Fenomena Mudik Lebaran

Idul Fitri 1442 H Dan Fenomena Mudik Lebaran

Pada 13 Mei 2 021/1 H, umat Islam di penjuru dunia merayakan lebaran Idul Fitri.Idul Fitri me­­­ru­­pakan puncak pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan

Editor: Salman Rasyidin
SRIPOKU.COM/ODI ARIA SAPUTRA
Prof. Dr. Abdullah Idi M.Ed, Guru Besar Sosiologi/Dekan FITK Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang 

Oleh : Prof. Dr. Abdullah Idi M.Ed

Guru Besar Sosiologi/Dekan FITK Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Pada 13 Mei 2 021/1 H, umat Islam di penjuru dunia merayakan lebaran Idul Fitri.

Idul Fitri me­­­ru­­pakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan.

Idul Fitri bertalian dengan tujuan di­­capai dari kewajiban berpuasa itu sendiri yakni menjadi manusia yang bertakwa (muttaqien).

Se­­perti termaktub dalam Al quran Ayat al-Baqarah 183: “Wahai orang-orang yang beriman! Di­­wa­jibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu a­gar kamu ber­takwa”.

Merayakan Idul Fitri 1422 H sebagai re-evaluasi terhadap kesalehan in­di­­­vidu dan ke­­salehan sosial seorang muslim serta sebagai simbol ketakwaan kepada Sang Khalik.

Me­ra­ya­kan Idul Fitri tidak hanya difahami sebagai lepasnya dari pendidikan rohani selama satu bu­lan tetapi diharapkan dapat meningkatkan ketakwaan umat Islam menjadi lebih baik.

Su­a­sana Ha­ri Raya Idul Fitri umat Islam, setelah menunaikan zakat, melaksanakan salat Idul Fitri, dan ber­kumandang  lafaz tasbih (Subhanallah), takbir (Allahu Akbar), dan tahmid (Alham­du­li­llah).

Su­atu yang unik dan menarik, di banyak negara, untuk  merayakan Idul Fitri banyak pula dengan me­lakukan tradisi mudik-pulang kampung.

Pada suasana pandemi wabah Covid-19 pun tidak menyurutkan semangat umat Islam untuk mudik.

Merayakan Idul Fitri merupakan puncak dari ibadah puasa.

Tujuan berpuasa agar umat-Nya men­jadi hamba yang bertakwa yang ditandai adanya peningkatan derajat kesalehan individu dan kesalehan sosial. 

Kesalehan individual/ritual lebih bertalian pada pelaksanaan ibadah ri­tu­al, seperti salat, puasa, zakat, haji, tadarus Al quran, zikir dan doa.

Dinamakan kesalehan in­di­vi­dual hanya berhubungan dengan Sang Khalik dan kepentingan diri sendiri.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved