Bisnis dan Profit

Bisnis dan Profit Dalam Perspektif Islam

Beberapa waktu terakhir kita sering dibuat jengah dengan berita-berita terkait kasus-kasus investasi bodong yang berbalut agama atau berlabel Syariah.

Editor: Salman Rasyidin
ist
Dr. Maftukhatusolikhah, M.Ag 

Oleh: Dr. Maftukhatusolikhah, M.Ag

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Fatah Palembang

Beberapa waktu terakhir kita sering dibuat jengah dengan berita-berita terkait kasus-kasus investasi bodong yang berbalut agama atau berlabel Syariah.

Kenyataannya saat ini tengah berlangsung pergeseran makna berupa aspek pertukaran transaksi-transaksi ekonomi yang secara langsung atau tidak terkait dengan wilayah keagamaan, terutama saat simbol keimanan digunakan untuk memasarkan produk-produk yang dikait-kaitkan dengan Islam.

Sayangnya, banyak kasus-kasus Investasi yang mengarahkan simbol-simbol dan ekspresi keberagamaan Umat Muslim dalam kerangka market-based power sebagai komoditas atau objek bisnis tersebut yang tersangkut kasus atau dalam penyelidikan dengan istilah populer bodong.

Untuk menyebut beberapa di antaranya adalah “Kampoeng Kurma” dan “First Travel”. Oleh karenanya, membincang bisnis dan profit dalam perspektif Islam selalu terasa aktual.

Salah satu motif atau dorongan seseorang melakukan suatu aktifitas adalah mendapatkan hasil atau prestasi.

Begitu pula dalam melakukan suatu bentuk usaha atau aktifitas ekonomi (bekerja maupun berbisnis), yang mendorongnya antara lain adalah mengharapkan suatu hasil berupa upah ataupun keuntungan (profit).

Bahkan bagi sebagian orang (pelaku bisnis), bisa jadi keuntungan merupakan segala-galanya, sehingga ia mengabaikan prinsip-prinsip moral dan etis dalam melakukan usahanya tersebut.

Merupakan suatu permasalahan yang timbul dalam anjuran untuk melaksanakan prinsip-prinsip etis dalam kegiatan ekonomi adalah walaupun diakui bahwa prinsip-prinsip tersebut mungkin saja baik, tetapi tidak atau kurang dapat mendorong kegiatan ekonomi.

Sebab moral dan etika memang cenderung dianggap bersifat “mengekang” atau “mengendalikan” daripada “mendorong”.

Dari kedua hal tersebut, terdapat pula apa yang disebut moralitas atau etos. 

Oleh karena itu wajar jika timbul pertanyaan tentang apakah moral dan etika dapat mendorong kegiatan ekonomi?.

Dan bagaimana penerapan moral dan etika atupun etos tersebut dikaitkan dengan keuntungan atau profit yang merupakan dorongan orang melakukan usaha atau bekerja?.

Islam sebagai ajaran moral telah menawarkan sebuah konsep moral-religius kepada umat manusia untuk dijadikan acuan dalam setiap aktifitas kehidupannya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved