Breaking News:

Berita OKI

Musim Penghujan, Lahan Gambut di Desa Pangkalan Lampam OKI Malah Terbakar

Potensi munculnya titik kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih terus mengintai daerah rawan yang tersebar di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Editor: RM. Resha A.U
TRIBUNSUMSEL.COM/NANDO
Terlihat asap membumbung yang berasal dari kebakaran lahan gambut di Desa Pangkalan Lampam, Kecamatan Pangkalan Lampam, Rabu (15/9/2021) siang. 

SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG -- Potensi munculnya titik kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih terus mengintai daerah rawan yang tersebar di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Meskipun diketahui, dalam beberapa hari terakhir cuaca cenderung sejuk dan kerap turun hujan dengan intensitas sedang.

"Meskipun sejak bulan Agustus lalu sebagian besar wilayah Kabupaten OKI turun hujan hampir setiap harinya. Namun titik hotspot fire (titik api) masih terjadi di beberapa wilayah," ujar Kepala Manggala Agni Daops OKI, Candra Irfansyah saat dikonfirmasi langsung, Rabu (15/9/2021) sore.

Masih kata Candra, selama kurun waktu bulan Agustus terpantau karhutla masih terjadi di 3 lokasi yang berbeda.

"Pada tanggal 9 Agustus lalu, sebanyak 1,5 hektar lahan gambut milik masyarakat di Desa Sungai Ceper, Kecamatan Sungai Menang hangus terbakar. Lalu tanggal 23 Agustus lalu kebakaran menghanguskan 1 hektar lahan gambut di Desa Sungai Bungin, Pangkalan Lampam," 

"Kemudian disusul kebakaran hamparan lahan gambut yang terbakar mulai 27 - 29 Agustus. Dimana total lahan di Desa Sefti Mulyo, Kecamatan Sungai Menang yang dilahap si jago merah mencapai 21 hektar," katanya.

Dikatakan lebih lanjut, untuk di bulan September baru pertama kali terpantau titik api dan diprediksi membakar lahan sekitar 5 hektar.

"Sekitar jam 12.00 tadi, kami mendapati laporan bahwa ada api di hamparan lahan gambut di Desa Pangkalan Lampam, Kecamatan Pangkalan Lampam," jelasnya.

Baca juga: Posting Hape Curian di Facebook, Pemuda di OKI Ini Terpaksa Berurusan Dengan Polisi

Dengan informasi itu, pihaknya menurunkan 8 personil dengan membawa peralatan pemadaman seperti pompa portabel 1,5 inci (total 2 unit) dan selang sepanjang 10 meter sebanyak 10 roll dan kendaraan roda dua.

"Lahan gambut yang sulit dijangkau, membuat personil baru tiba dititik kebakaran, untungnya sudah proses pemadaman dan pendinginan," terangnya kebakaran tidak meluas dan dapat terkendali.

Menurutnya, api berasal dari konduksi (panas menjalar melalui pangkal batang lalu muncul kebagian atas permukaan-red), karena kemungkinan ada faktor manusia yang bisa disengaja ataupun lalai karena membuang puntung rokok atau lain sebagainya dilokasi.

"Kalau dari panas matahari tidak mungkin, karena sekarang kondisi cuaca lebih cenderung sejuk. Apalagi rata-rata lahan gambut masih basah," jelasnya.

Sumber: Tribun Sumsel
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved