Breaking News:

Opini

Drama Partai Politik (Demokrat)

Isu kudeta kemudian Kongres Luar Biasa Partai Demokrat, mendominasi diskursus politik sebulan terakhir. Drama ini bisa berdampak panjang bagi partai.

Editor: Sutrisman Dinah
Kompas.com
Partai Demokrat 

SKENARIO drama politik yang berlangsung di Partai Demokrat yang berlangsung sebulan terakhir, mencapai titik klimaks pada Sabtu (05/03/2021). Episode penyelenggaraan Kongres Luar Biasa yang berlangsung di Sibolangit, Sumatera Utara.

Sebagai klimaks dari sebuah epsode, pertunjukkan politik “demokratis” belum akan usai. Ia merupakan sepenggal cerita, sebuah huru-hara upaya pengambilan kekuasaan menggunakan mekanisme demokratis.

Kelompok penyelenggara KLB tentu saja mengklaim bahwa “rapat paripurna partai”, diselenggarakan secara luar-biasa. Penyelenggara merupakan orang-orang yang sebelumnya paham betul tentang aturan main partai seperti yang diatur AD-ART.

Di sisi lain, jajaran pimpinan partai yang diketuai Agus Harimurti Yudhoyono –tentu saja tak akan membiarkan “kudeta” berjalan mulus. Berakali-kali Agus Harimurti, menyatakan akan melawan dan menyatakan bahwa KLB berlangsung tidak sah.

Bukan hanya Agus Harimurti, bahkan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, menegaskan bahwa eksistensi pengurus partai yang sah adalah kepemimpinan hasil Kongres Demokrat 2020.

Tanpa ingin menghakimi, apakah KLB itu sah atau illegal, dari perspektif hukum tidak dapat menyimpulkan tanpa membaca secara utuh AD-ART. Penyelenggara, yang dimotori oleh setidaknya enam politisi Partai Demokrat yang sebelumnya dipecat pengurus.

Tokoh-tokoh kunci penyelenggara KLB ini, merupakan orang-orang paham hukum dan politik. Mereka berpengalam di lembaga legislatif, bahkan diantara tokoh tersebut adalah mantan ketua DPR RI.

Sampai babak ini, “sengketa” ini akan mempertontonkan argumentasi hukum dan konstusi partai yakni AD-ART. Bukan hanya perdebatan legalitas KLB, tetapi juga akan memuji keabsahan pemecatan terhadap kader yang dituduh terlibat “kudeta” dan “pembangkang”.

Inilah episode baru pertunjukan drama politik modern, sesungguhkan rangkuman dari pertarungan kepentingan politik. Arena pertarungan yang hanya dibatasi garis maya yang dinamakan AD-ART dan peraturan-perundangan tentang partai politik.

Sejatinya, pengurus partai “kubu” Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono lebih baik melakukan “regrouping” kepengurusan dan kader nasional daerah. Saat ini soliditas menjadi modal kuat, nilai kompetitif yang membuatnya unggul.

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved