Gempar Virus Corona, Begini Cara Nenek Moyang Dulu Hadapi Wabah Penyakit
Hampir sebulan lebih masyarakat dunia digemparkan dengan kemunculan virus baru yang disebut dengan virus Corona.
Catatan paling awal menyebutkan bahwa wabah cacar muncul pertama kali di Ternate dan Ambon sekitar tahun 1558.
Setelah itu merebak di Batavia pada tahun 1644.
Banyak para ahli menduga virus ini dibawa tanpa sengaja oleh orang Eropa yang berdagang di sana.
Di masa itu, cacar bisa sangat membunuh karena belum ada obat atau vaksin yang mampu mengobatinya.
Selain cacar, wabah kusta atau lepra juga sangat ditakuti.
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini dapat menyebabkan borok di tubuh hingga kecacatan fisik pada penderitanya.
Keterbatasan ilmu kedokteran di masa lalu mengakibatkan para penderita wabah tidak tertangani bahkan sebagian besar mereka dikucilkan, dibiarkan menderita hingga sampai ajal.
Ketika wabah maut hitam melanda Eropa, banyak di antara penderitanya yang dibuang oleh keluarga dan dikucilkan oleh masyarakat, lantaran takut tertular.
Kurangnya pengetahuan terhadap ilmu kedokteran, menyebabkan mereka lebih mengandalkan kekuatan magis untuk pengobatan.
Mereka percaya bahwa wabah itu disebabkan oleh kemarahan Tuhan, roh jahat dan lain sebagainya.
Hal serupa juga terjadi di Nusantara, kebanyakan penderita kusta akan dikucilkan atau dibuang dari kampung oleh keluarganya.
Di akhir abad 19, Veth mencatat bahwa penderita Kusta di pedalaman Jambi akan dibuang ke hutan atau gunung oleh keluarganya.
Mereka dibekali dengan rokok, tembakau, kemenyan, bekal makanan dan batu pemantik api untuk memohon kesembuhan dari roh gunung.
Selain dengan cara itu, mereka akan dibuatkan pondok-pondok kecil jauh dari kampung sebagai tempat tinggal mereka.
Pihak keluarga akan secara bergantian menghantarkan makanan untuk mereka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/sumber-kitlv.jpg)