Breaking News:

Berita OKU Selatan

Mengenal Suku Kisam dan Semende di OKU Selatan, Ada Perbedaan Tunggu Tubang dan Logat Bahasa

Suku Basemah yang terdiri dari Suku Kisam dan Suku Semende merupakan 2 dari 6 suku berjumlah besar yang ada di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan

Google Maps
Pertigaan Desa Simpang Campang Kecamatan Kisam Ilir, Kabupaten OKU Selatan, Jumat (26/2/2021). Ke kiri ke arah Kemu Kecamatan Pulau Beringin. Ke kanan ke arah Kisam Raya. 

Laporan Wartawan Sripoku.com, Alan Nopriansyah

SRIPOKU.COM, MUARADUA - Suku Basemah yakni Suku Kisam dan Semende merupakan dua dari enam Suku berjumlah besar yang ada di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS) yang telah hidup rukun secara berdampingan dalam waktu yang cukup lama.

Adapun enam suku atau etnis yang besar di OKU Selatan meliputi Suku Daya, Suku Ranau, Suku Kisam, Suku Semende, Suku Haji dan Suku Ogan dan diikuti oleh Suku Jawa, Suku Padang dan suku-suku lainnya.

Baca juga: Usai Dilantik, Popo Ali & Sholehien Siap Jalankan Tugas Sebagai Bupati dan Wakil Bupati OKU Selatan

Baca juga: OKU Selatan Ajukan Kouta 1.676 Orang Pegawai P3K Khusus Guru

Kendati demikian, banyak orang-orang dari luar daerah menganggap antara suku Kisam dan Semende merupakan suku yang sama. Hal itu dikarenakan kemiripan bahasa sehari-hari yang digunakan oleh kedua suku/etnis ini.

Selain beberapa bahasa yang beda, Menurut Fekri Juliansyah Dzurriyaat Pendiri Djagat Besemah (Dzurriyaat ke-24 Puyang Atung Bungsu) sekaligus pemerhati budaya djagat besemah Suku Kisam dan Semende adalah sub rumpun dari Kebudayaan Besemah atau turunan (Jurai) Besemah.

Ia menjelaskan perbedaan mendasar Suku Kisam dan Semende terletak pada adat budaya tunggu tubang atau pewaris kekuasan dalam sebuah keluarga.

Baca juga: Pelaku UMKM di Danau Ranau Menjerit Objek Wisata di OKU Selatan Ditutup, Ada yang Rumahkan Pegawai

"Kalau suku Semende Tunggu Tubang berada pada anak perempuan tertua, sedangkan pada suku Kisam yang menjadi Tunggu Tubang adalah anak laki laki sebagaimana budaya dan Adat di Besemah (Pagaralam kini),"ujar Fekri.

Lebih lanjut, pria yang kerap dipanggil tuan guru itu menceritakan, Adat Semende dibuat di Perdipe pada tahun 1650 Masehi.

"Suku Semende dan Kisam di OKU Selatan adalah perpindahan dari Jurai Besemah baik yg berasal dari Pagaralam dan Lahat (Tanah Besemah) maupun pindahan dari eks Marga Semende Darat di Wilayah Kabupaten Muaraenim,"tambahnya.

Selain itu penyampaian bahasa atau Logat yang digunakan sehari-hari dari kedua Suku ini. Bahasa Suku Kisam lebih tegas atau dianggap lebih kasar sementara logat bahasa Suku Semende lebih halus.

Kemudian segelintir perbedaan bahasa seperti halnya perbedaan bahasa dari Suku Besemah kata 'Ndiw' = Wah yang diartikan sebagai kata bentuk kekaguman, heran, terkejut dan kecewa atau mengeluh.

Namun dari Suku Kisam, kata 'Ndiw' memiliki arti sebagai menakut-nakuti orang lain.

Sedangkan untuk tutur bahasa yang menunjukan sebagai kata bentuk kekaguman, heran, terkejut dan kecewa menggunakan katan 'Nduk'.

Penulis: Alan Nopriansyah
Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved