Musibah Sriwijaya Air
28 TAHUN Merantau, Nur Kembali ke Kampung Halaman untuk Selamanya,'Takdir Tak Bisa Dilawan'
Jasad penumpang Sriwijaya Air SJ-182, Muhammad Nur Kholifatul Amin berhasil diidentifikasi Tim Disaster Victim Identification (DVI)
SRIPOKU.COM, JAKARTA--Jasad penumpang Sriwijaya Air SJ-182, Muhammad Nur Kholifatul Amin berhasil diidentifikasi Tim Disaster Victim Identification (DVI) pada Jumat (22/1/2021).
Tim DVI berhasil mengidentifikasi jasad Muhammad Nur Kholifatul Amin bersamaan dengan jasad Yumna Fanisyatuzahra, sang pemilik jaket pink Minnie Mouse.
Tercatat, Muhammad Nur Kholifatul Amin bersama istrinya Agus Minarni menjadi penumpang Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu.
Muhammad Nur Kholifatul Amin bersama Agus Winarni pulang kampung ke Ponorogo untuk melayat ayahanda yang meninggal pada Kamis (24/12/2020).
Kenangan menemani sang ibu di Ponorogo serta melayat ayahandanya diceritakan sang adik Nur Kholif, Abdul Hanif Majid Amrullah.
Abdul juga menceritakan sang kakak juga pamit serta memohon doa kepada anaknya.
Muhammad Nur Kholifatul Amin mudik ke kampung halamannya di Desa Ngabar, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo.
“Kakak saya sudah merantau 28 tahun di Kalimantan Barat. Usai mendapatkan kabar ayah meninggal, kakak saya memutuskan pulang kampung bersama istrinya,” kata Hanif dikutip dari Kompas.com.
Korban bersama istrinya tiba di Ponorogo dua hari setelah ayahandanya meninggal, Sabtu (26/12/2020).
Korban bersama istrinya tinggal di Ponorogo selama sembilan hari.
Nur Kholif memilih agak lama tinggal di Ponorogo untuk menemani ibu kandungnya agar tidak kesepian.
Setelah lebih dari seminggu tinggal di Ponorogo, Nur Kholif bersama istrinya diantarkan keluarganya sampai di Madiun, Senin (4/1/2021), untuk pulang ke Kalimantan Barat.
Dari Madiun, Nur Kholif bersama Agus Winarni naik kereta api tujuan Jakarta.
Nur Kholif bersama istrinya memilih langsung menumpang pesawat di Jakarta lantaran tidak menginginkan naik dua kali pesawat bila terbang dari Surabaya.
Sebab, bila terbang dari Bandara Juanda Surabaya, pesawat akan transit terlebih dahulu di Jakarta.
Tak hanya itu, pasutri itu memilih pulang tanggal itu lantaran masa berlaku rapid test antigennya akan segera habis.
Namun, ternyata pilihan naik pesawat berubah harus menggunakan tes swab.
Untuk itu, kakaknya harus menunggu hasil swab-nya keluar selama tiga hari dan baru berangkat pada hari Sabtu.Ia tak mengira kakak kandungnya bakal menjadi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air tersebut.
Sebab, selama ini kakak kandungnya tidak pernah naik pesawat Sriwijaya Air bila kembali ke Kalimantan.Hanif dan keluarganya mendapatkan informasi kakak kandung bersama istrinya menjadi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air selepas shalat maghrib.
Sebelumnya, ia mendapatkan kabar jatuhnya pesawat Sriwijaya dari media sosial di ponselnya, Sabtu (9/1/2021) sore.
Namun, ia tidak memperhatikan lantaran almarhum tidak pernah menumpang pesawat Sriwijaya.
Di mata keluarganya, Nur Kholif merupakan sosok yang taat beribadah dan baik.
Saat berada di dalam pesawat, Nur Kholif sempat menghubungi dua anaknya yang sementara menimba ilmu di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo.
“Sempat pamit kepada anaknya untuk memohon doa agar lancar sampai rumah saat di dalam pesawat,” kata Hanif.
Terbayang Wajah Sang Kakak
Prosesi tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di perairan Kepulauan Seribu telah selesai pada Jumat (22/1/2021).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/nduekk.jpg)