Penganiayaan Diksar UKMK Litbang

Mata Masih Lebam, Korban Penganiayaan Saat Diksar UKMK Litbang UIN Datangi SPKT Polda Sumsel

Korban kekerasan saat diksar UKMK Litbang UIN Raden Fatah Palembang resmi melaporkan para pelaku ke SPKT Polda Sumsel

Editor: adi kurniawan
Handout
Arya Lesmana Putra dengan mata yang masih lebam resmi melaporkan para pelaku ke SPKT Polda Sumsel, pasca menjadi korban penganiayaan dalam diksar UKMK Litbang UIN Raden Fatah Palembang di Bumi Perkemahan Gandus, Selasa (4/10/2022). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Arya Lesmana Putra, korban kekerasan dan pelecehan saat menjadi panitia diksar UKMK Litbang UIN Raden Fatah Palembang di Bumi Perkemahan Gandus resmi melaporkan para pelaku ke SPKT Polda Sumsel

Para pelaku yang dilaporkan disangkakan pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan. 

Arya melapor ke SPKT Polda Sumsel didamping kuasa hukumnya.

Arya sendiri telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah menjalani perawatan akibat dugaan pengeroyokan yang dialami saat mengikuti diksar UKMK Litbang.

Dengan kondisi luka lebam dan mata yang masih bengkak Arya yang ditemani ayah tercinta mendatangi SPKT Polda Sumsel

Sigit Muhaimin, kuasa hukum Arya mengatakan kedatangannya untuk melaporkan pelaku yang melakukan tindak kekerasan dan dugaan pelecehan terhadap kliennya. 

"Kami melaporkan peristiwa pengeroyokan mahasiswa sebuah UKMK di salah satu Perguruan tinggi di Palembang. 

Korban mengalami luka lebam akibat pukulan di mata, pipi, dan memar sampai seluruh tubuh, " katanya usai membuat laporan di Polda Sumsel, Selasa (4/10/2022) malam. 

Pokok permasalahan yang mendasari pengeroyokan itu berawal dari informasi pamflet yang berisikan biaya mengikuti pendiksaran. 

Pendiksaran mulanya hendak dilaksanakan di Bangka Belitung dengan biaya Rp 300 ribu per orang. 

Arya saat itu bertugas menjadi panitia diksar bagian konsumsi. 

"Lalu begitu mendekati hari keberangkatan ketika uang milik peserta diksar terkumpul panitia lain mengubah lokasi menjadi di Bumi Perkemahan Pramuka Gandus.

Lanjutnya, para peserta diksar juga diminta untuk membawa sembako masing-masing.

"Klien kami dengan rasa kegelisahan dan tidak tega kepada peserta, cerita soal itu ke temannya yang ada di organisasi lain," jelasnya. 

Ia menyebut jika kliennya mengingat ada lima orang pelaku utama pengeroyokan namun sejatinya ada lebih dari 10 orang pelaku. 

"Tapi biarlah hasil penyidikan nanti yang menjawab, " katanya. 

Ditambahkan Sigit, terkait adanya pemanggilan mahasiswa terduga pelaku pengeroyokan oleh pihak rektorat, dirinya berharap Universitas dapat memberikan sanksi pemberhentian kepada para pelaku jika sudah terbukti. 

"Kami harap pelaku tidak hanya disanksi administrasi tapi juga pemberhentian dari kampus, " terang dia.

 

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved