Satpam SMP 11 Meninggal Dunia Setelah Divaksin Covid-19, Bibirnya Menghitam, Kondisinya Drop
Berbagai reaksi dan komentar dari yang sudah pernah mengikuti vaksin covid-19 seperti ada yang meninggal.
"Penyakit penyerta dari anamnesa itu ada jantung, hipertensi, sebelumnya dia ketahuan diabetes melitus itu dalam waktu dekat," lanjutnya.
Di sisi lain, pihakpun membantah bila S menibggal akibat penyuntikan dosis pertama vaksin Covid-19 yang dilakoninya.
Kata ia, seseorang yang telah melakoni penyuntikan vaksin Covid-19 bakal mengalami gejala dalam kurun 1 hari pelaksanaan.
Sebab, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi bakal dirasakan individu dalam kurun waktu 24 jam usai penyuntikan berlangsung.
Serta Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

"Seharusnya tidak ada korelasi dengan KIPI. Karena kalau kita lihat kekebelan terbentuk sebulan setelah vaksin ke dua"
"Dan data vaksin kedua itu tidak ada. Tapi beliau tanggal 28 (Maret 2021) datang ke kita dan sudah dalam kondisi buruk"
"Kalaupun vaksinnya sudah lengkap 2 dosis itu belum terbentuk," ungkap Lasdo.
"Dibilang akibat KIPI, harusnya waktunya enggak sejauh itu. Kan divaksin tanggal 3 Maret 2021"
"kejadian meninggal di tanggal 29 (Maret 2021). Kalau di KIPI itu kan cepat. KIPI paling lama 24 jam," pungkasnya.
Penjelasan Dinkes Kota Tangsel
Meninggalnya S sempat mengundang pro kontra akibat kabar almarhum meninggal usai melakoni penyuntikan dosis pertama vaksinasi covid-19 pada 3 Maret 2021.
Wartakotalive.com mencoba menelusuri kebenaran meninggalnya korban yang berkaitan dengan pentuntikan dosis vaksinasi covid-19.
Awal mula Wartakotalive.com menelusuri kebenaran terssbut dari sang istri yang berinisi I saat di kediamannya yang beralamat di kawasan Rawa Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan.
"Sebelum divaksin itu benar dia tidak sakit. Tapi memang dia punya penyakit dalam penyakit prostat"
"cuman yang namanya mau divaksin intinya harus sehat," kata I saat ditemui di kediamannya, Serpong, Kota Tangsel, Kamis (1/4/2021).
Update 2 April 2021. (https://covid19.go.id/)
Menanggapai hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar mencari riwayat pelaksanaan vaksin dari almarhum.
Allin mengatakan S baru melakoni penyuntikan dosis pertama vaksinasi pada 3 Maret 2021 lalu.
"Yang bersangkutan divaksin dosis satu itu pada tanggal 3 Maret (2021). Jadi memang seharusnya dosis kedua itu jika dihitung 14 hari"
"jadi pada tanggal 17 Maret 2021 dan beliau memang tidak kembali untuk dosis kedua tersebut, " ucap Allin saat ditemui di Kantor Dinkes Kota Tangsel, Serpong, Kamis (1/4/2021).
Allin menjelaskan pada saat melakoni penyuntikan dosis pertama, petugas medis telah melakukan screening sebelum penyuntikan dilakukan.
Dari informasi petugas medis, kata Allin, S mengaku tidak memiliki riwayat penyakit disertai hasil screening yang menyatakan ia dapat disuntik vaksin covid-19.
"Screening itu begitu ketat, tapi ini adalah tergantung peserta vaksin itu. Jadi di sini memang dituntut kejujuran ya," jelas Allin.
"Pada saat peserta vaksin itu tidak menjawab jujur atau bahkan mereka bum pernah periksa (riwayat penyakit-red) itu yang membuat kita tidak tahu"
"Jadi kita anggap dia lolos screening sehingga divaksin," lanjutnya.
Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sriwijayapost di bawah ini:
Ia pun menuturkan seusai melakoni vaksinasi covid-19, pihaknya tak menjamin sebuah individu dapat terhindar dari infeksi covid-19 ataupun penyakit penyerta lainnya.
Sebab, pelaksanaan vaksinasi covid-19 bersifat meningkatkan daya tahan tubuh di tengah masifnya penularan dan penyebaran infeksi covid-19.
"Selalu saya sampaikan bahwa setelah divaksin bukan berarti kita menjadi orang yang kuat"
"Artinya kita masih bisa terinfeksi covid, karena pada saat kita divaksin itu baru memabngkitkan antibodi kita"
"Jadi ada kemungkinan pada saat setelah divaksin itu kemudian kita tidak menjaga protokol kesehatan dengan baik itu bisa saja kita terkena covid"
"Jadi asumsinya test PCR-nya beliau positif covid-19," pungkasnya.
Update Vaksinasi Covid-19 Indonesia 1 April 2021
Sejak program vaksinasi Covid-19 dimulai pada 13 Januari 2021, pemerintah sudah menyuntikkan dosis pertama kepada 8.291.164 (20,55%) penduduk hingga Kamis (1/4/2021).
Sedangkan dosis kedua sudah diberikan kepada 3.830.675 (9,49%) orang.
Dikutip dari laman kemkes.go.id, rencana sasaran vaksinasi Covid-19 di Indonesia adalah 181.554.465 penduduk yang berumur di atas 18 tahun.
Hal ini untuk mencapai tujuan timbulnya kekebalan kelompok (herd immunity).
Karena ketersediaan jumlah vaksin Covid-19 bertahap, maka dilakukan penahapan sasaran vaksinasi.
Untuk tahap pertama, vaksinasi Covid-19 dilakukan terhadap Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK).
Yang meliputi tenaga kesehatan, asisten tenaga kesehatan, dan tenaga penunjang yang bekerja pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Berdasarkan pendataan yang dilakukan sampai saat ini, jumlah SDM Kesehatan yang menjadi sasaran vaksinasi Covid-19 adalah 1.468.764 orang, sedangkan populasi vaksinasi sebanyak 12.552.001 orang.
Berikut sebaran kasus Covid-19 di Indonesia dikutip Wartakotalive dari laman covid19.go.id:
DKI JAKARTA
Jumlah Kasus: 381.090 (25.8%)
JAWA BARAT
Jumlah Kasus: 249.307 (8.9%)
Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:
JAWA TENGAH
Jumlah Kasus: 168.313 (8.4%)
JAWA TIMUR
Jumlah Kasus: 139.245 (12.7%)
KALIMANTAN TIMUR
Jumlah Kasus: 63.463 (3.5%)
SULAWESI SELATAN
Jumlah Kasus: 59.536 (4.4%)
BALI
Jumlah Kasus: 39.484 (2.8%)
BANTEN
Jumlah Kasus: 36.809 (2.3%)
RIAU
Jumlah Kasus: 34.592 (3.6%)
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Jumlah Kasus: 33.200 (0.9%)
SUMATERA BARAT
Jumlah Kasus: 31.602 (3.6%)
KALIMANTAN SELATAN
Jumlah Kasus: 27.615 (2.8%)
SUMATERA UTARA
Jumlah Kasus: 27.263 (3.2%)
PAPUA
Jumlah Kasus: 19.531 (2.2%)
SUMATERA SELATAN
Jumlah Kasus: 17.625 (1.9%)
KALIMANTAN TENGAH
Jumlah Kasus: 17.072 (1.1%)
SULAWESI UTARA
Jumlah Kasus: 15.361 (1.3%)
LAMPUNG
Jumlah Kasus: 13.990 (0.5%)
NUSA TENGGARA TIMUR
Jumlah Kasus: 12.325 (0.2%)
SULAWESI TENGAH
Jumlah Kasus: 11.181 (0.2%)
KALIMANTAN UTARA
Jumlah Kasus: 11.107 (0.2%)
SULAWESI TENGGARA
Jumlah Kasus: 10.260 (1.2%)
ACEH
Jumlah Kasus: 9.862 (1.8%)
NUSA TENGGARA BARAT
Jumlah Kasus: 9.552 (1.0%)
KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
Jumlah Kasus: 9.296 (0.1%)
KEPULAUAN RIAU
Jumlah Kasus: 9.162 (1.0%)
PAPUA BARAT
Jumlah Kasus: 8.290 (1.0%)
MALUKU
Jumlah Kasus: 7.352 (0.9%)
JAMBI
Jumlah Kasus: 6.198 (0.3%)
KALIMANTAN BARAT
Jumlah Kasus: 5.489 (0.4%)
BENGKULU
Jumlah Kasus: 5.426 (0.3%)
SULAWESI BARAT
Jumlah Kasus: 5.364 (0.2%)
GORONTALO
Jumlah Kasus: 5.131 (0.7%)
MALUKU UTARA
Jumlah Kasus: 4.322 (0.5%)
Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Sarmili Meninggal Dunia setelah Divaksin Covid-19, Istri: Bibirnya Menghitam, Kondisi Drop, https://wartakota.tribunnews.com/2021/04/02/sarmili-meninggal-dunia-setelah-divaksin-covid-19-istri-bibirnya-menghitam-kondisi-drop?page=all
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/isri-satpam.jpg)