Amiruddin Nahrawi Ingin NU Jadi Pengayom dan Etalase Besar Keberagaman Paham dan Agama di Indonesia
Dalam beragamnya paham keagamaan di Indonesia, banyak aliran-aliran yang mengklaim bahwa pahamnya saja yang benar, sedang yang lain salah.
Penulis: maya citra rosa | Editor: Sudarwan
Laporan wartawan Sripoku.com, Maya Citra Rosa
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Dalam beragamnya paham keagamaan di Indonesia, banyak aliran-aliran yang mengklaim bahwa pahamnya saja yang benar, sedang yang lain salah.
Ketua Pengurus Nahdatul Ulama (PWNU) Provinsi Sumatera Selatan ( Sumsel ), KH Amiruddin Nahrawi atau akrab disapa Cak Amir mengatakan tentu hal seperti itu harus diselesaikan dengan dialog antar tokoh agama, pemerintah dan tokoh masyarakat.
Baca juga: Deru Hadiri Pengajian Muslimat Nahdatul Umah
Baca juga: 4 Mahasiswa Universitas Nahdatul Ulama Surabaya Sukses Bikin Teh Celup Berbahan Dasar Daun Beluntas
Sehingga terwujudnya tugas Nahdlatul Ulama (NU) untuk mengayomi seluruh keberagaman paham maupun agama yang ada di Indonesia.
NU berperan untuk menjadi etalase besar bagi umat Islam atau pun non Islam.
"Maka dari itulah tugas NU untuk mengayomi dan menjadi etalase besar untuk menaungi semua paham, ormas dan keberagaman tersebut," ujarnya saat ditemui Sripoku.com, Selasa (20/10/2020).
Meski demikian, menurut Staf Khusus Gubernur Sumsel Bidang Hubungan Antar Agama ini, Provinsi Sumsel adalah termasuk wilayah yang tidak ada permasalahan tentang paham keagamaan tersebut.
Sehingga umat Islam di Sumsel dari berbagai paham dan ormas yang ada diminta untuk selalu rukun-rukun saja.
Baca juga: Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj Minta Ketua PWNU Sumsel KH Amiruddin Nahrawi Jaga Sumsel Tetap Aman
Baca juga: Menghadapi Pandemi Covid-19 Fatwa MUI Menjadi Rujukan Umat Islam Berikut Alasannya
"Di Sumsel ini termasuk wilayah yang harmonis dalam keberagaman paham dan keagamaan," ujarnya.
Isu keberagaman paham di Indonesia sendiri memiliki sejarah panjang.
Agama Islam telah mengalami dinamika yang cukup fenomenal baik dalam aspek ideologi, ritual, intelektual, eksperensial maupun dalam gerakan sosialnya disebabkan karena faktor internal dan eksternal.
Faktor internal antara lain disebabkan karena adanya perbedaan penafsiran terhadap pokok-pokok ajaran agama, paradigma pemikiran yang dipergunakan dalam menafsirkan, penekanan pengamalan agama secara ekslusif yang hanya mengakui paham mereka saja yang benar, sedangkan paham lainnya dianggap kafir dan sesat.
Baca juga: Kerukunan Agama di Sumsel Sudah Harga Mati
Sedangkan faktor eksternal adalah pengaruh pemikiran dari luar seperti pemikiran yang dianggap liberal atau literal dalam memahami teks -teks agama, maupun cara merespon terhadap realitas kehidupan yang berkembang saat ini.
Dinamika sebuah pemahaman dan gerakan keagamaan seringkali bersinggungan antara satu dengan yang lain.
Ada kecenderungan untuk bekerjasama atau persaingan bahkan tidak jarang yang kemudian dari persaingan yang tidak sehat tersebut menjurus menjadi konflik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/kh-amiruddin-nahrawi-atau-akrab-disapa-cak-amir.jpg)