Berita Muara Enim
Terendam Lumpur, Ratusan Batang Karet di Muara Enim Terancam Mati
Ratusan batang karet milik petani di Desa Pagar Dewa, Kecamatan Lubai Ulu, Kabupaten Muara Enim, terancam mati.
Penulis: Ardani Zuhri | Editor: adi kurniawan
SRIPOKU.COM, MUARA ENIM -- Ratusan batang karet milik petani di Desa Pagar Dewa, Kecamatan Lubai Ulu, Kabupaten Muara Enim, terancam mati.
Pasalnya sudah setahun lebih kebun karet mereka diduga tertimbun lumpur dari pengerjaan proyek di Desa Pagar Dewa, Kecamatan Lubai Ulu, Kabupaten Muara Enim, Selasa (19/1/2021).
Petani karet di Kabupaten Muara Enim sedikitnya ada 8 petani yang dirugikan yakni Untung Listiawan (45), Hamzah (38), Herwanto (46), Harahap (60), Tansili (48), Syamsudin (44), Wanda (34) dan Ilham Jufri (40).
Dari pengamatan di lapangan, tampak proyek tersebut dalam pengerjaan yang dikerjakan oleh Main Kontraktor PT Medan Smart Jaya (MSJ) untuk proyek 500 KV dan PT Citramasjaya Teknikmandiri.
Selain itu, terlihat tumpukan tanah bekas land clering tergerus oleh hujan dan mengalir ke kebun milik warga setinggi 30-50 cm terutama yang berada di sekitar proyek sehingga menyebabkan getah karet sedikit produksi dan sebagian ada yang mati.
Baca juga: Hati-hati Tak Pakai Masker Diminta Putar balik, Satgas Covid-19 PALI Gencar Gelar Operasi Yustisi
Baca juga: Musnahkan Ratusan Knalpot Bising, Cara Polrestabes Palembang atasi Keresahan Masyarakat di Jalanan
Menurut salah seorang petani karet Untung Listiawan (45) dan Hamzah (38) bahwa kebun karet milik mereka terendam lumpur dari pengerjaan proyek sekitar setahun yang lalu.
Permasalahan ini sudah mereka sampaikan ke pihak perusahaan, namun sampai sekarang belum ada tindaklanjutnya.
Keinginan kami permasalahan ini ada solusinya seperti batang karet kami yang tidak berproduksi dan mati.
"Kami ingin ada kejelasan ganti rugi, jangan kami digantung, kami mau makan," tegas Untung.
Ditambahkan Perwakilan Delapan Petani Karet Desa Pagar Dewa, Hendra Aladi AMd, bahwa lahan tersebut seluas 58 hektar berada di lahan eks PTPN VII.
Dahulu ada lima titik danau dilahan proyek tersebut tempat kantong air, tetapi sekarang sudah ditimbun sehingga ketika hujan tanah timbunan tersebut tergerus dan mengalir ke kebun karet milik warga dan ke anak Sungai Sinar Lubai.
Akibat timbunan tersebut sudah banyak batang karet yang produktif sekitar berumur 13 tahun mati.
"Umur karet sekitar 25 tahun, kalau umur 13 tahun sudah mati berarti masih ada 12 tahun lagi menghasilkan. Jadi kalikan saja kerugian para petani. Karet berproduksi sekitar umur 5-6 tahun," pungkasnya.
Sementara itu, ketika dikonfirmasi ke Pelaksana Proyek MSJ Faisal dan Ardi dari PT Medan SmartJaya
yang didampingi oleh Konsultan Proyek Sofyan, bahwa mereka hanya bekerja.
Mereka hanya mengerjakan proyek.
"Kami tidak bisa berkomentar banyak, kami ada pimpinan yang berhak menjawabnya," jelasnya.
Ditambahkan Sofian, bahwa untuk pelaksaan kontruksi proyek oleh MSJ sudah mencapai 50 persen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/kebun-karet-tergenang-lumpur.jpg)