Obat Malaria dan Peradangan Sendi Mampu Obati Covid-19, Begini Penjelasan Para Peneliti

Setidaknya ada 5 catatan dalam proses penelitian yang memakan waktu sangat lama ini sehingga menemukan 2 Obat Paling Ampuh Atasi Covid-19.

Tayang:
Editor: Hendra Kusuma
HO SRIPO/KOMPAS.COM
Peneliti Ingirs Raya dari Universitas Cambridge menemukan 2 Obat ampuh atasi Covid-19 dipublikasi Kamis (1/7/2021) kemarin 

Lalu mengerucut menjadi empat puluh obat di antaranya telah memasuki uji klinis, yang menurut para peneliti mendukung pendekatan yang mereka ambil.

Selanjutnya, ketika para peneliti menguji subset dari obat-obatan yang terlibat dalam replikasi virus, maka mereka menemukan, bahwa ada dua macam obat–obat yang sangat efektif.

Yakni, obat antimalaria dan jenis obat yang digunakan untuk mengobati rheumatoid arthritis, di mana dua obat ini dianggap mampu menghambat virus Corona, dan dianggap memberikan validasi (penemuan yang mendekati kebenaran) awal berdasarkan pendekatan data mereka.

Meski masih bersifat dugaan sementara, namun dengan melihat ribuan protein yang memiliki peran dalam infeksi dapat dilihat dapat menghambat replika protein yang menyebabkan peradangan.

"Dengan melihat ribuan protein yang berperan dalam infeksi SARS-CoV-2, baik secara aktif maupun sebagai konsekuensi dari infeksi, kami telah mampu membuat jaringan yang mengungkap hubungan antara protein ini,” kata Profesor Tony Kouzarides, Direktur Milner Therapeutics Institute, yang memimpin penelitian tersebut sebagaimana dilansir dari kompas.com.

5. Bisa Mencegah dan Mengobati

Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa Virus Corona selalu melibatkan protein dalam infeksi, di mana ribuan virus kemudian membuat replika dari ribuan protein yang dihasilkan inang dan hasil interaksi dengan virus Covid-19 tersebut.

Sementara dua obat Peneliti ini yang kemudian diuji berdasarkan penggunaan pembelajaran mesin dan teknik pemodelan komputer terbaru, berhasil mengidentifikasi 200 obat yang disetujui yang mungkin membantu mengobati Covid-19.

"Bahkan, dari jumlah tersebut, 160 belum pernah dikaitkan dengan infeksi Covid-19 sebelumnya. Hal ini dapat memberi kami lebih banyak senjata di gudang senjata kami untuk melawan virus Corona saat ini," kata Kouzarides.

Sebab, tim peneliti juga menggunakan analisis jaringan saraf tiruan, tim mengklasifikasikan jika obat berdasarkan pada peran menyeluruh dari target mereka dalam infeksi SARS-CoV-2, yakni terjadinya replikasi virus yang kemudian menyerang jaringan tubuh dikaitkan dengan kekuatan imun seseorang sehingga penelitian ini menyasar dua hal tersebut yakni target pada replikas virus dan targat pada respon imun.

Lalu, Peneliti kemudian mengambil subset (bagian) dari yang terlibat dalam replikasi virus Covid-19 tersebut dan kemudian mengujinya dengan menggunakan garis sel, yang berasal dari manusia dan dari primata non-manusia.

Hasilnya, ada dua obat, yakni, sulfasalazine (digunakan untuk mengobati kondisi seperti rheumatoid arthritis dan penyakit Crohn) dan proguanil (dan obat antimalaria), yang menunjukkan dapat mengurangi atau menekan replikasi virus SARS-CoV-2 dalam sel.

Maka dapat dilihat dari hasil ini, bahwa dua obat ini memiliki potensi digunakan untuk mencegah infeksi atau untuk mengobati Covid-19. Artinya memperkuat imunitas dan melawan atau menekan laju infeksi Virus Corona di dalam tubuh.

Sebuah Temuan tak Terduga Tetapi Menjadi Berkah

Sementara itu, menurut Namshik Han, Kepala Penelitian Komputasi dan AI di Milner Therapeutics Institute, studi ini telah memberi informasi tak terduga tentang mekanisme yang mendasari Covid-19 dan telah memberi beberapa petunjuk bahwa, obat yang menjanjikan, yang mungkin digunakan kembali untuk mengobati atau mencegah infeksi.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved