Akademisi dalam Kuasa Beban Administrasi

Sebenarnya jumlah koruptor jika dihubungan dengan total keseluruhan lulusan perguruan tinggi yaitu berjumlah 17 juta orang.

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM / Istimewa
Muhammad Syahri Ramadhan SH.MH Dosen Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. 

Oleh : Muhammad Syahri Ramadhan SH.MH
Dosen Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya.

Ngeri juga pernyataan yang disampaikan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD, bahwa perguruan tinggi merupakan terdakwa utama terciptanya korupsi di Indonesia.

Sebenarnya jumlah koruptor jika dihubungan dengan total keseluruhan lulusan perguruan tinggi yaitu berjumlah 17 juta orang.

Maka, angka persentasenya tidak sampai 1 (satu) persen.

Terlalu gegabah juga, jika ingin menyimpulkan bahwa perguruan tinggi merupakan sarang terciptanya koruptor.

Namun, masalah utamanya ialah 86 % dari 1.298 koruptor merupakan lulusan dari perguruan tinggi (beritasatu.com).

Fenomena ini harus menjadi renungan bagi semua pihak untuk mencari akar permasalahan terkait sistem pendidikan di perguruan tinggi. Perguruan tinggi seyogianya tempat untuk mencetak kader bangsa yang dapat membawa ibu pertiwi ke arah yang lebik baik.

Jika mayoritas koruptor berasal dari lulusan perguruan tinggi, maka tidak berlebihan jika lembaga telah salah dalam menerapkan sistem pendidikan selama ini.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Namun, begitu naif juga apabila kemelut korupsi yang terjadi hanya menyalahkan para dosen yang tidak mampu menjadikan mahasiswa sebagai alumni berintegritas dan mempunyai konsistensi idealisme yang anti-korupsi.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen.

Pada intinya menyebutkan dosen merupakan pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Namun, ada beberapa faktor yang menyebabkan para akademisi untuk sukar mengoptimalkan kewajiban tri dharma-nya.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved