Potret Pemulung di India: Dipaksa Bersihkan Got, Kematian Mereka tidak Dilaporkan

India sebenarnya telah melarang praktik pemulungan manual pada 1993, tetapi nyatanya lebih dari 66.000 orang masih menjalani pekerjaan berbahaya ini

Editor: aminuddin
internet
Potret pemulung di India 

SRIPOKU.COM, INDIA - Negara India memang menyuguhkan dua potret kehidupan manusia.

Ada yang hidup mewah, sebaliknya di sisi lain banyak warga yang hidup susah. 

Mereka yang hidup susah tentu harus berjuang keras agar bisa keluar dari garis kemiskinan. 

Itu tidak mudah.

Apalagi mereka yang bekerja sebagai pemulung.

Baca juga: Dihadiahi Gitar, Pencipta Lagu yang Kini Jadi Pemulung ini Kembali Bergairah untuk Menciptakan Lagu

Baca juga: Punya Istri 5 Tapi Tua, Pemulung Ini Rudapaksa 3 Wanita, Pelaku : Kalau Istri Muda tak Sanggup

Baca juga: Syekh Ali Jaber Rela Berutang Demi Berangkatkan Haji Seorang Pemulung: Kenangan di Mata Sang Adik

Baca juga: Dulu Diejek Gegara Anak Pemulung, Aulia DA kini Jadi Penyanyi Ternama, Rumah Reot Disulap Jadi Kokoh

Praktik Pemulungan

India sebenarnya telah melarang praktik pemulungan manual pada 1993, tapi nyatanya lebih dari 66.000 orang masih menjalani pekerjaan berbahaya ini, menurut survei pemerintah.

Mengutip Voice.com, data resmi menunjukkan pada 2019, jumlah penguras tinja yang tewas dalam pekerjaan melebihi 100 orang. 

Tamil Nadu menduduki peringkat kedua dengan total kematian 43 dalam lima tahun terakhir. 

Aktivis HAM menyebut negara telah melakukan “pembunuhan institusional” terhadap para pemulung manual. 

Tugas bersih-bersih ini diserahkan kepada warga Dalit, kasta terendah di India. Berlaku sejak 3.000 tahun lalu, sistem kasta membagi umat Hindu ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan tugas mereka. Sistem inilah yang menentukan status seseorang di masyarakat.

Golongan Dalit dianggap “kasta tak tersentuh”, sehingga mereka tak jarang diperlakukan dengan hina. 
Padahal, praktik ini telah dilarang sejak 1950.

“Saya ingin mencari tahu kenapa hanya orang Dalit yang dipaksa menjadi pemulung manual,” Kumar memberi tahu VICE World News.

Dia baru mengetahui profesi ini ketika menggarap dokumenter berjudul Kakkoos (Kakus) pada 2015. 

Film dokumenternya mengikuti kesibukan pemulung manual setiap harinya, serta berbagai kematian tragis yang menimpa pekerja.

Selama proses pembuatan film, Kumar belajar bagaimana kasta memengaruhi kariernya. 

“Pekerjaan saya selama beberapa tahun terakhir menyadarkanku akan hal-hal yang sebelumnya tidak saya ketahui,” lanjut fotografer yang merupakan orang Dalit.

Tahun lalu, pemerintah melakukan serangkaian upaya guna mengakhiri praktik pemulungan manual pada Agustus 2021. 

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved