Sya’ban dengan Ramadhan. Nyatanya, ketiga bulan ini memiliki ikatan yang kuat dalam sistem ibadah dan tradisi keagamaan umat Islam. Di bulan Rajab yang terdapat peristiwa isra’ dan mi’raj Rasul Saw. di dalamnya juga terdapat nash tentang disunnahkannya berpuasa.
Begitupun di bulan Sya’ban dinyatakan sebagai momen Rasul Saw. memperbanyak puasa, bahkan -menurut hadits riwayat ‘Aisyah- lebih banyak dan dominan dibandingkan dengan puasa sunnah di bulan-bulan lainnya. Sedangkan Ramadhan memang disebut dengan “bulan puasa” atau “syahr ash-shiyam” karena semua umat beriman diwajibkan berpuasa di dalamnya sebulan penuh.
Oleh karena itu tidak salah jika disebutkan sebagai analogi dengan shalat lima waktu bahwa dalam puasa juga terdapat puasa sunnah qabliyyah dan ba’diyyah. Puasa Sya’ban sebagai sunnah qabliyyah, sedangkan puasa Syawwal adalah ba’diyyahnya.
Selanjutnya, sebelum keberangkatan Rasul Saw. dalam pristiwa isra’ dan mi’raj di bulan Rajab, terdapat peristiwa yang cukup penting dan bernilai filosofis dalam rangkaian ibadah umat Islam menjelang Ramadhan. Peristiwa penting itu adalah ‘operasi organ dalam’ Rasul Saw. oleh malaikat atas perintah Allah Swt., sebagaimana diungkap dalam hadits-hadits shahih. Disebut sebagai ‘organ dalam’ karena tidak dapat dipastikan organ apa yang dikeluarkan dari tubuh beliau, dibersihkan lalu dimasukkan kembali itu. Ada yang menyebutnya dengan ‘hati’, ada pula yang mengatakan ‘jantung’ dan ada juga pandangan yang melihatnya secara metaforis dan bersifat ruhani.
Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Peristiwa sejenis ini sebenarnya juga pernah beberapa kali dialami Rasul Saw., seperti yang dinyatakan dalam beberapa riwayat, yakni pada usia usia anak-anak, menjelang baligh sekira usia 14-15 tahun dan menjelang diangkat menjadi rasul.
Proses kejadianya persis sama dengan yang terjadi sesaat sebelum peristiwa isra’ dan mi’raj di bulan Rajab. Dalam hal ini, ‘operasi organ dalam’ yang dilakukan pada Rasul Saw. antara lain dapat dipahami selain sebagai isyarat ‘bersih-bersih bathin’ sebelum melakukan perjalanan panjang yang mungkin akan menghadapi goncangan, juga merupakan symbol persiapan bekal yang matang, baik fisik ataupun psikis. Itu sebabnya mengapa operasi ini berkali-kali dilakukan pada Rasul Saw.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/John-Supariyanto.jpg)