Gempar Virus Corona, Begini Cara Nenek Moyang Dulu Hadapi Wabah Penyakit

Hampir sebulan lebih masyarakat dunia digemparkan dengan kemunculan virus baru yang disebut dengan virus Corona.

Tayang:
Editor: Yandi Triansyah
Sumber. KITLV
Penderita Kusta di Batak sekitar tahun 1925. Sumber. KITLV 

Praktik pembuangan penderita kusta bahkan masih berlaku di awal abad ke-20 di pedalaman Batak.

Berbeda dengan kusta, cacar tampaknya jauh lebih ditakuti karena menyebabkan tingkat kematian cukup tinggi bagi penderitanya terutama anak-anak.

Di Aceh, Bali, Batak dan Sulawesi, penduduk akan lebih memilih meninggalkan desa selama bertahun tahun jika ada salah penduduknya yang terkena cacar.

Suku Anak Dalam dan Orang Dayak memilih untuk tidak ke dataran rendah dan berada di lingkungan orang asing guna menghindari cacar.

Jikalau harus berinteraksi haruslah dalam jarak jauh.

Penduduk Siulak di Lembah Kerinci menyebut cacar dan campak sebagai "dmam brajo".

Lantaran menurut legendanya penyakit cacar ini pertamakali dibawa ke sana oleh salah seorang Raja dan Pangeran dari Jambi.

Sejarawati Andaya, memang pernah mencatat ada seorang raja dan beberapa pangeran dari Kesultanan Jambi yang meninggal akibat wabah cacar.

Meskipun telah wafat, roh raja ini dipercaya tetap akan menyebarkan penyakitnya ke hulu sungai bila ada suatu larangan yang dilanggar.

Di dunia gaib, roh raja ini disebut sosoknya bersurban putih, berjanggut putih dengan tongkat dan uncang (tas tradisional) yang disandang di bahunya.

Tas itu berisi dua jenis biji yaitu biji kecil yang seperti biji bayam dan biji besar seperti biji jagung.

Sang roh akan menyebarkan bibit yang ada di dalam tasnya itu, bila seseorang terlempar bibit yang kecil maka ia akan terkena campak.

Sekujur tubuhnya akan tumbuh bintil sebesar biji bayam. Dan bila terlempar biji jagung maka akan terkena cacar.

Sekujur tubuhnya akan tumbuh bintil sebesar bii jagung.

Secara tradisional untuk bila cacar dan campak ini mewabah, para dukun terlebih dulu akan meletakkan sirih, pinang dan sesajian untuk meminta roh raja itu tidak mengganggu serta meminta obat dari penyakit yang telah disebarnya itu.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved