Mimbar Jumat

Lebih Baik Terlihat Bahagia

Sebagian manusia terlihat bahagia hanya karena mampu menutupi dukanya bukan karena ia tidak punya luka.

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/Istimewa
DR. Hj. Uswatun Hasanah, M.Ag. Sekretaris Program Dokror dan Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Raden Fatah Palembang. 

Padahal seharusnya ia sudah tiba lebih dulu. Hingga beberapa jam kemudian, tim SAR memberi kabar bahwa temannya sudah mati membeku di tengah perjalanan.

Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Logo instagram.com/sriwijayapost/

Tubuhnya tak sanggup melawan cuaca dingin yang menusuk tulang.

Tersadarlah si lelaki bahwa beban berat yang dipikulnya telah membuat mereka berdua selamat.

Tubuh yang berkeringat karena memikul beban menjadikannya tidak membeku.

Ditambah lagi punggung mereka yang saling bersentuhan mampu menjaga suhu tubuh keduanya.

Setiap manusia pasti memiliki masalah di dalam hidupnya.

Persoalan yang dihadapi tentu saja tidak sama.

Berbagai hal bisa jadi pemicunya seperti persoalan ekonomi, sosial, pendidikan dan moral.

Meskipun manusia menyamakan faktor penyebab bahagia seperti adanya harta yang berlimpah, bisnis yang sukses, teman yang baik dan keluarga yang mendukung.

Namun kebahagiaan secara hakikat tidak dapat diukur dengan berbagai kenikmatan duniawi tersebut.

Ada orang yang berduka karena tidak memiliki harta benda, tetapi tidak sedikit orang yang terluka justru karena memiliki harta benda yang berlimpah.

Dalam pandangan Allah bahagia tidaklah sama antara satu orang hamba dengan lainnya.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel TikTok Sriwijayapost di bawah ini:

Logo TikTok Sripoku.com

Keterbatasan yang diberikan Allah pada seseorang bisa jadi adalah bahagia untuknya karena Allah telah menjaganya dari peluang yang lebih banyak untuk melakukan kemaksiatan.

Allah Maha Kuasa lagi Maha Penyayang memiliki kekuasaan tidak terbatas untuk memberikan kemaslahatan bagi hamba-Nya. Allah juga Maha Mengetahui yang terbaik bagi seorang hamba, sedangkan manusia tidak memiliki pengetahuan melainkan hanya sedikit (Q.S.17: 85).

Manusia tidak diperkenankan hanya diam berpangku tangan apalagi menganggap per-soalan sebagai beban yang memberatkan hidup.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved