Opini
Media Sosial: Potret Budaya dan Etika
SAAT ini dapat dikatakan sebagai era emas kemajuan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informatika, satu diantaranya media sosial.
Oleh: Otoman
Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Fatah Palembang
SAAT ini dapat dikatakan sebagai era emas kemajuan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informatika, satu diantaranya media sosial.
Media sosial (medsos) sudah menjadi kebutuhan hidup manusia, hampir setiap saat orang mengakses internet demi terhubung dengan perkembangan berita yang ada di media sosial.
Penggunaan media sosial di masyarakat akhir-akhir ini cukup memprihatinkan, dalam setiap kalangan, terutama generasi muda.
Medsos yang seyogyanya digunakan sebagai sarana interaksi dan sosialisasi agar silaturahmi tetap terjaga tanpa terhalang oleh tempat dan waktu, kini sering disalahgunakan.
Media sosial cenderung digunakan sebagai ajang pamer, seperti pamer harta, pamer kemesraan, pamer kata-kata bijak, pamer beribadah, pamer bersedekah, pamer kesuksesan, dan lain sebagainya yang berujung pada unsur ria, sombong, ingin dipuji, ajang maksiat (seperti mengekpos berita-berita bohong, ghibah, fitnah, ujaran kebencian, memamerkan keindahan tubuh, mengekspos gambar atau videoporno serta perbuatan-perbuatan maksiat lainnya. Medsos menjadi candu bagi masyarakat kita, khususnya di kalangan muda.
Generasi muda saai ini hampir sepanjang hari tidak lepas dari smartphone-nya. Facebook, twitter, path, youtube, instagram, line, snapchat, whatsapp dan sebagainya adalah medsos yang sering dan menarik untuk digunakan oleh kalangan remaja (Syahidah, tt).
Fenomena medsos di tengah zaman yang penuh inovasi teknologi komunikasi di dunia maya sangat berperan dalam aktivitas keseharian bersosial di masyarakat (Kartono, 2018). Karena medsos sangat banyak menawarkan kemudahan yang membuat orang betah berlama-lama.
Namun, kemudahan itu telah banyak disalahgunakan oleh mereka yang tidak berbudaya dan beretika.
Berdasarkan laporan Digital Civility Index (DCI) yang mengukur tingkat kesopanan digital pengguna internet dunia saat berkomunikasi di dunia maya, menunjukkan bahwa warganet Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara.
Riset yang dirilis oleh Microsoft ini menunjukkan bahwa warganet Indonesia paling tidak sopan se-Asia Tenggara (Kompas.com, 2021).
Laporan survei Royal Society for Public Health (RSPH) di Inggris pada awal 2017 menjawab pertanyaan selama ini tentang pengaruh penggunaan platform media sosial bagi remaja dan dewasa. Jawabannya adalah media sosial berpengaruh baik sekaligus buruk secara bersamaan (Kompas.com).
Hal tersebut tentu saja telah menciderai nama baik kita sebagai bangsa yang beragama dan berbudaya.
Aktivitas-aktivitas yang dilakukan melalui medsos yang seharusnya menjadi sarana beribadah dalam arti yang luas justru dikotori dengan perbuatan-perbuatan mungkar (keji) tanpa memperhatikan etika, agar terhindar dari murka Allah Swt. Lihat QS. An-Nur:11).
Seorang muslim dalam berinteraksi dan bersosialisasi menggunakan medsos hendaknya senantiasa menjunjung tinggi etika, dengan saling menghormati sesama mahluk ciptaan Allah, karena setiap perbuatan yang dikerjakan di dunia
akan dipertanggungjawabkan di akhirat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/otoman1-otoman.jpg)