Menurut Gatot Nurmantyo Soal UU Cipta Kerja, Mantan Panglima TNI : tak Bermaksud Menjelekkan Negara

Ia kemudian mengambil contoh Singapura yang saat ini sudah mayoritas dikuasai etnis Tionghoa.

Editor: Fadhila Rahma
surabaya.tribunnews.com/yusron naufal putra
Gatot Nurmantyo saat ditemui di salah satu Masjid di Surabaya, Senin (28/9/2020) 

SRIPOKU.COM - Gatot Nurmantyo diketahui mendukung gerakan buruh menolak UU Cipta Kerja. Ternyata ada banyak hal yang dikhawatirkan Gatot Nurmantyo jika UU Cipta Kerja benar-benar diterapkan. 

Tak sekedar soal pesangon, dan hak cuti pekerja tapi juga ada hal yang lebih serius.

Gatot menyinggung soal bebasnya tenaga kerja asing masuk ke Indonesia yang bisa berakibat pada  'penindasan'secara ekonomi terhadap masyarakat pribumi.

Ia kemudian mengambil contoh Singapura yang saat ini sudah mayoritas dikuasai etnis Tionghoa. 

Hal itu diutarakan Gatot Nurmantyo saat hadir sebagai bintang tamu di Kanal Youtube Karni Ilyas Club.

Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo mengungkapkan kekhawatirannya terkait Omnibus Law Undang-Undang (UU) Cipta Kerja.

Meski ia mengaku belum membaca sepenuhnya isi dari UU yang tengah menjadi polemik tersebut.

Baca juga: Mengkhianati Rakyat, Gatot Nurmantyo Tegas Keluar dari KAMI Andai Berubah jadi Partai Politik: Catat

Baca juga: Gatot Nurmantyo Ungkit Pembicaraan Saat Masih Panglima di Istana Negara: Saya Bukan Dukun

tribunnews

MengenalGatot NurmantyoMantan Panglima TNI yang Disebut Ingin Jadi Presiden Setelah Dirikan KAMI (Tribunnews)

Kekhawatiran tersebut ia rasakan setelah mencoba memposisikan dirinya sebagai buruh atau tenaga kerja.

"Ini kan khawatir yang mendasar," kata Gatot saat wawancara dengan Karni Ilyas dalam tayangan bertajuk Karni Ilyas Club.

Tayangan itu bertajuk "Manuver Jenderal Gatot" yang tayang perdana di kanal Youtube Karni Ilyas Club pada Jumat (16/10/2020).

Terkait dengan tenaga kerja asing, Gatot merisaukan kondisi Indonesia saat ini yang masuk dalam fase bonus demografi di mana jumlah usia kerja produktif mendominasi.

Menurutnya saat ini tenaga kerja di Indonesia belum mampu bersaing mengingat tenaga kerja Indonesia saat ini lebih didominasi oleh tenaga kerja yang tingkat pendidikannya minim.

Selain itu ia juga mengkhawatirkan perbedaan karakteristik tenaga kerja dari asing khususnya China yang ulet dengan tenaga kerja dari Indonesia yang umumnya tidak seulet tenaga kerja China.

"Dalam kondisi banyak tenaga kerja seperti ini, yang belum bisa terpenuhi dan masih ada pengangguran, kalau ada masuk tenaga kerja dari luar, ini kan sulit bersaing," kata Gatot.

Selain itu, ia juga mengkhawatirkan dari sisi keamanan dengan mengambil contoh dari Singapura.

"Justru dari segi keamanan, sangat berbahaya. Saya tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan suatu negara dan sebagainya.

Tapi kita belajar dari pengalaman. Singapura saat menerapkan negara industri, itu kan mengambil tenaga dari China walaupun tanpa bekerja sama dengan China.

Nah, tidak bermaksud apa-apa. Tapi tenaga-tenaga dari China sendiri menikah, bahkan beranak binak segala macam, akhirnya mereka dominan.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved