Pemuda di Banyuasin Ini Raup Untung Puluhan Juta Per Bulan dari Ternak Ayam dan Giling Daging Bakso
Usaha penggilingan bakso yang digeluti Ayank berkembang pesat. Puluhan kilogram daging digiling setiap hari. Saat ini Ayank sudah punya 3 karyawan
SRIPOKU.COM, BANYUASIN - Ayank Subakti (23), seorang pengusaha muda asli Desa Lalang Sembawa, Kecamatan Sembawa, Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sukses mengembangkan usahanya di bidang peternakan.
Ayank Subakti merupakan alumni SMK PPN Sembawa prodi Agribisnis Ternak Unggas (ATU).
Selepas lulus sekolah Ayank Subakti tidak memilih langsung melanjutkan kuliah atau melamar pekerjaan di perusahaan.
Baca juga: Puskeswan di Sembawa Banyuasin Diresmikan, Bupati Askolani; Bila Sudah Diresmikan Harus Berjalan
Ayank Subakti memiliki inisiatif mengembangkan usaha milik orang tuanya.
Awalnya hanya berternak dan berjualan ayam di pasar, kini sudah membuka usaha penggilingan bakso di samping rumah.
Setiap bulan meraup keuntungan hingga puluhan juta rupiah.
"Pernah dapet tawaran kerja di perusahaan, tapi saya pilih mengembangkan usaha dan Alhamdulillah hasilnya lumayan," kata Ayank Subakti didampingi istri tercinta, Kamis (10/11/2022).
Usaha penggilingan bakso yang digeluti Ayank berkembang pesat.
Puluhan kilogram daging digiling setiap hari.
Saat ini Ayank sudah memiliki 3 karyawan.
Meskipun sudah memiliki 3 orang karyawan, Ayank Subakti tetap ikut terjun langsung.
Ayank Brother
Usaha penggilingan bakso miliknya itu diberi nama "Ayank Brother".
Brand itu dipilih Ayank karena ia empat bersaudara. Semua saudaranya laki-laki.
Pedagang atau konsumen yang ingin menggiling bakso di tempatnya bisa membawa daging sendiri dari rumah atau bisa membeli daging ayam yang dijualnya.
Untuk sistem kerjanya, daging utuh digiling kasar.
Setelah digiling kasar baru daging tadi dicampur bumbu-bumbu dan juga sagu dengan takaran sesuai permintaan pelanggan.
"Pelanggan pulang adonan bakso siap dibuat pentol sesuai keinginan," ujar Ayank Subakti, anak pertama dari empat bersaudara pasangan Muhammad Bakri dan Fitri Yanti.
Untuk upah hanya menggiling daging saja sebesar Rp 5.000 per kilogram.
Jika menggiling daging langsung dicampur dengan adonan sebesar Rp 10.000 per kilogram.
Itu masih belum termasuk bumbu.
Duta Petani Milenial
Ayank menuturkan, mesin yang digunakan untuk menggiling daging itu dibelinya dengan paket komplit dengan kisaran harga Rp 45 juta dari Klaten melalui agen di Palembang.
Mesin berbentuk memanjang 2 meter lebar 1 meter, tinggi 300 centimeter, dengan berat 500 kilogram itu beroperasi menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.
"Kapasitas mesin ini sekali giling mampu menampung 15 kilogram total bahan daging, bumbu, dan sagu," imbuhnya.
Ayank Subakti mengaku kerap diundang ke sekolahnya SMK PPN Sembawa untuk menjadi guru tamu Duta Petani Milenial.
Ayang berbagi pengalaman dan memberikan motivasi kepada adik-adik tingkatnya.
"Intinya kita jangan takut dengan kegagalan ketika memulai sebuah usaha. Karena kegagalan yang kita alami adalah bahan pembelajaran untuk memperbaiki usaha kita," ujar Ayank Subakti.
Penulis: Yokin Darma Pratama, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Stisipol Candradimuka Palembang
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Ayank-Subakti-pengusaha-ternak-ayam-dan-penggilingan-bakso-di-Banyuasin.jpg)