Breaking News:

Influencer Data. Informasi Harus Bijak

Balik lagi kaitannya dengan berita BLACKPINK menjadi duta SDG’s, dimana secara langsung mengarahkan girl group tersebut menjadi salah satu influenc

Editor: Welly Hadinata
IST
Rika Yurista S.TT, ASN Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan. 

Oleh : Rika Yurista S.TT
ASN Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan

Siapa yang tidak kenal BLACKPINK ? Sosok Influencer Girl Group ternama berasal dari Korea Selatan yang terkenal mendunia. Pada 17 September 2021 lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara res¬mi telah menunjuk BLACKPINK menjadi duta Sustainable Deve-lopment Goals (SDG’s).

Fenomena saat ini, sosok influencer tak asing lagi ditelinga masyarakat. Di era digital seperti sekarang, bekerja dengan influencer menjadi salah satu strategi Pemerintah dalam pemasaran data/informasi secara “mouth to mouth” dalam bentuk lebih canggih yakni menggunakan media sosial sebagai platform yang lebih luas.

Influencer adalah orang yang bisa mempengaruhi pemikiran seseorang. Bahkan influencer bisa membimbing masyarakat dalam pengambilan keputusan. Memahami peran influencer adalah bagian penting dalam mempelajari peran media sosial untuk menyampaikan data/informasi. Bahkan lebih dahsyatnya lagi, masyarakat lebih cenderung cepat percaya data/informasi disampaikan oleh influencer itu sendiri daripada yang disampaikan oleh pemerintah langsung yang mana mempunyai legalitas keabsahan data/informasi yang lebih akurat.

Balik lagi kaitannya dengan berita BLACKPINK menjadi duta SDG’s, dimana secara langsung mengarahkan girl group tersebut menjadi salah satu influencer SDG’s. SDG’s me-rupakan sebuah gerakan dengan beberapa tujuan untuk komunitas global. Tujuan yang dimaksud melingkupi berbagai tantangan dunia, seperti melawan kemiskinan dan penyakit, masalah lingkungan, ekonomi, dan sosial. Sebagai duta SDG’s, BLACKPINK berperan sebagai influencer yang umumnya mengemban tugas da¬lam menyampaikan target SDG’s itu sendiri, dengan kata lain sebagai standar global untuk pengelolaan berkelanjutan 17 tujuan utama dan 169 tujuan rinci.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Selain BLACKPINK sebagai influencer internasional, di Sumatera Selatan sendiri pun pemerintah menyadari besarnya dampak pandemi Covid-19 bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Salah satunya, melalui Gerakan Sumsel Maju (GSM) para influencer Palembang turut membantu mempromosikan produk UMKM di Sumsel. Hal yang sama juga dilakukan oleh Gubernur Sumsel Herman Deru yang ikut juga mempromosikan produk UMKM di media sosialnya.

Influencer dapat berupa seorang publik figur seperti selebritis, selebgram, selebtwit, blogger, penulis, dan lain sebagainya. Beberapa influencer dibayar berdasarkan pengikut dan keterlibatan mereka. Penghasilan yang cukup besar ini menjadikan influencer termasuk salah satu profesi pekerjaan yang memberikan pundi-pundi uang/pendapatan. Kepala Ekonomi Bank Dunia untuk Indonesia Frederico Gil Sander mengatakan “influencer media sosial akan menjadi jutawan di masa depan”.

Pekerja Informal “Influencer”
Fenomena lapangan kerja formal mengalami penurunan disebabkan melemahnya kinerja sektor riil dan daya saing di Indonesia, sehingga berkurangnya permintaan untuk tenaga kerja terdidik. Ditambah lagi persaingan SDM dengan teknologi yang menjadikan tanda dimulainya revolusi industri 4.0 sudah diterapkan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Agustus 2021 penduduk Sumsel yang bekerja di kegiatan informal dilihat dari status pekerjaan utamanya sebanyak 2,68 juta orang (64,16 persen), sedangkan yang bekerja di kegiatan formal sebanyak 1,50 juta orang (35,84 persen).

Para pencari kerja diharapkan tidak hanya memiliki pendidikan tinggi namun ditambah adanya kemampuan wirausaha di sektor kerja informal bisa jadi akan lebih baik, sehingga tidak hanya mengurangi pengangguran terdidik namun dapat menambah lapangan kerja baru terlebih lagi dalam masa pandemi Covid-19 dimana semua serba sulit. BPS mencatat, di Sumsel terdapat 405,9 ribu orang (6,35 persen penduduk usia kerja) yang terdampak Covid-19. Terdiri dari pengangguran karena Covid-19 (41,8 ribu orang), Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena Covid-19 (23,2 ribu orang), sementara tidak bekerja karena Covid-19 (24,2 ribu orang), dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid-19 (316,7 ribu orang).

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved