Idul Fitri, Kembali ke Titik Nol
Rasul Saw. mengatakan: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap keutamaan diampunkan baginya dosa-dosa yang telah lalu”.
Oleh: H. John Supriyanto, MA
Dosen Ilmu Al Qur'an dan Tafsir UIN Raden Fatah dan Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur'an dan Tafsir Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur'an Al-Lathifiyyah Palembang
SRIPOKU.COM -- BULAN suci Ramadhan adalah nikmat luar biasa yang dianugerahkan kepada umat beriman. Bagaimana tidak. Allah Swt. menjanjikan keterampunan dosa secara total bagi mereka yang berpuasa di bulan ini. Rasul Saw. mengatakan: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap keutamaan diampunkan baginya dosa-dosa yang telah lalu”.
Mereka yang sungguh-sungguh dalam ibadah Ramadhan dipastikan akan kembali ke titik nol disaat beridul fithri, “ka yaumin waladathu ummuhu” (seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya). Keterampunan dosa bagi seorang beriman adalah sebuah kenikmatan yang tak ternilai. Untuk mencapai kondisi inilah mengapa Rasul Saw. mengajarkan untuk banyak beristighfar, minimal 70 kali dalam sehari.
Pada hakikatnya semua ibadah dan kebaikan berperan mengembalikan pelakunya pada titik nol. Maksudnya, semua ibadah atau kebaikan telah disetting Tuhan sebagai media dalam meraih ampunan-Nya. Baik terjadi secara perlahan dan sedikit demi sedikit maupun secara langsung dan total.
Sebut saja misalnya shalat lima waktu. Rasul Saw. mengibaratkannya seperti seseorang yang mandi lima kali sehari. Dapat dipastikan tidak akan ada noda yang tersisa sedikitpun di tubuhnya. Begitu pula shalat Jum’at yang oleh Rasul Saw. disebut sebagai kaffarat (penebus) dosa mingguan dan puasa- puasa sunnah sebagai penebus dosa bulanan. Dalam hal ini, ibadah Ramadhan berfungsi membersihkan dosa tahunan. Bahkan, ibadah haji disebut memiliki keutamaan menghapus dosa seumur hidup.
Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:
Tidak hanya itu, bahwa shadaqah, zikir, membaca Al Qur’an dan lain sebagainya juga berperan menghapus sedikit demi sedikit dosa dan keburukan yang pernah dilakukan. Ya, itulah sunnatullah, hukum semesta yang melingkupi segenap ciptaan-Nya, “inn al-hasanat yuzhibna as-sayyi’at”, “sungguh kebaikan itu menghapus keburukan” (Qs. Hud : 114).
Di antara pesan penting tema ini adalah bagaimana memaksimalkan ibadah Ramadhan sebagai penghantar ke titik nol tersebut. Untuk itu, perlu dirujuk petunjuk-petunjuk Rasul Saw. dan prakteknya dalam kehidupan beliau bersama para shahabat yang mulia. Sehingga ibadah dan amaliyah Ramadhan tetap berada dalam tuntunan dan batasan syari’at yang ma’tsurat (berdasar).
Pertama, ibadah Ramadhan pada hakikatnya adalah bersifat ‘ibadah 'amaliyyah (perbuatan). Artinya, puasa adalah perbuatan yang berupa penahanan diri dari hal-hal yang membatalkan sejak fajar hingga terbenam matahari. Tidak ada kalimat atau bacaan tertentu yang menjadi syarat sah ibadah puasa. Sama halnya dengan ibadah haji, zakat atau shadaqah dan lain sebagainya.
Bacaan atau do’a dalam hal ini menempati posisi sunnah, bukan rukun atau wajib. Beda halnya dengan ibadah shalat yang mensyaratkan kombinasi antara perbuatan dan ucapan sekaligus. Meski demikian, Rasul Saw. juga mengisyaratkan adanya zikir dan do’a yang mengiringi ibadah puasa selama Ramadhan.
Suatu ketika Rasul Saw. menyampaikan bahwa ada dua hal yang menjadikan Allah Swt. ridha dan dua hal yang sangat rugi bila kamu tidak memintanya. Dua hal pertama adalah kalimat tahlil dan istighfar dan dua yang terakhir adalah meminta surga dan dijauhkan dari neraka.
Inilah dasar zikir dan doa selama Ramadhan yang berbunyi “asyhadu an la ilaha ill Allah, astaghfirullah, as’aluka al-jannata wa a’uzubika min an-nar” (Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, aku memohon ampunan kepada Allah, aku bermohon kepada-Mu surga dan berlindung dengan-Mu dari neraka). Seiring ibadah puasa yang dilakukan, mendawamkan zikir dan do’a ini sebanyak mungkin akan menjadikan Allah Swt. ridha, menjamin keterampunan dosa, mendapat anugerah surga dan terselamatkan dari siksa neraka.
Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Kedua, menjalankan ibadah puasa tidak cukup hanya dengan didasarkan pada ketentuan hukum fiqh yang berorientasi pada sah dan batal. Namun juga harus disertai pemahaman tentang hakikat makna dan pesan yang terkadung di dalamnya.
Setiap ibadah yang diperintahkan dipastikan mengandung pesan pendidikan spiritual dan manfaat kebaikan yang tak ternilai. Rasul Saw. pernah mengingatkan bahwa begitu banyak orang yang puasanya redundant, hanya mendapatkan haus dan lapar. Kehebohan menyambut dan menjalankan ibadah Ramadhan kerapkali menjadikan orang lalai dari pesan nilai yang terkandung di dalamnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/john-supriyanto1-john-supriyanto.jpg)