Berita Lifestyle

Hindari Jajanan Kekinian yang Jadi Sarang Penyakit Ini, Ada Minuman Hingga Makanan Manis, Waspada!

Beberapa di antaranya kopi susu gula aren, roti, donat, boba drink, burger, hotdog, gorengan, sampai nasi goreng dengan beragam topping

Penulis: Rahmaliyah | Editor: pairat
Kompas.com
Dokter Filsuf Ahli Gizi Komunitas dr Tan Shot Yen 

SRIPOKU.COM - Derasnya arus globalisasi dan modernisasi di Indonesia turut mempengaruhi pilihan jajanan yang ada di pasaran.

Di Indonesia, jenis jajanan yang hadir pun beraneka ragam baik makanan maupun minuman.

Beberapa di antaranya kopi susu gula aren, roti, donat, boba drink, burger, hotdog, gorengan, sampai nasi goreng dengan beragam topping.

Makanan dan minuman tersebut apabila rutin dikonsumsi dalam jangka panjang bisa memicu obesitas, biang utama penyakit diabetes dan tak menutup kemungkinan memicu penyakit lain.

Deretan jajanan yang menjual menu berbuka puasa di sekitar Taman Kambang Iwak Palembang, Rabu (8/5/2019).
Deretan jajanan yang menjual menu berbuka puasa di sekitar Taman Kambang Iwak Palembang, Rabu (8/5/2019). (SRIPOKU.COM/mg3)

Kebiasaan jajan minuman kekinian tersebut kian tak sehat apabila ditunjang pola makan tinggi kalori seperti nasi goreng, mi goreng, nasi uduk, nasi padang, makanan cepat saji, dan makanan berpengawet lainnya.

Sebagai ilustrasi, satu porsi nasi goreng atau nasi padang mengandung 500 kkal sampai 900 kkal, tergantung cara memasak sampai bahan yang digunakan.

Dokter Filsuf Ahli Gizi Komunitas, dr Tan Shot Yen mengatakan, dirinya sangat menyoroti bagaimana tingginya gula yang hadir pada jajanan kekinian yang banyak dibeli para remaja.

Menurutnya, masa remaja itu manis tapi jangan dengan jajanannya.

Baca juga: Gurihnya Karipap Jajanan Melayu, Mulanya Coba-Coba Ternyata Digemari Konsumen Palembang

Baca juga: Mengenal Tahu Walik, Jajanan Populer di Palembang yang Ramah Kantong, Ini Cara Membuatnya

Sering kali para remaja tak begitu memperhatikan soal jajanan yang mereka makan, padahal jika makanan yang dimakan salah maka tak bisa dikembalikan lagi.

Banyak kasus obesitas yang tidak kalah mengerikan bagi mereka yang tubuhnya kurus.

Di sisi lain, penyakit tidak menular seperti, tekanan darah tinggi, gula darah bahkan kolesterol bisa terjadi saat anak sudah masuk akil baligh.

Bicara soal kudapan, masyarakat di Indonesia memilih roti untuk sarapan. Rotinya pun roti manis. Namun, jenis roti yang dimakan di Indonesia sedikit berbeda dengan yang ada di Jerman. Roti yang ada di Indonesia "belum benar".

Tak hanya itu, makanan yang disantap juga tak sering kali menggunakan topping.

"Zamana kita kecil, kita cuma kenal topping hanya pada martabak, tapi sekarang sampai ke minuman pakai topping dan ga kira-kira gulanya," katanya dikutip dari Kanal Youtube Tribunnews, Sabtu (2/10/2021)

Sementara, dr Fransisca Handy, dokter anak dan pegiat kesehatan remaja mengatakan, para remaja mayoritas bila bicara soal jajanan tak jauh dari apa yang dikonsumsi oleh orang dewasa yang ada disekitarnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved