Save Palestina Bukan Sekedar Donasi
Beberapa hari ini, kita disuguhkan banyak informasi tentang konflik Palestina Israel. Diantara banyak gambar dan video, kita melihat betapa ngerinya
Dr. Muhammad Noupal, MA
Dosen UIN Raden Fatah Palembang
Beberapa hari ini, kita disuguhkan banyak informasi tentang konflik Palestina Israel.
Diantara banyak gambar dan video, kita melihat betapa ngerinya situasi perang di sana.
Rudal-rudal Palestina diluncurkan.
Banyak gedung dan wilayah di Israel menjadi hancur dan terbakar.
Begitu juga, pesawat-pesawat Israel membom banyak rumah dan gedung milik penduduk sipil.
Korban pun berjatuhan, terutama di pihak warga Palestina.
Sampai hari ini saja, lebih dari 200 nyawa melayang.
Separuhnya wanita dan anak-anak. Derita Palestina bukan hal baru.
Sejak Israel menduduki dan mengusir warga Palestina dari rumahnya, derita itu sudah dimulai.
Derita itu kian hari bertambah berat.
Tidak peduli musim panas atau dingin.
Tidak peduli anak-anak atau orang tua.
Wilayah Palestina menjadi wilayah perang.
Ya, perang untuk memperebutkan kembali rumah yang dirampas Israel.
Perang untuk mengusir penjajah.
Derita Kemanusiaan
Derita Palestina tentu saja tidak boleh menutup mata kita.
Kita perlu mengetahui bagaimana derita ini dimulai; dan tentunya mengapa masih terjadi sampai saat ini.
Kita juga perlu mengetahui apa motif dan alasan perang ini.
Bagi kita orang Indonesia, derita ini lebih berkaitan dengan masalah kemanusiaan.
Bahwa semua manusia harus diperlakukan dengan adil, itulah intinya.
Kita menentang kezaliman, penindasan dan pembunuhan.
Kita juga menentang pengusiran dan pengrusakan. Itulah yang dilakukan Israel.
Derita Palestina sudah dimulai ketika Israel memperluas wilayah pemukiman bagi ribuan warganya.
Mereka mengusir dan menggusur rumah orang Palestina untuk kemudian membangun perumahan untuk warganya.
Perlawanan orang Palestina malah dibalas dengan penahanan dan penembakan.
Banyak penduduk Palestina yang meninggal.
Data kekerasan yang dilakukan Israel menunjukkan jumlah yang mencengangkan.
Koran Media Indonesia menyebutkan setidaknya pada tahun 2020 saja, tercatat ada 27 orang Palestina yang ditembak mati tentara Israel.
Kebanyak dari mereka adalah para pemuda yang ditembak hanya karena “dicurigai” akan mengancam mereka.
Salah satunya adalah Iyad Hallaq, pemuda berkebutuhan khusus (autis) yang ditembak dengan karena dicurigai membawa senjata.
Begitu juga Muhammad Khatib, pemuda 24 tahun yang ditangkap dirumahnya dan dipukuli sampai mati.
Derita warga Palestina adalah derita melawan penindasan dan kesewenangan.
Bukan saja dilakukan oleh pemerintah dan militer Israel, para pemukim illegal Yahudi juga sering merampas rumah warga Palestina.
Tempo.co (18/5/2021) menampilkan satu adegan seorang Yahudi yang mencoba mengambil rumah milik warga Palestina bernama Mona al-Kurd di kawasan Syekh Jarrah.
“Kalau saya tidak mengambilnya, nanti diambil orang lain”, kata Yahudi tersebut.
Save Palestina
Kita bangsa Indonesia, secara politik mendukung hak kedaulatan Palestina.
Dari zaman Presiden Soekarno, pemerintah kita tidak membuka hubungan diplomatik dan kerjasama apapun dengan Israel. Tahun 1948, ketika Negara Israel diproklamasikan, Indonesia secara tegas tidak mengakui keberadaannya.
Bahkan sampai pemerintahan Jokowi, sikap Indonesia masih sama; “Saya dan rakyat Indonesia, kata Jokowi, tetap konsisten dengan rakyat Palestina memperjuangkan haknya”.
Dukungan terhadap Palestina menjadi lebih terasa melalui gerakan sumbangan dan bantuan kemanusiaan.
Dalam berbagai kesempatan, kita sering memberikan donasi untuk Palestina.
