Breaking News:

TMC Terganggu Faktor Angin, Curah Hujan Buatan Tidak Merata dan Tidak Tepat Sasaran

Di OKI sudah beberapa kali terjadi hujan TMC, namun akibat kecepatan angin cukup tinggi hujan tidak turun tepat sasaran

Penulis: Odi Aria Saputra | Editor: Azwir Ahmad
SRIPOKU.COM/BERI SUPRIYADI
Ilustrasi: Sejumlah petugas BBTMC-BPPT tengah menjalankan aktifitas proses penyemaian awan di Posko TMC Palembang, Sumatera Selatan. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Meski sejak beberapa hari terakhir kota Palembang dan wilayah lainnya di Sumsel mulai diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, namun hujan yang turun berkat Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) diklaim tidak tepat sasaran. 

Seperti diketahui,  terhitung sejak 10 Juni 2021 Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan TMC guna memancing awan hujan. Dari proses hujan buatan tersebut, tak semua hujan turun tepat sasaran dan merata akibat pergerakan angin yang kencang dalam dua hari terakhir. 

Koordinator Lapangan Bidang Pelayanan Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBTMC-BPPT), Purwadi mengatakan, proses penyemaian yang dilakukan difokuskan dari wilayah Timur Sumatra Selatan (Sumsel) terutama wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Banyuasin yang terdapat lahan gambut yang luas. 

Purwadi mengaku pihaknya sengaja memaksimalkan dari arah timur Sumsel untuk dilakukan penyemaian garam. Sehingga wilayah yang sudah dipetakan rawan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) bisa turun hujan. 

"Di OKI sudah beberapa kali terjadi hujan yang diakibatkan TMC, namun dua hari terakhir akibat kecepatan angin cukup tinggi berakibat hujan tidak turun tepat sasaran," katanya,  Kamis (17/6/2021).

Ia menjelaskan,  dalam proses penyemaian garam di langit membutuhkan bantuan alam. Disisa waktu peralihan antara musim hujan dan kemarau seperti saat ini, dianggap sudah tepat untuk dilakukan proses TMC. 

Sebab, jika menunggu saat kemarau terjadi maka potensi awan hujan yang dihasilkan juga akan berkurang. Hal inilah yang dicegah ketika kekeringan terjadi maka akan memudahkan proses kebakaran hutan dan lahan (Karhurla) terjadi. 

"Tanpa ketersediaan awan hujan akan menyulitkan TMC. Kebetulan saat ini awan mendukung kita maksimalkan dengan menyemai garam di langit Sumsel," jelasnya. 

Kapolda Sumsel, Irjen Pol Eko Indra Heri menerangkan sejauh ini proses TMC yang dilakukan di wilayah Sumsel cukup berhasil. Kondisi yang ada saat ini harus dimaksimalkan untuk membasahi lahan gambut Sumsel yang setiap tahunnya rawan terbakar akibat kekeringan. 

Dengan proses pencegahan lebih dini, maka lahan-lahan yang berada di dekat wilayah konsesi akan merasakan dampak. Di samping itu juga optimalisasi pencegahan secara dini oleh tim pemadam masing-masing korporasi.

"Kita manfaatkan teknologi untuk mencegah karhutla, TMC sudah sangat tepat dilakukan di Sumsel. 
Karhutla bisa dicegah karena lahannya basah akibat adanya hujan buatan," ujarnya. 

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel telah menetapkan siaga darurat karhutla di sepuluh daerah di Sumsel yakni, OKI, OI, Banyuasin, Muara Enim, Penukal Abab Lematang Ilir (Pali), Musi Banyuasin (Muba), Musi Rawas (Mura), Musi Rawas Utara (Muratara), Ogan Komering Ulu (OKU) dan OKU Timur. 

Selain menetapkan status siaga, BPBD Sumsel juga menyiapkan sarana dan prasarana, personel guna antisipasi karhutla. Selain itu, pihaknya juga sudah melakukan TMC operasional helikopter water bombing, serta pengaktifan kembali posko terpadu yang melibatkan semua instansi terkait. 

Siaga Bahaya Karhutla, Kapolda Sumsel Turunkan 100 Personil Edukasi Masyarakat OKI dan OI

Kapolda Sumsel, Jumlah Titik Panas di Sumsel Meningkat, Masyarakat Harus Waspada Karhutla

PALI Masuk Daerah Rawat Karhutla di Sumsel, Warning 5 Perusahaan, Siagakan Puluhan Personil

"Untuk antisipasi Karhutla tahun ini kita sudah menetapkan lokasi mana saja yang akan menjadi perhatian sehingga penanggulangan dapat dilakukan dengan cepat," ungkap Kabid Kedaruratan BPBD Sumsel, Ansori.  (Oca) 

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved