Kegersangan Intelektual Kaum Terdidik
Dulu, penduduk yang tinggal di pedesaan harus merantau jauh ke kota dan harus menyewa rumah agar bisa bersekolah.
Oleh Sukirman
Reporter Senior dan Kepsta TVRI Sumatera Selatan
JUMLAH kaum terdidik di Indonesia semakin meningkat adalah sebuah keniscayaan, seiring dengan laju pembangunan yang pesat. Padahal, bagi mereka yang berusia di atas 50 tahun, mungkin pernah merasakan betapa sulitnya masuk sekolah lanjutan setelah lulus SD.
Dulu, penduduk yang tinggal di pedesaan harus merantau jauh ke kota dan harus menyewa rumah agar bisa bersekolah. Ketika itu juga mereka sudah terlepas dari bimbingan orangtua dan harus tercerabut dari akar keluarga.
Namun kondisi itu hanyalah sebuah penggalan cerita. Kini hampir setiap desa memiliki SMP, dan masuk SMA bukanlah hal yang sulit karena beberapa desa yang berdekatan sudah tersedia pendidikan SMA. Dari sisi kuantitas, pembangunan infrastruktur di bidang pendidikan mengalami kemajuan sangat dahsyat.
Kemajuan pembangunan di bidang pendidikan tinggi pun demikian, mengalami kemajuan luar biasa. Saat ini lulusan S1 bukanlah suatu yang asing dan bukan lagi suatu yang langka. Jauh berbeda dibandingkan 35 tahun lalu. Jika dahulu minimal harus ke ibukota propinsi seperti untuk mengenyam bangku kuliah, kini di level kabupaten-pun sudah ada pendidikan tinggi.
Pascasarjana (S2 ) juga setali tiga uang. Pascasarjana tidak hanya ada pada perguruan tinggi negeri, sekolah swasta-pun menyediakan program S2.
Uniknya lagi, di sebagian kota dan daerah, gedung perguruan tinggi yang menyediakan program pascasarjana ini sebagian hanyalah sebuah petak ruko yang jauh dari kesan kampus. Tak tercermin sama sekali bahwa di tempat ini adalah sebuah kawah candradimuka, tempat menggodok kaum intelektual.
Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Saat ini mendapatkan gelar S1 dan S2 relatif gampang, bahkan mirip-mirip sebuah industri sarjana. Jadi adalah wajar jika dari data statistik penduduk Indonesia yang berpendidikan tinggi sangatlah banyak. Pertanyaannya apakah angka kuantitatif ini memiliki kontribusi yang linear terhadap pembangunan rumah besar yang bernama Indonesia?
Agak miris jika kita berdiskusi dengan orang yang menyandang pendidikan selevel S2. Tetapi tingkat logika berpikirnya hanya selevel SMP atau SMA. Kadang lebih indah mendengar wejangan orang kampung yang tak pernah mengenyam pendidikan, ketimbang meminta fatwa dari orang terdidik. Timbul sebuah pertanyaan yang cukup mendasar apakah sistem pembelajaran saat ini mulai dari level sekolah dasar hingga program pascasarjana perlu pembenahan. Ataukah memang ada sekolah yang terlalu “permisif”, sehingga memungkinkan lulus tanpa proses pembelajaran.
“Power of thinking” atau kekuatan logika berpikir ini seharusnya menjadi sebuah keniscayaan bagi alumnus perguruan tinggi, apalagi di ranah ilmu sosial. Pengalaman sebagai mahasiswa menunjukkan bahwa pentingnya mahasiswa untuk menjadi “aktivis” kampus. Aktivis tidak identik dengan mahasiswa yang berdemonstrasi mengkritisi kebijakan yang terfokus hanya pada persoalan politik. Bukan, bukan ini yang dimaksud.
Aktivis dalam konteks ini adalah lebih kepada kajian yang menelisik kecerdasan, termasuk kecerdasan beragama, sehingga lahir sebuah pemahaman yang “kaffah” tentang ragam
persoalan kehidupan baik sosial, ekonomi, termasuk kehidupan beragama. Muara dari semua ini adalah kerharmonisan dalam tatanan sosial, termasuk kehidupan berbangsa dan negara.
Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Kecerdasan ini jika kita naikkan ke level yang lebih tinggi adalah keadaban. Pada strata ini seyogyanya dicapai sebagai buah dari proses belajar tadi. Muara dari semua ini manusia tidak gampang terprovokasi, tidak gampang terbelah, apalagi di kelompokkan menjadi dua kubu “barat” vs “timur”.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Sukirman1.jpg)