Terkadang di masjid ketika ada orang Palestina berkunjung; bahkan juga di jalan raya melalui lembaga sosial non pemerintah.
Simpati kita untuk Palestina kita salurkan melalui sumbangan uang.
Niat baik kita semoga warga Palestina dapat hidup nyaman dan aman.
Save Palestina karena itu bukan gerakan politik; tapi gerakan kemanusiaan melawan penindasan.
Sebagai manusia, kita menolak kebijakan Israel yang mengusir paksa orang Palestina; hanya karena di situ akan dibangun pemukiman warga Yahudi.
Sebagai manusia juga, kita mengecam penembakan dan pembunuhan terhadap warga Palestina oleh militer Israel.
Save Palestina adalah gerakan moral kita; mewujudkan keadilan bagi umat manusia.
Karena itu, Save Palestina perlu dibuat dalam bentuk yang lebih bermanfaat; seperti pendirian Rumah Sakit Indonesia di Gaza atau sumbangan sembako kepada penduduk Palestina.
Kita patut bersyukur, pemerintah Indonesia telah memberikan komitmen bantuan senilai US$ 2 Juta untuk program capacity building seperti pertanian, kewirausahawan, pemberdayaan perempuan, teknologi informasi dan komunikasi, tata pemerintahan dan pendidikan.
Kita juga bersyukur, BAZNAS memberikan bantuan kemanusiaan untuk para pengungsi Palestina di Yordania berupa Klinik Mata (ophthalmology clinic) dan Klinik Telinga Hidung dan Tenggorokan (ear nose and throat/ENT clinic) yang diserahterimakan pada tanggal 21 April 2019 kepada Menteri Luar Negeri Palestina Riad Malki.
Belum lagi organisasi seperti Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan yayasan Kasih Palestina yang sampai saat ini masih terus memberikan bantuan paket sembako kepada penduduk Palestina secara langsung.
Sebagai gerakan moral, save palestina tentu saja harus kita lakukan dengan niat yang tulus dan bertanggung jawab.
Amanah donasi yang dititipkan harus disampaikan agar manfaatnya lebih terasa.
Penggalangan dana tidak boleh dilakukan tanpa koordinasi dengan pihak terkait.
Untuk menghindari kecurigaan publik, asas transparansi keuangan perlu diterapkan.
Di sinilah “amanah” kita akan sampai kepada mereka; dan tentu saja akan menuai pahala dari Allah SWT.
Infak Terbaik
Gerakan menghimpun dana untuk membantu sesama kaum muslim bukan hal baru. Setidaknya di tanah air kita, sikap saling bantu sudah menjadi tradisi dan perilaku kita.
Gotong royong, begitu kita menyebutnya, merupakan falsafah hidup bangsa kita sejak masa yang lama.
Karena itu, jika ada peristiwa penting berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, kita pasti akan berusaha membantu.
Peristiwa kebakaran, banjir bandang, tsunami, bahkan gempa bumi, pasti selalu dijadikan momen untuk menggalang dana masyarakat.
Bahkan pembangunan masjid, panti asuhan dan rumah yatim, sering meminta sumbangan kepada masyarakat dengan alasan infak, sedekah atau wakaf.
Sekalipun kita tidak tahu apakah dana itu disalurkan ataukah tidak, kita lebih berharap diberikan pahala oleh Allah.
Sikap saling bantu inilah yang sangat luar biasa dari kita, orang Islam Indonesia.
Mungkin sikap seperti ini tidak ada di negara lain.
Sekalipun ada anjuran untuk tidak memberikan donasi tanpa informasi yang jelas; toh kita rela mengeluarkan uang untuk mereka.
Terlebih Palestina.
Ada baiknya pemerintah memfasilitasi sikap saling bantu ini menjadi lebih teratur.
Maksudnya, pemanfaatan lembaga seperti BAZNAS atau apapun, menjadi lebih terkoordinir sehingga dapat memfasilitasi niat baik masyarakat.
Dana infak yang tulus suci tersebut betul-betul harus sampai ke tujuannya.
Tidak ada lagi donasi “kotak amal” yang disalahgunakan kelompok tertentu; apalagi yang berafiliasi kepada faham radikalisme.
Tidak ada lagi donasi di lampu merah bermodalkan kardus bertuliskan “korban gempa”. Save Palestina, karena itu bukan sekedar pengumpulan donasi tapi aksi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/nouval.jpg)