Menurut Gatot Nurmantyo Soal UU Cipta Kerja, Mantan Panglima TNI : tak Bermaksud Menjelekkan Negara
Ia kemudian mengambil contoh Singapura yang saat ini sudah mayoritas dikuasai etnis Tionghoa.
"Tapi ini dulu yang kita presentasikan, untuk bangsa dulu," tutur Gatot.
Gatot menegaskan akan keluar dari KAMI jika menjadi partai politik.
Gatot menerangkan KAMI dibentuk dengan tujuan gerakan moral masyarakat Indonesia, terutama untuk terwujudnya keadilan masyarakat Indonesia.
"Saya ulangi bahwa KAMI ini adalah kumpulan orang-orang yang berdasarkan moral."
"Jadi kalau politik itu berjuang untuk berkuasa, kalau KAMI berjuang untuk sebuah nilai," tuturnya.
KAMI tidak akan menjadi partai politik.
Sebab, ucap Gatot, akan mengkhianati masyarakat yang tergabung dalam KAMI.
"Kalau ini menjadi partai, maka saya tegaskan di sini bahwa orang-orang KAMI, deklarator KAMI, presidium KAMI adalah mengkhianati kepercayaan rakyat," paparnya.
Gatot memastikan Presidium KAMI, yakni dirinya dan Din Syamsuddin, akan keluar dari KAMI jika menjadi partai politik.
"Saya ulangi, kalau KAMI ini berubah menjadi partai, catat semua masyarakat, bahwa deklarator apalagi presidium KAMI adalah mengkhianati kepercayaan rakyat yang bergabung dengan KAMI," tutur Gatot.
"Dan yang pertama kali akan ke luar, saya akan keluar, Prof Din akan keluar, pasti itu."
"Karena tujuan KAMI bukan itu, hanya nilai-nilai saja," sambungnya.
Rekam Jejak Gatot Nurmantyo
Dilansir dari wikipedia, Jenderal TNI (Purn.) Gatot Nurmantyo lahir di Tegal, Jawa Tengah, 13 Maret 1960.
Ia adalah mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (2015-2017).
Sebelumnya, Gatot merupakan Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-30 yang mulai menjabat sejak tanggal 25 Juli 2014 setelah ditunjuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menggantikan Jenderal TNI Budiman.
Ia sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) menggantikan Letnan Jenderal TNI Muhammad Munir.