Water Logger Cegah Kebakaran Lahan Gambut

Resiko kekeringan dan kebanjiran masih menjadi permasalahan utama dalam pengelolaan gambut yang berkelanjutan.

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/Istimewa
Bowo Suratmanto Praktisi Water Management 

Oleh: Bowo Suratmanto
Praktisi Water Management

SRIPOKU.COM -- PENGELOLAAN gambut akhir-akhir ini mengalami perkembangan yang sangat pesat baik pengembangan teori maupun praktek-praktek di lapangan. Para praktisi gambut dengan berbagai pengalaman bahu membahu mengembangkan keilmuan gambut sebagai upaya agar sumber daya alam lahan gambut dapat dimanfaatkan dengan sangat baik. Upaya-upaya terbaik sudah dilakukan agar lahan gambut dapat dikembangkan baik dari segi lingkungan maupun ekonomi serta sosial.

Secara alami kondisi lahan gambut merupakan lahan darat yang tergenang dalam waktu lama secara periodik atau terus menerus, karena sistem drainase yang buruk. Akibat dari pengelolaan yang kurang tepat maka gambut akan sangat beresiko mengalami kekeringan dan mengakibatkan meningkatnya resiko kebakaran hutan dan lahan gambut.

Resiko kekeringan dan kebanjiran masih menjadi permasalahan utama dalam pengelolaan gambut yang berkelanjutan. Harus ada upaya-upaya pengembangan yang lebih intensif dan terpadu baik dalam hal perencanaan maupun pengelolaan itu sendiri. Tingkat kebasahan dan kelembaban gambut menjadi faktor penting dalam upaya pencegahan bahaya kebakaran hutan dan lahan gambut sehingga sangat dibutuhkan data tinggi muka air tanah dan suhu.

Data-data tersebut sangat dibutuhkan secara terus menerus (time series) sehingga dapat dianalisa dengan tepat dan dapat dijadikan permodelan pengelolaan lahan gambut serta yang paling penting dapat dipergunakan sebagai upaya preventif/ deteksi dini dalam upaya pencegahan bahaya kebakaran hutan dan lahan gambut (early warning system). Dengan adanya keterbatasan kondisi di lahan gambut maka diperlukan metode pengambilan data yang lebih efektif, detail, akurat dan memenuhi rentang waktu serta keruangan.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Pengukuran tinggi muka air tanah (TMAT) di lahan gambut dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu dengan pengukuran manual dan otomatis. Pengukuran manual dapat dilakukan dengan cara memasang pipa dengan lubang perforasi di lahan gambut dengan kedalaman tertentu dan dapat diukur dengan manual tinggi muka air tanahnya.

Kelebihan metode pengukuran ini adalah pengukuran dilaksanakanlangsung di lapangan oleh surveyor sehingga dapat memantau kondisi lapangan secara langsung sekaligus melaksanakan patroli pengamanan serta dapat melakukan tindakan yang diperlukan apabila terjadi tinggi muka air tanah yang terlalu kering. Sedangkan kelemahannya adalah butuh tenaga pengukur yang banyak, membutuhkan waktu yang lama untuk pungukuran, masih ada resiko kesalahan dalam pengukuran (human error).

Kendala yang lain adalah terutama kondisi areal yang jauh dan terpencil serta akses yang cukup susah. Sedangkan pengukuran secara otomatis dilakukan dengan memasang alat yaitu water logger di lahan gambut. Water Logger adalah merupakan alat pengukur ketinggian dan suhu air di lahan gambut.

Kelebihan dari metode ini adalah dapat merekam data dalam rentang waktu tertentu, dapat dipergunakan dalam waktu yang lama, dapat dipasang di tempat yang jauh dan terpencil, data yang terekam lebih akurat dan mengurangi kesalahan pencatatan data. Dengan alat ini data yang terekam bersifat kontinyu, terus menerus (time series) sehingga mempermudah dalam melakukan kajian dan analisa.

Sedangkan kelemahan dari alat ini adalah selain biaya yang cukup mahal dan alat yang dipasang di lahan rentan mengalami kehilangan atau pencurian tetapi hal ini dapat disiasati dengan penjagaan yang ketat maupun pemasangan pengaman. Dan apabila alat ini hilang maka data otomatis akan hilang juga. Kelemahan lain adalah alat apabila terjadi error maka data tidak dapat terekam dengan baik.

Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Logo instagram.com/sriwijayapost/

Water Logger dapat dipasang untuk memantau ketinggian muka air tanah maupun muka air kanal atau sungai. Water logger untuk ketinggian muka air tanah dipasang di tengah lahan gambut dengan memasukkan sensor ke dalam sumur pantau yang menggunakan pipa berlubang. Water logger akan merekam data dalam rentang waktu tertentu sesuai dengan kebutuhan data, misalkan setiap 10 menit ataupun 1 jam. Analisa data yang terekam dapat dilakukan untuk mengetahui fluktuasi naik turunnya tinggi muka air tanah serta suhu dan kelembaban gambut. Data tinggi muka air tanah juga dapat dikorelasikan dengan data iklim mikro seperti data curah hujan. Data tersebut sangat berguna untuk dapat memantau kelembaban gambut sehingga dapat memperkecil resiko kebakaran yang mungkin terjadi.

Sedangkan water logger untuk pemantauan muka air kanal atau sungai dipasang di saluran kanal atau sungai dengan menggunakan papan rambu air (peilscaal) dan sensor ditempatkan pada saat muka air surut terendah. Fungsi dari water logger ini diperuntukkan untuk mengetahui fluktuasi naik turunnya muka air di saluran kanal maupun sungai, sehingga dapat dibuat permodelan dan pendugaan pasang surutnya. Data tersebut sangat berguna untuk dilakukan tindakan antisipasi kekeringan dan kebanjiran yang terjadi di lahan gambut terutama apabila ada terpasang pintu-pintu air di areal pasang surut. Jadwal buka tutup pintu air dapat menggunakan data tinggi muka air sungai sebagai acuannya.

Pengumpulan data water logger dapat dilakukan dengan 2 (dua) metode, yaitu dengan mengunduh data secara langsung (download) menggunakan koneksi langsung ke laptop maupun perangkat lainnya, atau dengan metode telemetri. Metode unduh data langsung dilakukan dapat setiap bulan, 3 bulan atau sesuai dengan kebutuhan data. Pengunduhan data dapat menggunakan kabel yang terkoneksi maupun nirkabel, tergantung dari kelengkapan perangkat yang ada.Kelebihan metode ini adalah data harus diunduh secara langsung oleh surveyor sekaligus dapat dilakukan pengecekan fungsi alat dan perawatan yang diperlukan. Kekurangan dari metode ini antara lain, pengunduhan data harus dilakukan di lapangan, data tidak terbaca real time dan perlu waktu yang lama untuk melakukan pengunduhan data.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved