Breaking News:

Kerajaan Siak dari Sudut Nilai Sosial Budaya

Perlu diketahui bahwa adat perkawinan di kalangan bangsawan dan Raja ada perbedaan. Perbedaan ini mencakup pada pakaian warna pada tabir pelaminan

Editor: aminuddin
internet
albar sentosa subari 

SRIPOKU.COM,.PALEMBANG - Di zaman Sultan Sultan di kerajaan Siak dari tahun 1723 sampai Sultan terakhir Sultan Syarif Kasyim Sani (II), nilai budaya telah banyak dilakukan dengan cara mengirim orang orang besarnya dan cendikiawan ke berbagai negeri termasuk anak anak muda yang berprestasi. 


Sebelum kita masuk ke adat budaya nya kita akan mengulas tentang Kerajaan Siak. 


Kerajaan Siak adalah kerajaan islam yang adat istiadat nya mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

Pepatah orang Melayu Adat bersandi syara', syara' bersandikan Kitabullah. 


Adat istiadat di Kerajaan Siak berlaku adat istiadat Raja-Raja dan adat istiadat Datuk, Penghulu dan Hinduknya.

Adat perkawinan di kalangan bangsawan dan Raja ada perbedaan,  termasuk pada pakaian warna pada tabir pelaminan.

Orang biasa tidak dibenarkan memakai tabir kuning penuh. Kuning adalah Raja. 


Demikian pula tingkat pelaminan atau dokoh serta perhiasan yang dipakai oleh pengantin antara lain seperti untuk Sultan dan Raja gerai bertingkat 9 , anak Raja atau kaum bangsawan geras bertingkat 7,anak Datuk dan Datuk gerai bertingkat 5.

Demikian semua diatur dalam adat istiadat di kerajaan Siak. 

Bagi Kepala Suku dan Induk juga mempunyai  adat istiadat yang disesuaikan dengan adat istiadat yang berlakudi Kerajaan.

Kesenian banyak macamnya asal usul bersumber dari kesenian rakyat yang hidup di kalangan rakyat, kemudian kesenian ini dibenahi okeh istana dan diatur menurut aturan istana. 


Syair dan Gurindam serta pantun adalah gambaran kehidupan orang Melayu di kerajaan Siak, merupakan sindiran, nasihat dan petunjuk untuk anak cucu dan berguna bagi masyarakat, serta menjadi anak yang tahu sopan santun terhadap orang tua dan saudara nya, apalagi kepada Sultan dan pimpinan nya.  

Tari oleng dan tari serunting melayang adalah tari orang Petalangan yang sering dipersembahkan kepada Sultan dan tamu tamu yang datang ke negeri Siak (Kalau kita di Sumatra Selatan adalah Tari Gending Sriwijaya : sayang penggunaan sering salah tempat tidak seharusnya jaman Sriwijaya dan kesultanan. Banyak jenis tari ( tari joget, bertandak, mak inang dan lenggang melayu).


Tari Zaipin sangat populer karena tarian ini adalah tarian terkait dengan unsur agama, karena tari ini masuk pada waktu agama islam di negeri Siak Sri Indrapura.

Pertama tari ini dikenal orang orang pantai dan pulau.

Mereka menari bersuka ria setelah berhasil mengimbau orang orang yang belum beragama islam.

Gerakannya sopan dan lirik liriknya bernafaskan islam.

Kesenian Siak yang sangat terkenal ialah kesenian menenun kain yang disebut tenunan kain Tenunan Siak.

Yang diperkirakan sejak 1747 saat persahabatan antara kerajaan Siak dengan kerajaan Terengganu. 


Demikiansekilas mengungkap adat istiadat di kerajaan Melayu Siak. 

Seperti hal-hal serupa juga kita dapatkan di daerah ulu dan ilir di masyarakat adat Sumsel. N

sayang sudah mulai kurang diminati terutama anak muda.

Bilaa acara pernikahan bukan kesenian asli yang ditampilkan tetapi kesenian semisal orgen tunggal dangdutan yang maaf terkadang jauh dari budaya asli kita baik cara pakaian, bahkan  pimpinan dusun terkadang ikut berjoget ria. 


Ini tugas dari pembina adat di kabupaten kota untuk berusaha kembali mengangkat adat stiadat asli.

Guna melestarikan hal hal di kmatas mungkin perlu aturan baik tingkat propinsi sampai ke desa desa melalui keputusan desa.

Kerajaan Siak dari Sudut Nilai Sosial Budaya

Oleh Albar Sentosa Subari

Ketua Pembina Adat Sumsel

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved